Remah Mingguan

DIMENSI SOSIAL EKARISTI

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Minggu, 23 April 2023, Minggu Paskah III Tahun A
Bacaan: Kis. 2:14,22-33Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,111Ptr. 1:17-21Luk. 24:13-35.

Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain: “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?” Lalu bangunlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu. Mereka sedang berkumpul bersama-sama dengan teman-teman mereka. Kata mereka itu: “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.” Lalu kedua orang itupun menceriterakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenal Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti.”

(Luk 24: 30 – 35)

Seorang dosen di seminari sedang memberikan kuliah homiletika. Dia sedang menjelaskan tentang pentingnya menggunakan ekspresi wajah untuk menyampaikan perasaan ketika berkhotbah. Ia sedang mengevaluasi seorang frater yang baru saja praktek berkotbah. “Ketika Anda berbicara tentang surga,” katanya, “biarkan wajah Anda bercahaya dan disinari dengan cahaya surgawi. Tetapi ketika Anda berbicara tentang neraka, ya sudahlah wajahmu sudah kelihatan seperti neraka…..”

Wajah kedua murid yang sedang berjalan menuju desa Emaus, mungkin amat muram, kelam, mencerminkan kesedihan dan kekecewaan yang sangat dalam atas kematian Yesus yang tragis.

“Padahal kami dahulu mengharapkan, bahwa Dialah yang datang untuk membebaskan bangsa Israel.” kata mereka (Luk. 24:21). Untungnya, kisah ini tidak berakhir di situ. Perjumpaan “terselubung” dengan Kristus yang Bangkit membuat mereka melihat kehidupan dalam cahaya yang baru. Keraguan mereka dihilangkan dalam pemecahan roti saat mereka mengenali Dia. “Bukankah hati kita menyala-nyala ketika Ia berbicara kepada kita di jalan?”

Perjumpaan di Emaus adalah salah satu penampakan pasca kebangkitan yang bertujuan untuk menegaskan bahwa Yesus benar-benar telah bangkit dari kematian.

Bagi kita, pengalaman di Emaus bukan hanya sebuah peristiwa masa lalu yang sudah lama berlalu. Kristus yang Bangkit terus berjumpa dengan kita – kali ini melalui Kitab Suci (Sabda Allah) dan pemecahan roti (Ekaristi), yang mana dua bagian ini membentuk Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi dalam Misa Kudus.

Perjumpaan dengan Tuhan dalam Sabda-Nya dan Ekaristi, bagaimanapun juga, bukanlah sekadar sebuah pengalaman pribadi atau sebuah hubungan empat mata dengan Tuhan. Seperti para murid di Emaus, yang kemudian bergabung dengan para murid lainnya untuk mewartakan Kabar Baik, kita juga harus melakukan hal yang sama. Inilah dimensi SOSIAL dari iman kita.

Hal ini perlu ditekankan karena banyak orang Kristen yang berpikir bahwa dengan menghadiri Misa atau menerima komuni saja sudah cukup untuk membuat mereka menjadi orang Kristen yang baik.

Sayangnya, banyak orang yang melupakan sifat sosial dari iman dalam “pemecahan roti” (Misa). Banyak orang, misalnya, menerima Komuni dengan harapan untuk menjadi lebih suci, tanpa menyadari bahwa “menjadi lebih suci” berarti menjadi lebih ramah, lebih jujur, lebih mudah didekati, lebih murah hati dalam berbagi waktu, harta, dan bakat mereka.

Ekaristi bukanlah sebuah ritual memperbaiki diri sendiri secara cepat yang bekerja secara otomatis. Ya, memang Ekaristi bekerja untuk kita, tetapi hanya jika kita menerjemahkan apa yang kita doakan dalam Misa ke dalam tindakan.

Bagaimana penghayatan saya saat menghadiri Ekaristi? Apa yang saya cari saat menghadiri Misa? Homili yang lucu seperti stand-up comedy? Lagu-lagu yang menghanyutkan kalbu? Atau Kehadiran Kristus yang menghidupkan?

Tuhan Yesus Kristus, bukalah mata hatiku untuk mengenali kehadiran-Mu bersamaku dan untuk memahami kebenaran firman-Mu yang menyelamatkan. Peliharalah aku dengan firman-Mu yang memberi hidup dan dengan roti kehidupan.

Author

Write A Comment