Sabda Hidup
Selasa, 28 Februari 2023, Selasa Pekan Prapaskah I
Bacaan: Yes. 55:10-11; Mzm. 34:4-5,6-7,16-17,18-19; Mat. 6:7-15.
“Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.”
(Mat 6: 9 – 13).
Bagaimanakah anda berdoa? Doa yang sejati tidak mencoba untuk memaksa Tuhan. Doa yang diajarkan oleh Yesus adalah contoh terbaik. Kita berdoa pertama-tama untuk “urusan” Allah agar Kerajaan-Nya datang dan bertumbuh, serta kasih-Nya menguasai seluruh alam semesta. Kita berdoa agar kehendak-Nya terlaksana, bukan kehendak kita. Søren Kierkegaard berkata: “Doa tidak mengubah Tuhan, tetapi mengubah orang yang berdoa.”
Setelah semuanya itu barulah kita dapat menyampaikan permohonan sederhana kita, makanan, rejeki yang secukupnya, pengampunan atas dosa-dosa kita karena kita telah mengampuni orang lain sehingga Kerajaan-Nya dapat tumbuh dalam diri kita. Untuk masa depan kita, kita meminta perlindungan dari jerat si jahat yang berusaha terus-menerus untuk menjauhkan kita dari Kerajaan-Nya.
Doa yang sejati berkaitan dengan Allah, bukan dengan “saya”. Doa sejati mengarah kepada-Nya, bukan mengarah pada diri sendiri. Doa sejati mengubah saya.
Akhirnya, apa yang dikatakan oleh seorang penulis ini patut menjadi permenungan kita:
“Anda tidak dapat berdoa Bapa Kami ketika anda sekali saja berkata “Saya”.
Anda tidak dapat berdoa Bapa kami ketika Anda tidak berdoa untuk orang lain.
Sebab saat anda memohon rejeki sehari-hari, anda harus menyertakan sesama anda.
Sebab sesama disertakan dalam setiap permohonan:
dari awal sampai akhir doa itu, tak pernah sekalipun anda berkata “saya.”
Bagaimana anda berdoa?
Bapa di surga, Engkau telah memberiku akal budi untuk mengenal Dikau, kehendak untuk melayani Dikau, dan hati untuk mengasihi Dikau. Kurniakan kepadaku hari ini rahmat dan kekuatan untuk melaksanakan kehendak-Mu dan penuhi hati dan budiku dengan kebanran dan kasih sehingga segala maksud dan tindakanku berkenan kepada-Mu. Bantu aku untuk berbelas kasih dan mengampuni seperti Engkau telah berbelas kasih dan mengampuni aku.
