Sabda Hidup
Sabtu 16 September 2023, Sabtu Pekan Biasa XXIII, Peringatan St. Kornelius dan St. Siprianuns
Bacaan: 1Tim. 1:15-17; Mzm. 113:1-2,3-4,5a,6-7; Luk. 6:43-49.
Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan perkataan-Ku serta melakukannya?Aku akan menyatakan kepadamu dengan siapa ia dapat disamakan? Ia sama dengan seorang yang mendirikan rumah: Orang itu menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena rumah itu kokoh dibangun.
(Luk 6: 47 – 48)
Jika dalam Injil Matius Yesus berkotbah di bukit, Lukas menempatkan kotbah Yesus di dataran. Perikope Injil Lukas hari ini adalah bagian dari Kotbah di Dataran tersebut, di mana Yesus mengajarkan kualitas-kualitas para murid yang sejati. Yesus menantang para murid-Nya untuk menghayati hidup yang layak disebut Kristiani.
Dalam salah satu audiensi Paus Fransiskus mengingatkan, bagaimana para murid Kristus harus konsisten dalam menghasilkan buah, sesuai dengan nama yang disandangnya. Paus berkata, “Jika anda ingin agar misi anda berbuah banyak, anda tidak dapat memisahkan misi dari kontemplasi dan dari relasi yang erat dengan Tuhan. Jika anda ingin menjadi saksi, anda tidak dapat berhenti menjadi pendoa.” Perilaku yang baik hanya terjadi jika kita mempunyai kehidupan batin yang sehat yang merupakan buah dari doa dan kontemplasi.
Lebih lanjut Paus menegaskan bahwa seseorang tidak dapat hidup dalam semangat dunia dan berharap untuk melayani Tuhan. Kita harus mengarahkan keberadaan kita atas dasar nilai- nilai Injili untuk menghasilkan buah-buah Injil, membiarkan diri dituntun sepanjang waktu oleh pilihan-pilihan Injili dan oleh hasrat yang kuat untuk “mengikuti Yesus, mencontoh-Nya dalam doa, dalam karya…dan dalam usaha selalu mengarahkan hidup demi kemuliaan Allah dan keselamatan jiwa-jiwa.”
Ketika kita mempunyai hidup batin yang sehat, berakar pada Sabda Allah serta dipupuk dengan kehidupan doa yang dalam, kita menjadi seperti orang yang membangun rumah atas fondasi yang kokoh. Seberapapun kuatnya air bah dan banjir penganiayaan yang menyerang kita, rumah kita yang dibangun atas Kristus, Sang Batu Karang, akan tetap kokoh berdiri. Jika kita gagal dalam mengakarkan diri dalam Sabda dan gagal diperkaya oleh sakramen-sakramen dan doa, rumah iman kita segera roboh dan hebat kerusakannya.
Lukas mengakui bahwa pengejaran dan penganiayaan itu tak terhindarkan bagi mereka yang percaya kepada Yesus dan Injil-Nya. Tetapi bagi seorang Kristen yang dibangun di atas Kristus, tak ada sesuatupun yang harus ditakuti. Kita hidup dalam masa di mana hidup yang dipusatkan pada Kristus selalu diancam dan cemoohan, tidak hanya oleh kekuatan-kekuatan dari luar tetapi juga dari dalam Gereja. Tanpa fondasi kontemplasi akan Sabda Allah dan hidup doa yang dalam, akan dengan mudah kita dihanyutkan oleh banjir materialisme dan individualisme.
Sahabat, kita hidup dalam lingkungan yang berbahaya, bukan karena penganiayaan dan pemenjaraan, tetapi karena tawaran-tawaran menyesatkan di masa kini, yang menjanjikan kebahagiaan dan kesenangan. Warta Injil hari ini amat relevan dengan iman kita. Hidup yang dibangun atas fondasi doa, sakramen dan Sabda Allah akan menghasilkan buah-buah yang baik bagi Kristus.
Tuhan, Engkaulah gunung batu dan kekuatanku. Engkaulah yang menopang aku dalam segala hal dalam hidup ini. Tolonglah aku untuk lebih mengandalkan Engkau, sehingga setiap hari aku dapat menyelesaikan semua yang Engkau kehendaki agar aku lakukan. Amin.
