Sabda Hidup
Minggu, 11 Juni 2023, Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus
Bacaan: Ul. 8:2-3,14b-16a; Mzm. 147:12-13,14-15,19-20; 1Kor. 10:16-17; Yoh. 6:51-58.
Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”
(Yoh 6: 51)
Hari ini kita merayakan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, yang secara populer dikenal sebagai Corpus Christi. Pada abad ke-12, Gereja melihat meningkatnya minat untuk devosi yang lebih intens kepada Ekaristi, terutama dengan adorasi, meskipun aspek pengorbanan dan perjamuan tidak dilupakan. Juliana dari Retiennes (1192-1258), seorang biarawati dari Biara Augustinian di Gunung Cornillon dekat Liege di Belgia dan kemudian menjadi seorang prioress, mengungkapkan serangkaian penglihatan yang diberikan kepadanya, yang pertama pada tahun 1208 di mana Tuhan mengungkapkan kerinduan-Nya akan sebuah pesta yang khidmat untuk menghormati Sakramen Mahakudus. Pesta ini diperkenalkan di Liege pada tahun 1246 dan dirayakan pada hari Kamis setelah hari Minggu Hari Raya Tritunggal Yang Mahakudus. Paus Urbanus IV (1261-1264), orang kepercayaan Juliana, memperluas perayaan ini ke Gereja Universal (11 Agustus 1264), dengan bula Transiturus. Ia kemudian memerintahkan St. Thomas Aquinas untuk menyusun Misa dan Ofisi bagi Pesta tersebut. St. Thomas Aquinas menggubah juga kidung-kidung Pange Lingua, Tantum Ergo dan Panis Angelicus. Sekarang kita merayakan Pesta ini pada hari Minggu setelah Hari Raya Tritunggal Mahakudus, bukan pada hari Kamis setelah Hari Raya Tritunggal Mahakudus.
“Di dunia ini aku tidak bisa melihat Putra Allah yang Maha Tinggi dengan mataku sendiri, kecuali melihat Tubuh dan Darah-Nya yang Maha Kudus.” Demikian kata St. Fransiskus Asisi tentang Ekaristi. Kita tidak hanya melihat, tetapi menyentuh, bahkan menyantap-Nya. Ini merupakan anugerah yang sangat istimewa. Dengan menjadi makanan dan minuman kita, kebutuhan yang sangat mendasar kita, Yesus memenuhi janji-Nya untuk selalu beserta kita sampai akhir jaman.
Dengan merayakan Tubuh dan Darah Kristus, kita senantiasa diteguhkan iman kita akan kasih Allah. “Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus adalah sebuah manifestasi Allah, sebuah penegasan bahwa Allah adalah Kasih. Di dalam cara yang unik, Hari Raya ini mengatakan kepada kita tentang Kasih Ilahi, yang adalah Kekal dan dari apa yang diperbuatNya” (Paus Emeritus Benediktus XVI).
Dalam Ekaristi kita menimba kehidupan dari Tuhan Yesus sendiri. Dalam Ekaristi Tuhan “mengambil roti, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ” (Yoh 6:11). Yang diperbuat Yesus bukanlah tindakan ritual semata. Ekaristi adalah ungkapan dari hidup Yesus sendiri yang memberikan diri-Nya kepada manusia lewat pengajaran dan tindakan-tindakan-Nya. Namun yang paling tinggi adalah bahwa Dia memberikan diri-Nya lewat sengsara dan wafatnya di kayu salib yang kesemuanya itu membuahkan penebusan. “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman,” (Yoh 6: 54).
Saat kita berpartisipasi dalam Ekaristi kita serentak menerima dan memberi. Menerima karena dalam ekaristi kita menerima buah-buah sengsara Kristus karena bagi kitalah Yesus menderita, wafat dan bangkit. Namun sekaligus kita juga memberi. Karena Ekaristi akan memurnikan dan menjiwai hidup kita sehingga cara merasa, berpikir dan bertindak kita dijiwai oleh semangat Yesus sendiri. “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia,” (Yoh 6: 56). Ekaristi akan menjiwai kita sehingga kita mengarahkan hidup bukan hanya untuk mengejar kebutuhan-kebutuhan duniawi semata, tetapi bergerak ke arah yang lebih tinggi yaitu hidup yang kekal.
