Sabda Hidup
Senin, 21 Agustus 2023, Senin Pekan Biasa XX, Peringatan St. Pius X
Bacaan: Hak. 2:11-19; Mzm. 106:34-35,36-37,39-40,43ab,44; Mat. 19:16-22
Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”
(Mat 19: 21)
Kisah tentang orang yang bertanya kepada Yesus tentang bagaimana memperoleh hidup yang kekal terdapat dalam Injil Matius, Markus, dan Lukas. Tetapi hanya Matius yang menyebutkan bahwa orang yang bertanya itu masih muda. Bahkan dua kali Matius menyebut: “orang muda itu….”
Orang muda biasanya banyak pertanyaan, antara lain pertanyaan tentang nilai dan idealisme dalam hidup. Bahkan pertanyaannya tentang idealisme bukan hanya menyangkut sukses saat ini dan di sini, bukan hanya menyangkut prospek bisnis, atau soal politik dan sosial, tetapi menyangkut hal yang sangat rohani: hidup kekal.
Pertanyaan orang muda ini mengundang kita untuk bermenung; perhatian mereka akan idealisme dan keutamaan membawa kita melampaui pandangan pragmatis belaka… Semoga kita, bersama orang-orang muda tetap semangat mengejar cita-cita, bukan hanya bagi kehidupan yang fana, tetapi juga untuk kehidupan kekal. Semoga idealisme kita juga mencakup soal spiritualitas!
Namun ada sisi lain yang ditunjuk oleh Matius dengan mengatakan: orang muda itu… Yaitu sikap belum dewasa, belum matang, dengan penilaian yang sempit.
Apa tandanya belum dewasa? Pertama, terlalu bangga tentang apa yang dilakukan. Ketika ia diminta untuk menuruti segala perintah Allah, ia berkata: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang?” (Mat 19: 20). Kita acap kali terlalu cepat merasa puas dengan apa yang kita lakukan.
Hal kedua yang menjadi tanda bahwa orang muda yang kaya itu belum dewasa adalah ia hanya melihat tindakan menjual harta miliknya itu sebagai suatu pengorbanan. Sebagai sesuatu yang menyakitkan. Tanda belum dewasa adalah ketika seorang anak menangis ketika ia harus merelakan mainannya…. Orang Kristen yang dewasa memandang tindakan “melepaskan” atau “merelakan” sebagai suatu kesempatan untuk mendapatkan Kristus. Seorang Kristen yang dewasa memandang tindakan melepaskan harta milik itu bukan sebagai pengorbanan, tetapi sebagai kesempatan mengikuti Kristus secara lebih penuh.
Paus Pius X yang kita peringati hari ini, sangat kontras dengan pemuda kaya itu. Sebagai murid Yesus yang setia, ia berturut-turut menjadi imam, uskup Mantua, bapa Gereja Venesia, dan pada tahun 1903 menjadi Paus. Kenaikan jabatannya ditandai dengan kerendahan hati. Ia tidak memiliki pencapaian intelektual maupun pengalaman diplomatik, dan ia memikul tanggung jawab yang berat dengan kesederhanaan, kesalehan, dan keseimbangan. Jika orang muda yang kaya raya dalam Injil hari ini menaati perintah-perintah sejak masa kecilnya namun akhirnya gagal menerima panggilan Yesus, tidak demikian halnya dengan Pius X.
Setia dengan mottonya, “untuk memperbaharui segala sesuatu di dalam Kristus,” Pius X memajukan pembaruan liturgi dan studi Kitab Suci. Jika sekarang anak-anak diperbolehkan untuk menerima Komuni Pertama pada usia tujuh tahun, kita berhutang budi pada Paus Pius X yang menurunkan batas usia tersebut dari 14 tahun. Dia juga memajukan misi Gereja.
Dia meninggal pada tahun 1914, beberapa hari setelah Perang Dunia I pecah. Dalam surat wasiat terakhirnya, ia menulis: “Saya lahir miskin, saya hidup miskin, dan saya ingin mati dalam keadaan miskin.” Jika orang muda yang kaya dalam Injil adalah peringatan bagi kita tentang bahaya kelekatan terhadap kekayaan, maka St. Pius X adalah teladan dan contoh cemerlang kita tentang lepas bebas dan dedikasi.
Sudah dewasakah kita? Tanda kedewasaan antara lain adalah kesadaran bahwa kita belum sempurna…. Maukah kita meninggalkan segalanya untuk mengikuti Kristus? Usaha mengikuti Yesus, tidak untuk ditakar-takar dengan ukuran tertentu. Total, meninggalkan segala-galanya dan mengikuti Dia.
Janganlah aku dibutakan oleh harta benda, ya Tuhan. Berikanlah aku semangat yang sama dengan semangat lepas bebas dan dedikasi hamba-Mu yang setia, Santo Pius X. Amin.
