Remah Harian

BETAPA BAIKNYA JIKA ENGKAU MENGERTI

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Kamis, 23 November 2023, Kamis Pekan Biasa XXXIII
Bacaan: 1Mak. 2:15-29Mzm. 50:1-2,5-6,14-15Luk. 19:41-44.

(Luk 19: 41 – 42)

Jarang sekali pria meneteskan air mata. Dan ketika mereka melakukannya, mereka berusaha untuk tidak terlihat oleh orang lain. Apalagi sering dikatakan, “Laki-laki tidak boleh menangis!” Tetapi Yesus menangis secara terbuka. Ketika Ia menangis di makam seorang sahabat-Nya yang dikasihi, Lazarus, kita dapat memahaminya. Tetapi kali ini Ia mencucurkan air mata atas sebuah kota yang akan dihancurkan? 

Pemandangan dari Bukit Zaitun sangat menakjubkan bahkan sampai sekarang. Pasti lebih mengesankan lagi ketika Bait Suci dengan segala kemegahannya masih berdiri.

Tetapi Yesus tidak hanya memikirkan tentang kehancuran sebuah bangunan. Dia memikirkan penderitaan mengerikan yang akan dialami orang-orang. Yesus tahu bahwa kelompok-kelompok pemberontak berencana untuk menggulingkan pemerintahan Romawi dan hal ini akan menyebabkan kehancuran yang mengerikan. Seandainya saja mereka mau mendengarkan Dia, menerima pesan damai-Nya, dan meninggalkan impian mereka akan kekuasaan politik. Tetapi mereka tidak mau mendengarkan. Mungkin saat ini pun Ia menangis menyaksikan penderitaan dan kehancuran kemanusiaan di tanah suci. “Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal itu tersembunyi bagi matamu.” Keluhan-Nya yang juga relevan saat ini.

Air mata Yesus yang tercurah atas Yerusalem adalah air mata Tuhan-ketika Dia melihat anak-anak-Nya menderita karena mereka tidak mau mendengarkan, mengalami segala macam masalah dan penderitaan yang tidak perlu karena kita dengan bodohnya memberontak.

Terkadang saya berpikir, betapa frustrasinya para imam yang mencoba setiap hari Minggu untuk mempersiapkan homili yang baik tetapi tidak melihat adanya perubahan dalam kehidupan dan sikap umat mereka. Jika seorang imam memberikan homili yang buruk, jangan langsung mengutuknya. Ia mungkin saja merasa frustrasi sehingga ia kehilangan energi untuk mempersiapkan homili yang baik karea merasa “tidak ada gunanya.”

Mari kita renungkan,  berapa banyak masalah dan penderitaan saya yang disebabkan karena saya mengabaikan Sabda Yesus? Berapa banyak air mata yang telah saya sebabkan karena saya mengabaikan apa yang Dia katakan kepada saya melalui Injil dan melalui ajaran-ajaran Gereja? Penderitaan dan masalah manakah yang dapat saya hindari seandainya saya mendengarkan Tuhan dan menaati-Nya?

Tuhan, aku tahu bahwa aku telah membuat-Mu menangis karena ketidaktaatanku kepada-Mu. Ampunilah kebodohanku. Amin.

Author

Write A Comment