Remah Harian

CINTA MARIA LUAR BIASA

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Senin, 25 Maret 2024, Senin dalam Pekan Suci
Bacaan: Yes 42:1-7Mzm 27:1.2.3.13-14Yoh 12:1-11.

YOH 12: 3

Pada hari pertama Pekan Suci ini, kita renungkan misteri wafat dan kebangkitan Yesus. Penjelasan apa pun tidak akan mampu menjelaskan misteri Ilahi ini. Sebagai gantinya, marilah kita masuk ke dalam rumah Lazarus, Marta, dan Maria – sebuah keluarga yang dikasihi Yesus.

Lazarus, yang dibangkitkan oleh Yesus, dan saudara-saudaranya, Marta dan Maria, tahu bahwa tidak ada sambutan yang terlalu berlebihan untuk tamu yang mereka cintai. Tanpa ragu-ragu, mereka membuka pintu rumah mereka dengan hati yang lapang. Ini sebenarnya adalah sebuah pertemuan perpisahan – mirip dengan Perjamuan Terakhir – sebuah persembahan  kesetiaan yang abadi.

Maria, yang menyadari betapa beratnya momen tersebut, merasakan kesedihan yang akan datang. Kemudian, dalam sebuah gerakan yang menurut adat mereka memalukan namun sekaligus sakral, Maria mengurapi kaki-Nya. Harum narwastu berbaur dengan air mata, ciuman, dan rambut yang terurai. Barangkali seisi ruangan terkesima dengan tindakan itu. Tetapi cinta Maria tidak mengenal batas. Dia mencurahkan jiwanya, merasakan bahwa perpisahan ini lebih dari sekedar perpisahan – ini adalah awal dari penderitaan.

Yudas, murid yang pragmatis, juga muncul dalam adegan itu, tetapi dia membuat perhitungan. Murid yang dipilih langsung oleh Yesus dan telah menemani-Nya selama tahun-tahun pelayanan-Nya ini tidak mengerti apa pun selain perhitungan pemasukan dan pengeluaran! Tiga ratus keping uang perak – itulah yang ia perhitungkan sebagai harga minyak wangi itu. Sayangnya, dialah yang akan mengkhianati Yesus hanya karena tiga puluh keping uang perak – sepuluh kali lebih kecil nilainya daripada sebuah botol minyak wangi.

Dalam pengurapan Maria, Yohanes memberikan gambaran sekilas tentang kebangkitan. Yesus yang akan dibungkus dengan kain lenan dan diurapi untuk dimakamkan. Keharuman narwastu Maria tetap ada – sebuah kesaksian yang harum. Dalam kasihnya yang berlimpah, kita menemukan harapan. Ketika kita menempuh jalan salib, semoga hati kita menggemakan pengabdian Maria. Janganlah kita takut mencurahkan sehabis-habisnya hidup kita bagi Yesus, sehingga kita menemukan hidup yang kekal.

Tuhan, berilah kami iman yang hidup, pengharapan yang teguh, amal yang sungguh-sungguh, cinta yang penuh kepada-Mu. Ambillah dari kami semua sikap suam-suam kuku dalam merenungkan sabda-Mu serta kebodohan dalam doa. Berikanlah kami semangat dan kegembiraan dalam memikirkan Engkau dan rahmat-Mu, kasih sayang-Mu yang lembut kepada kami. Apa yang kami mohon, ya Tuhan yang baik, berilah kami rahmat untuk bekerja keras, dengan pengantaraan Yesus Kristus Tuhan kami. [St. Thomas More, Abad XVI]

Author

Write A Comment