Remah Harian

FAMILIARITY BREEDS CONTEMPT

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Jumat, 4 Agustus 2023. Peringatan St. Yohanes Maria Vianney
Bacaan: m. 23:1,4-11,15-16,27,34b-37Mzm. 81:3-4,5-6ab,10-11abMat. 13:54-58

Bukankah Ia ini anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dan bukankah saudara-saudara-Nya perempuan semuanya ada bersama kita? Jadi dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka: “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.”

(Mat 13: 55 – 57)

Seorang pemimpin agama berceramah dengan penuh kebencian di depan umatnya: “Situasi Indonesia sekarang ini mengalami krisis dalam banyak aspek, siapa tuh orangnya yang pilih tukang kayu jadi presiden?”

Apa salahnya jika seorang tukang kayu mampu memimpin negara besar seperti Indonesia? Apakah pekerjaan seseorang membuatnya tidak pantas menjadi pemimpin negara sebesar Indonesia? Apakah pekerjaan sebagai tukang kayu itu jelek dan hina? Apakah derajat dan martabat seseorang itu ditentukan oleh profesinya? Bukankah semua manusia itu adalah gambar Allah sendiri?

Pernyataan yang meremehkan itu juga diterima oleh Yesus sendiri. Ia pulang kampung. Kemudian Ia mengajar di rumah ibadat dan orang yang mendengar Dia takjub. Tetapi rasa takjub mereka itu justru melahirkan tanggapan yang meremehkan: Bukankah Dia ini si tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Lho koq hebat bener Dia? Dari mana Dia peroleh hikmat? Dari mana Dia dapat membuat mukjizat-mukjizat itu?

Di mata orang-orang Nazaret, bagaimana mungkin seorang yang lahir dari seorang tukang kayu dapat memperoleh kebijaksanaan yang luar biasa seperti itu? Terlebih lagi, bagaimana mungkin seorang tukang yang mungkin sibuk dengan pekerjaannya dapat memperoleh kebijaksanaan seperti itu? Lalu mereka menolak Dia.

Permenungan kita ini menghantar kita pada dua sisi yang pantas kita garis bawahi untuk pembelanjaran kita. Pertama, sikap kita terhadap orang lain. Apakah saya terbuka, hormat, dan menerima orang lain dengan cinta yang besar, siapapun itu? Atau cenderung mengkotak-kotakkan dalam kategori-kategori tertentu?

Kedua, tugas kita di tengah dunia. Siapapun kita, apapun profesi kita, apapun latar belakang sosial, budaya, pendidikan, dll yang kita miliki, kita diutus menjadi nabi. Seperti Yesus hadir bagi orang-orang Nazaret, apapun tanggapan mereka, “mereka akan mengetahui bahwa seorang nabi ada di tengah-tengah mereka,” (Yeh 2: 5). Siapkah anda?

Ada ungkapan “familiarity breeds contempt”. Jika Anda mengenal seseorang atau situasi dengan sangat baik, Anda dapat dengan mudah kehilangan rasa hormat kepada orang tersebut atau menjadi ceroboh dalam situasi tersebut. Paling sulit menjadi nabi di tengah orang-orang yang mengenal anda secara dalam. Dan lebih sulit lagi, menjadi nabi untuk diri sendiri!

St. Yohanes Maria Vianney (8 Mei 1786 – 4 Agustus 1859) adalah pastor dari Ars di Perancis. Kebesaran-Nya bukan terletak pada prestasi akademisnya atau dalam kemampuan administrasinya, tetapi dalam kekudusan dan dedikasinya untuk merawat jiwa-jiwa. Karena ia tidak cemerlang secara intelektual, maka ia ditempatkan di sebuah paroki desa yang terpencil. Supaya tidak memalukan! Suatu saat ia disamakan dengan seekor keledai. Tetapi dengan berseloroh ia menjawab, “Jika Samson dapat menumpas bangsa Filstin hanya dengan rahang keledai, apa yang dapat Tuhan buat dengan seekor keledai utuh ini?”

Tetapi segera, orang menemukan mutiara berharga yang tersembuyi di Ars. Hidup Yohanes Maria Vianney dicurahkan untuk keselamatan jiwa-jiwa. Dia menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendengarkan pengakuan. Dia juga mencurahkan energinya untuk berkhotbah dan mengajar katekismus. Tuhan menggunakan imam yang suci ini, yang dianggap bodoh, untuk membangkitkan banyak pertobatan yang luar biasa.

Mari kita berdoa untuk semua imam. Semoga mereka memiliki kekudusan hidup St. Yohanes Marie Vianney, memusatkan hidup mereka pada Allah, dan bukan pada diri sendiri. Semoga St Yohanes Maria Vianney berdoa bagi ribuan imam yang dalam kesenyapan dan kesendirian dengan tekun melayani umat, mendengarkan masalah mereka, menjadi saluran pengampunan Allah, dan memberi mereka “makan” dengan ajaran dan teladan Kristus.

Tuhan yang terkasih, ampunilah aku atas saat-saat aku menghakimi orang lain. Amin.

Author

Write A Comment