Remah Mingguan

DARI “HOSANA!” MENJADI “SALIBKAN DIA!”

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Minggu, 28 Maret 2021, Minggu Palma Tahun B

“Orang-orang yang berjalan di depan dan mereka yang mengikuti dari belakang berseru: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!”

(Mrk 11: 9 – 10)

Dalam sepak bola, seorang pemain dipuja-puja ketika ia melakukan sedikit kesalahan dan mencetak goal, membawa tim-nya memenangkan pertandingan. Ia menjadi pujaan para penggemarnya.

Tetapi di lain waktu, ketika ia melakukan banyak kesalahan, tumpul di depan gawang, maka ia dicerca, dibully, bahkan dimaki-maki.

Kita dapat katakan bahwa Yesus juga mengalami situasi yang sama. Tentu saja bukan dalam pertandingan sepak bola. Ketika ia menyembuhkan orang-orang sakit, memberi makan mereka yang lapar, membuat mukjizat, Ia dipenuhi puja dan puji, hingga mereka menginginkan Ia menjadi raja. Ketika Ia masuk Yerusalem, Ia disambut dengan gegap gempita seruan Hosanna!

Tetapi Yesus tahu, bahwa penyambutan-Nya yang gegap gempita tak berumur panjang. Beberapa hari kemudian, seruan hosanna berubah menjadi cercaan, ejekan, caci-maki dan seruan “Salibkan Dia! Salibkan Dia!”

Petrus dan para rasul lainnya yang menyertai Yesus masuk ke Yerusalem, mungkin saja berbunga-bunga hati mereka. Tetapi pada Jumat Agung, ketika mereka menyaksikan Dia diseret dari pengadilan yang satu ke pengadilan yang lain, mereka lari dan bersembunyi. Bahkan Petrus menyangkal Dia. Hanya Yohanes yang menyertai-Nya dengan setia.

Saat ini mungkin banyak orang seperti Petrus dan para rasul lainnya, yang setia kepada Tuhan ketika semuanya berjalan dengan baik. Tetapi ketika kesulitan, penderitaan atau pengorbanan diperlukan, bisa jadi kesetiaan berakhir di situ.

* * *

Ada sebuah cerita tentang seorang Paus yang amat baik, tetapi ia menderita sakit jantung sehingga ia perlu transplantasi jantung.

Kondisi yang memprihatinkan itu diumumkan kepada khalayak yang berkumpul di lapangan St. Petrus. Ketika ditanya, siapa yang rela menjadi donor, dengan semangat mereka mengangkat tangan mereka.

Karena ada begiti banyak orang yang rela menjadi donor, sedangkan yang diperlukan hanya seorang donor, Sekretaris Paus mengumumkan bahwa pemilihan akan dilakukan dengan menjatuhkan sehelai bulu burung merpati dari balkon dan kepada siapa bulu itu jatuh, dia akan mendapat kesempatan istimewa menjadi donor. Maka sehela bulu burung merpati itu dilempar ke udara kemudian perlahan melayang turun.

Akan tetapi setiap kali bulu itu hendak mendarat di kepala orang-orang yang hendak menjadi relawan itu, mereka meniupnya: “huuuf….huuuuf….huuuuf….” Akhirnya bulu itu mendarat di tanah.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita berkomitmen untuk setia tidak hanya kepada Paus. Kita berkomitmen terhadap keluarga, berkomitmen untuk setia pada kaul-kaul, komitmen terhadap nilai-nilai moral seperti kejujuran dan keadilan, komitmen terhadap saudara-saudara yang berkekurangan, dst.

* * *

Pada Minggu Palma, kita memegang daun palma yang sudah diberkati dan dibawa ke rumah. Kita taruh di dinding, diselipkan di salib, ada yang menaruhnya di atas ambang pintu, katanya untuk menolak bala dan roh jahat.

Tetapi lebih tepat jika daun palma itu mengingatkan kita akan kasih dan kesetiaan kita kepada Kristus. Daun palma itu boleh menjadi layu dan kering, tetapi kesetiaan dan komitmen kita tak boleh layu, tak boleh luntur, seperti semangat khalayak yang mengelu-elukan Yesus!

Bacaan Misa hari ini: Pemberkatan daun palma dan perarakan Mrk. 11:1-10 atau Yoh. 12:12-16. Yes. 50:4-7Mzm. 22:8-9,17-18a,19-20,23-24Flp. 2:6-11; Mrk. 14:1-15:47.

Author

Write A Comment