Setiap kita berpartisipasi dalam Ekaristi kita juga harus mewarnai hidup kita dengan hidup yang Ekaristis. Artinya semangat dasar dalam Ekaristi kita hadirkan di dalam hidup yang konkrit. Inti yang kita terima dari Ekaristi adalah semangat pengurbanan diri Yesus. Maka hidup kita pun juga harus diwarnai dengan pengurbanan diri itu. Dalam pengalaman kita, kita jarang diminta oleh Tuhan untuk berkorban secara luar biasa. Biasanya kita dipanggil untuk melakukan hal-hal kecil, yang perlu kita laksanakan dengan setia.
Tetapi, mengapa kita sering kali sulit untuk berkurban? Kita sering berpikir bahwa pengurbanan akan membawa pada penderitaan. Benarkah demikian? Tidak. Pengurbanan yang dilandasi rasa cinta justru akan membawa sukacita. Lihartlah kolam atau danau. Kolam dan danau yang sehat adalah yang menerima aliran dan kemudian mengalirkannya lagi. Danau yang tidak lagi mengalirkan airnya akan menjadi busuk dan berbau. Seperti laut mati. Justru semangat pengurbanan yang dihidupi akan membawa kita kepada kebahagiaan. Kita seperti air yang bening.
Pengurbanan yang tulus akan membawa kepuasan justru karena kita lebih dihargai dan dicintai banyak orang. Pun jika manusia gagal untuk mengapresiasi pengurbanan kita, Tuhan tidak akan melupakan kita.
Semoga Ekaristi yang kita rayakan akan membuat kehidupan bersama kita semakin Ekaristis. Kehidupan Ekaristis ditandai oleh perhatian satu terhadap yang lain. Kehidupan Ekaristis ditandai dengan sikap saling membantu. Kehidupan Ekaristis ditandai dengan semangat berbagi. Kehidupan kita akan ditandai dengan sukacita justru karena kita rela berbagi, karena kita hanya sungguh-sungguh memiliki saat kita mampu berbagi.
“Dalam Ekaristi, kita merenungkan dan menyembah Allah yang penuh kasih. Tuhan yang tidak menghancurkan siapa pun, namun membiarkan diri-Nya dihancurkan. Tuhan yang tidak menuntut pengorbanan, tetapi mengorbankan diri-Nya sendiri. Tuhan yang tidak meminta apa-apa tetapi memberikan segalanya. Dalam merayakan dan mengalami Ekaristi, kita juga dipanggil untuk berbagi dalam kasih ini. Karena kita tidak dapat memecah-mecahkan roti pada hari Minggu jika hati kita tertutup bagi saudara dan saudari kita. Kita tidak dapat mengambil bagian dalam Roti itu jika kita tidak memberikan roti kepada mereka yang lapar. Kita tidak dapat berbagi Roti itu kecuali kita berbagi penderitaan saudara-saudari kita yang membutuhkan. Pada akhirnya, dan pada akhir dari liturgi-liturgi Ekaristi kita yang khidmat, hanya cinta yang akan tersisa. Bahkan sekarang, perayaan-perayaan Ekaristi kita mentransformasikan dunia sejauh kita membiarkan diri kita ditransformasikan dan menjadi roti yang dipecah-pecahkan bagi orang lain.”
Paus Fransiskus, Homili Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, 2021
Ya Allah, Yesus Putra-Mu telah meninggalkan kenangan akan wafat dan kebangkitan-Nya dalam Sakramen Ekaristi Mahakudus yang mengagumkan. Kami mohon rahmat-Mu semoga kami pun mampu memecah dan membagikan hidup yang telah Engkau pilih dan berkati ini sehingga kami pantas untuk bersatu dalam karya penebusan-Mu. Dengan pengantaraan Yesus, Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa.
Amin.
