Sabda Hidup
Sabtu, 28 Januari 2023, Peringatan St. Thomas Aquinas
Bacaan: Ibr. 11: 1-2,8-19; MT Luk. 1:69-70,71-72,73-75; Mrk. 4:35-41
Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.
(Mrk 4: 37 – 39)
Perahu para murid yang diamuk badai sangat cocok dengan pola cuaca buruk Galilea dan perahu nelayan Palestina abad pertama. Danau Galilea dikelilingi dataran tinggi pegunungan. Terdapat kontras antara suhu air yang hangat disebabkan oleh panas matahari pada siang hari dan udara sejuk pada malam hari yang kadang-kadang menyebabkan air danau bergejolak menimbus perahu, bahkan perahu Galilea yang paling kuat sekalipun.
Para murid kemungkinan besar pernah mengalami ketakutan seperti yang digambarkan dalam Injil hari ini lebih dari sekali. Tetapi narasi Markus membawa makna yang jauh lebih dari sekadar laporan tentang badai, bahkan lebih dari sekadar kisah mukjizat yang pernah terjadi. Melalui narasi itu Markus menggambarkan situasi kehidupan Gereja setelah kebangkitan Kristus dan menunjuk pada keilahian Yesus.
Dalam seni dan sastra Mediterania kuno, perahu atau kapal adalah simbol umum bagi komunitas, terutama komunitas yang mengalami goncangan. Ketika kita berada dalam kelompok yang mengalami ancaman bersama, sering kali kita bilang, “Nampaknya kita semua berada di kapal yang sama.” Markus dengan hati-hati mengaitkan episode ini dengan saat-saat Yesus mengajar dengan perumpamaan, di mana Dia berbicara tentang Kerajaan Allah yang digambarkan sebagai benih yang disemai oleh Sang Penabur. Mengikuti ajakan Yesus untuk bertolak ke seberang — yang dalam alur cerita Markus adalah sisi bangsa-bangsa lain — para murid “membawa” Yesus bersama mereka dan badai dahsyat begelora. Meskipun Yesus bersama mereka, fakta bahwa Dia, seperti Yunus, tidur kendati badai bergelora itu, membuat para murid merasa bahwa Dia tidak peduli dengan krisis yang mereka alami. Mereka membangunkan-Nya dan berkata, “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”
Untuk menggambarkan tindakan Yesus Markus memilih kata-kata dengan cermat. Yesus bangun, “menghardik” laut (danau). “Menghardik” persis seperti yang Yesus lakukan terhadap roh jahat di sinagoga di Kapernaum (Mrk 1:25). Itu juga kata-kata dari Mazmur 106:9, yang berbicara tentang YHWH yang menghardik laut Teberau pada peristiwa Keluaran. Perintah untuk diam secara harafiah, “Berhentilah!”— perintah yang sama yang Yesus gunakan untuk mengusir roh-roh jahat (Markus 1:25). Yesus menegur para murid yang kurang beriman dan mereka menjawab dengan kata-kata yang mengakui Yesus lebih dari sekadar seorang guru yang mengantuk: “Siapa gerangan orang ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?”
Pertanyaan para murid itu menghantar kepada warta tentang keilahian Yesus. Berkuasa atas air (dalam chaos) adalah gambaran dari Sang Pencipta dalam Kitab-Kitab orang Ibrani. Lihat, misalnya, kisah penciptaan di Kejadian 1, kitab Yunus, dan Mzm 65:8; 89:10; 107:25-32. (Bagian terakhir ini menggambarkan TUHAN yang menenangkan laut ketika para pelaut ketakutan berseru dalam kesusahan.) Pesan Bacaan Injil hari ini jelas: kuasa Yesus yang menyelamatkan adalah kuasa Sang Pencipta dan TUHAN atas langit, bumi, dan laut . Penebus kita adalah Pencipta kita. Jika dalam kehidupan, kita seolah-olah berada di laut yang bergelora dan perahu kehidupan kita diombang-ambingkan gelombang, tetapi Tuhan tampaknya sedang tidur, JANGAN TAKUT. Kita semua berada dalam kapal yang sama, yang sedang diperhatikan dan dipelihara oleh Dia. Dia yang berkuasa menenangkan badai lautan, berkuasa juga mengatasi badai hidup.
Gusti mboten sare! Tuhan tidak tidur.
