Remah Harian

DOSA TAK TERAMPUNI?

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Sabtu, 15 Oktober 2022, Peringatan St. Theresia dari Yesus
Bacaan: Ef. 1:15-23Mzm. 8:2-3a,4-5,6-7Luk. 12:8-12

“Setiap orang yang mengatakan sesuatu melawan Anak Manusia, ia akan diampuni; tetapi barangsiapa menghujat Roh Kudus, ia tidak akan diampuni.”

(Luk 12: 10)

Tidak akan diampuni? Bukankah Tuhan Maharahim dan Mahapengampun? Bahkan Kitab Yesaya 1:18-20 menuliskan bahwa sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba. Jadi, jika bertobat pasti diampuni. Mengapa tidak diampuni?

Yang menyebabkan dosa tidak akan diampuni adalah jika menentang (menghujat) Roh Kudus. Menentang sama dengan menghujat, artinya tidak menerima karya Roh Kudus secara berulang-ulang, sengaja dan terus menerus dan orang tersebut mengeraskan hati, sehingga suara Roh Kudus tidak lagi dapat didengar oleh orang tersebut.

Katekismus Gereja Katolik No. 1864 mengatakan:

“Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus”, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, tetapi bersalah karena berbuat dosa kekal” (Mrk 3:29). Kerahiman Allah tidak mengenal batas; tetapi siapa yang dengan sengaja tidak bersedia menerima kerahiman Allah melalui penyesalan, ia menolak pengampunan dosa-dosanya dan keselamatan yang ditawarkan oleh Roh Kudus.  Ketegaran hati semacam itu dapat menyebabkan sikap yang tidak bersedia bertobat sampai pada saat kematian dan dapat menyebabkan kemusnahan abadi.”

Secara prinsip dosa adalah suatu kesalahan yang membelokkan manusia dari tujuan akhir, yaitu persatuan dengan Tuhan. Semakin parah suatu dosa, maka pembelokannya terhadap tujuan akhir akan semakin besar. Dan dosa menghujat Roh Kudus, adalah suatu pembelokan yang benar-benar bertentangan dengan tujuan akhir.

Perwujudan dari dosa ini ada dua macam:

Pertama, keputusasaan karena meragukan kasih Allah (despair). Keputusasaan melawan kebijaksanaan ilahi harapan (hope), di mana harapan ini diperlukan untuk percaya akan janji Allah tentang kehidupan kekal di surga. Keputusasaan sebenarnya memberikan tuduhan yang tidak benar akan Allah yang sebenarnya maha pengampun dan maha kasih. Dengan demikian seseorang yang putusasa akan beranggapan bahwa dosanya lebih besar dari kasih Allah. Oleh karena itu, orang ini dapat melakukan apa saja yang melawan Allah, dengan anggapan bahwa dia tidak mungkin mendapatkan kasih Allah.

Kedua, anggapan yang salah tentang keadilan Allah (sin of presumption). Dosa ini adalah dosa melawan Roh Kudus, yang bertolak belakang dengan dosa keputusasaan. Dengan anggapan itu seseorang percaya akan janji Allah tentang Surga, tetapi menyalahi Allah yang sebenarnya Maha Adil, sehingga ia berpikir bahwa ia dapat mencapai surga dengan caranya sendiri tanpa mempedulikan bahwa Allah menghendaki pertobatan dan bahwa ada konsekuensi dari dosa/kesalahan yang diperbuat olehnya.

Orang seperti ini menempatkan anggapannya sendiri lebih tinggi dari pada hukum Tuhan. Dia juga berpikir bahwa dia dapat terlepas dari hukuman Tuhan walaupun dia berdosa. Oleh karena itu, pertobatan yang membawa kepada kebahagiaan kekal, menjadi suatu yang sulit sekali dilakukan, sebab orang ini tidak melihat bahwa pertobatan itu diperlukan. Dan akhirnya orang ini juga dapat terjebak untuk tidak mengakui adanya hukum moral dan kebenaran yang bersumber dari Tuhan. Oleh karena itu orang ini sulit diselamatkan, karena menolak kebenaran berarti menolak Tuhan, sumber dari kebenaran atau kebenaran itu sendiri.

Mari kita belajar dari orang kudus kita hari ini, St. Theresia dari Ávila. Ketimbang menolak kerahiman Allah atau merasa mampu mengejar keselamatan dengan cara sendiri dan atas usaha sendiri, kita dengan rendah hati mengakui ketergantungan kita pada Allah. Salah satu ungkapan terkenal dari St. Thersia dari Avila adalah: “Sólo Dios basta.”

“Sólo Dios basta!” Allah saja cukup. Kalimat ini berasal dari paragraf pertama puisi St. Theresia Avila yang berbunyi:

“Nada te turbe, nada te espante, todo se pasa, Dios no se muda; la paciencia todo lo alcanza; quien a Dios tiene nada le falta: Sólo Dios basta.”

“Jangan membiarkan sesuatu apa pun mengganggumu, Jangan membiarkan sesuatu apapun menakut-nakutimu. Segala sesuatu akan berlalu: Allah tidak pernah berubah, kesabaran memperoleh segalanya. Siapa saja yang memiliki Allah tak akan merasa kekurangan. Allah saja sudah cukup.”

Author

Write A Comment