Remah Harian

DINYATAKAN KEPADA ORANG KECIL

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Selasa, 5 Desember 2023, Selasa Pekan Advent I
Bacaan: Yes. 11:1-10Mzm. 72:2,7-8,12-13,17Luk. 10:21-24

(Luk 10: 21)

Kita sering kali terkesan dengan orang-orang yang bergelar berderet-deret. Kita percaya bahwa mereka pintar, bijaksana. Namun dalam keseharian, sering kali kita jumpai orang-orang bijak di antara orang-orang sederhana yang SD atau SMP saja tidak lulus.

Sabda Yesus hari ini agak membingungkan. “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu.” Apa yang dimaksud oleh Yesus? Apakah Bapa pilih kasih dalam mewahyukan diri-Nya? Tidakkah Bapa bertindak tidak adil dengan menyembunyikan wahyu-Nya kepada sekelompok orang, yaitu para bijak dan pandai? Mengapa Ia mengutamakan orang kecil? Bukankah Ia memiliki kasih yang sama kepada semua anak-anak-Nya?

Itu semua adalah pertanyaan yang sah, tetapi itu adalah hasil dari penafsiran yang terlalu harfiah terhadap perkataan Yesus. Di sini Yesus menggunakan cara berbicara dalam bahasa Ibrani. Orang Yahudi yakin bahwa segala sesuatu bergantung pada Tuhan. Mereka menempatkan Allah sebagai penyebab, meski pada kenyataannya hanyalah konsekuensi dari pilihan bebas manusia. Dalam hal ini, para bijak dan pandai dengan bebas memutuskan bahwa mereka tidak tertarik untuk belajar tentang Tuhan, sedangkan orang-orang sederhana tertarik. Maka, dengan cara yang ringkas untuk menggambarkan hal ini, Yesus mengatakan bahwa Allah menyembunyikan rahasia-Nya dari beberapa orang dan mengungkapkannya kepada orang lain. Namun, Yesus hanya menggambarkan pilihan bebas manusia dengan sebuah ungkapan Ibrani.

Dalam beberapa terjemahan juga tertulis: “anak kecil” bukan “orang kecil”. Dari pengertian ini, kita juga dapat mengatakan bahwa yang dimaksudkan oleh Yesus adalah bahwa Allah menyatakan diri-Nya bagi siapa saja yang hatinya terbuka dan rendah hati, yang mempunyai kesederhanaan seperti anak kecil.

Jadi, apakah anda dan saya “orang-orang bijak dan pandai” atau “seperti anak kecil” yang dengen bebas membuka hati bagi-Nya? Mana yang lebih menggambarkan diri anda? Tentu tidak ada salahnya menjadi orang bijak dan pandai. Yang menjadi masalah adalah ketika kita menjadi sombong dan tinggi hati, merasa tahu segala-galanya. Idealnya adalah terbuka untuk belajar dengan rendah hati. Sikap ini menjadi penting, khususnya saat kita memasuki masa Advent. Advent adalah saat dimana iman seperti anak kecil dan keterbukaan diperlukan untuk memasuki misteri inkarnasi. Tanpa kerendahan hati dan keterbukaan kita tidak dapat menyelami anugerah yang mengagumkan di Hari Natal nanti, saat Yang Mahatinggi, mewahyukan diri-Nya dalam diri seorang bayi miskin di palungan.

Tuhan, semoga aku selalu membuka hati untuk-Mu. Amin.

Author

Write A Comment