Remah Harian

Doa Santa Monika

Pinterest LinkedIn Tumblr

Pernahkah anda berdoa memohon sesuatu dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan, tetapi tampaknya Tuhan belum mengabulkan doa anda? Kemudian anda berdoa lagi dengan sungguh-sungguh dan berdoa lagi dan berdoa lagi, tetapi tampaknya belum juga ada tanda-tanda bahwa Tuhan mengabulkan doa anda. Jika anda pernah mengalami hal seperti itu, janganlah berputus asa, bersandarlah tetap kepada Tuhan seperti yang dilakukan oleh Santa Monika. Berpuluh-puluh tahun lamanya ia berdoa, barulah ia melihat bahwa Tuhan menjawab doanya. Jadi janganlah berputus asa, karena Ia punya suatu rencana yang indah untukmu.

Monika dilahirkan pada tahun 331 di Tagaste, Algeria, Afrika Utara dari keluarga Kristen yang taat. Leluhurnya bukan penduduk asli Afrika, melainkan perantauan dari Fenisia.

Monika dinikahkan dengan Patrisius, seorang pegawai tinggi pemerintahan kota. Mereka dikaruniai tiga orang anak: Agustinus, Navigius dan Perpetua (yang kelak memimpin biara). Patrisius seorang kafir yang berperangai buruk. Dia biasa pulang dalam keadaan mabuk setiap malam, suka naik pitam dan sering mentertawakan usaha keras Monika untuk mendidik Agustinus menjadi pemuda Kristiani. Meskipun demikian, Monika tidak pernah membantah ataupun bertengkar dengan suaminya. Tak henti-hentinya ia berdoa agar suami dan puteranya segera bertobat dan menerima Kristus.

Monika menanggung segala pencobaan hidupnya dengan sabar, lemah lembut dan berbelas-kasih. Imannya yang kuat beroleh ganjaran tatkala Patrisius pada akhirnya menerima iman Kristiani dan dibaptis setahun sebelum meninggal dunia pada tahun 371. Bahkan ibu Patrisius pun juga dibaptis.

Agustinus, yang kala ayahnya meninggal dunia adalah seorang pemuda berumur 17 tahun, tidak mau ikut dibaptis. Meski cemerlang dalam studi, perilaku Agustinus yang hidup bersama perempuan, alkohol dan berbagai macam kecanduan, pula terjerumus ke dalam aliran bidaah Manikeisme yang menolak Allah dan mengutamakan rasionalisme, sungguh tak dapat diterima oleh Monika.

Meski tak ada tanda-tanda bahwa doanya dikabulkan Tuhan, Monika dengan setia tetap berdoa untuk Agustinus dengan setiapkali airmata bercucuran dari matanya.

Sahabat, terkadang Allah menunda untuk mengabulkan doa kita, atau bahkan“tidak mengabulkannya” sama sekali. Kita tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Jika Ia menunda, itu karena Ia mengasihi kita dan ingin menguji kepercayaan kita pada-Nya; atau apa yang kita inginkan sebenarnya bukan yang kita butuhkan. Atau, Ia ingin mengabulkan permohonan kita atas cara yang jauh melampaui harapan kita.

Santa Monika terus menerus berdoa untuk pertobatan suami dan puteranya. Doanya tidak serta merta dikabulkan dan Tuhan memberikan jauh melebihi yang ia harapkan. Hanya sesudah 30 tahun doanya dikabulkan. Suaminya bertobat.  Dan hanya setelah 33 tahun ia berdoa dengan bercucuran air mata, Tuhan menjawab doanya bagi puteranya, Agustinus. Allah menghendaki lebih dari sekedar pertobatan, Ia menghendaki Agustinus menjadi seorang imam, dan kemudian menjadi seorang uskup, bahkan menjadi seorang pujangga Gereja, seorang santo yang besar…. Untuk itu Tuhan memerlukan doa bukan hanya seminggu dua minggu tapi bertahun-tahun.

Ketika kita bertekun dalam doa, itu tidak berarti bahwa Tuhan perlu diingatkan akan kebutuhan kita; doa dengan tekun tidak berarti bahwa kita dapat mengubah rencana-Nya. Namun, dengan bertekun dalam doa kita menjadi lebih arif memahami rencana-Nya dan bertumbuh dalam kepercayaan kita sebagai anak-anak-Nya. Dengan itu kita akan mampu melihat bahwa apa saja yang datang dari tangan-Nya adalah untuk kebaikan kita.

Bagaimanakah dengan anda? Apakah anda cepat menyerah dan berpikir bahwa Tuhan tidak mendengarkan doa anda? Atau anda terbuka terhadap apa saja yang Ia kehendaki, terhadap segala rencana-Nya melalui doa-doa kita yang kita lakukan dengan tekun?

St. Monika, doakanlah kami.

Bacaan hari ini: 2Tes. 1:1-5,11b-12Mzm. 96:1-2a,2b-3,4-5; Injil Khusus Luk. 7:11-17, atau Sir. 26:1-4,16-21Mzm. 131:1,2,3Luk. 7:11-17.

Author

Write A Comment