Sabda Hidup
Minggu, 10 September 2023, Minggu Biasa XXIII Tahun A
Bacaan: Yeh. 33:7-9; Mzm. 95:1-2,6-7,8-9; Rm. 13:8-10; Mat. 18:15-20.
Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”
(MAT 18: 15 – 20)
Saya pernah membaca sebuah cerita yang menarik. Kisah itu menceritakan bahwa di kepulauan Salomon, di bagian selatan kepulauan pasifik, orang-orang di pedalaman mempunyak cara yang unik untuk menebang pohon. Jika pohon itu terlalu besar, dan mereka kesulitan menebangnya dengan kapak, maka orang-orang itu merobohkan pohon itu dengan berteriak kepadanya. Jadi orang-orang tertentu, yang dipercaya mempunyai kekuatan, memanjat pohon itu dan berteriak sekeras-kerasnya kepada pohon itu. Itu dilakukan selama 30 hari, dan pohon itu akan perlahan mati dan roboh, tidak perlu ditebang dengan kapak. Mereka percaya, bahwa berteriak kepada pohon itu akan membunuh roh pohon tersebut. Dan mereka percaya bahwa cara itu berhasil.
Kita mungkin menebang pohon tidak memakai kapak lagi tetapi memakai chain-saw. Dengan chain-saw sebuah pohon besar bisa ditebang dalam waktu 5 menit! Kita memang tidak berteriak-teriak kepada pohon, tetapi kita berteriak-teriak kepada mesin potong rumput yang macet, berteriak kepada sepeda motor yang mogok, berteriak di tengah kemacetan jalan, dan berteriak kepada sesama. Menggonggong seperti guguk. Ketika orang lain menurut pendapat kita berbuat salah, kita berteriak. Di mana saja, entah di rumah, di kantor, di jalan, di telepon…. kita berteriak. Bukan cuma berteriak, tetapi mengumpat dan memaki.
Injil hari ini memberikan pedoman bagaimana kita menegur saudara atau saudari kita yang bersalah. Injil berkata: “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat,” (Mat 18: 15). Injil berbicara tentang correctio fraterna, koreksi persaudaraan.
Dalam kehidupan komunitas kami, sejak saya masih di Seminari Menengah, ada yang disebut dengan correctio fraterna. Kami berkumpul di kapel, masing-masing memegang potongan kertas sejumlah kami semua, dan ballpen. Lalu masing-masing, bergiliran tampil di depan kami semua, dan kami masing-masing menulis, hal-hal positif apa yang dimiliki oleh teman yang tampil di depan, dan apa saja yang perlu dikoreksi/diperbaiki. Dengan itu kami memberikan koreksi persaudaraan satu sama lain. Betapa kayanya kami, mendapat masukan dari banyak orang, sebanyak jumlah kami di komunitas.
Perikope Injil hari ini, jika kita perhatikan dengan seksama, dapat dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama tentang menegur saudara (correctio fraterna – koreksi persaudaraan). Bagian kedua berbicara tentang doa bersama-sama. Tuhan juga berkata bahwa Ia akan mengabulkan apa yang mereka minta.
Saya tergelitik untuk bertanya, mengapa penginjil Matius menempatkan koreksi persaudaraan sebelum doa bersama? Atau kalau dibalik pertanyaannya, mengapa setelah berbicara tentang koreksi persaudaraan Tuhan berbicara tentang doa bersama-sama? Saya kira pesan Injil sangat jelas bagi kita. Aspek paling penting dari koreksi persaudaraan atau cara koreksi persaudaraan yang paling efektif adalah mendoakan orang yang perlu kita koreksi.
Dalam pengalaman, ada banyak dosa yang dilakukan atas nama koreksi persaudaraan. Ada banyak pribadi yang dipojokkan atas nama kritik yang konstruktif. Tetapi berapa banyak dari kita yang berdoa bagi orang yang ingin kita koreksi?
Jika anda melihat kesalahan pada diri seseorang, biasanya yang pertama kali kita lakukan adalah marah kepada orang tersebut. Anda mungkin mencoba untuk mengontrol kemarahan anda, tetapi kalau tidak bisa, anda berteriak atau memaki padanya. Jika anda dapat mengontrol kemarahan dan tidak berteriak atau memakinya, kemungkinan besar, anda akan membicarakan hal itu kepada orang lain. Apalagi dengan gampang kita “bicarakan” itu melalui Whatsapp, Telegram, Messenger, DM, SMS, dsb. Dan…. mulailah gossip beredar. Tindakan anda menjadi gossip karena anda tidak berbicara dengan orang yang membuat kesalahan, entah apa alasannya, mungkin takut, atau sungkan, sehingga anda ceritakan hal itu kepada orang lain.
Pernahkah terpikirkan oleh anda, jika seseorang membuat kesalahan terhadap anda, dan kemudian orang pertama yang anda ajak bicara itu bukan orang yang berbuat kesalahan, tetapi orang pertama yang anda ajak bicara adalah Tuhan? Tentu saja, mendoakannya saja tanpa menyampaikan kepada yang bersangkutan, belum tentu teguran kita efektif.
Jika seseorang menyinggung anda, jika seseorang menyakiti hati anda, jika seseorang perlu dikoreksi, bicarakan dengan Tuhan tentang saudara atau saudari tersebut. Jika seseorang perlu dikritik, pertama-tama, bicarakan dengan Tuhan apa kritik yang ingin anda sampaikan. Baru kemudian disampaikan kepada yang bersangkutan.
Cara effektif untuk mengoreksi orang lain, selain meyampaikan secara langsung, adalah melalui doa. Kita harus menyadari bahwa tidak hanya kata-kata baik dan bagus dari kita yang mengubah hati, bukan hanya kata-kata indah kita yang mengubah orang, tetapi pertama-tama yang mengubah orang adalah rahmat Tuhan. Hanya Tuhan yang dapat mengubah orang. Hanya rahmat Tuhan yang membuat hati bertobat, bukan kita. Itulah sebabnya, doa adalah sangat penting, sarana paling vital dalam koreksi persaudaraan.
Mari kita berdoa saat ini bagi orang-orang yang ingin kita koreksi. Kita akan berdoa hari ini bagi orang yang perlu kita kritik. Dan kita bawa mereka ke hadapan Tuhan.
Tuhan, aku tidak tahu bagaimana aku harus mengatakannya, tapi aku hanya ingin mengatakan kepada-Mu. Aku ingin marah. Aku ingin menegur, mengkritik, mengoreksi. Bantulah aku untuk melakukannya. Aku serahkan semuanya, aku bawa ke hadapan-Mu, sahabat-sahabatku, atasanku, bawahanku, saudaraku, saudariku, orang-tuaku, mertuaku, anak-anakku, istriku, suamiku, Pastor Parokiku, saudara sekomunitasku…..
