Sabda Hidup
Minggu, 18 Februari 2024, Minggu Prapaskah I Tahun B
Bacaan: Kej. 9:8-15; Mzm. 25:4b-5ab,6-7bc,8-9; 1Ptr. 3:18-22; Mrk. 1:12-15.
Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!”
MRK 1: 15
Saat kita memulai masa Prapaskah, pesan mendesak yang ditujukan kepada kita hari ini adalah: “Bertobatlah!”
Teolog Ron Rolheiser OMI mengatakan bahwa, kata “bertobat” sering disalahpahami. “Sepertinya menyiratkan bahwa kita telah melakukan sesuatu yang salah, menyesalinya, dan sekarang berkomitmen untuk hidup dengan cara yang baru … untuk hidup di luar masa lalu yang penuh dosa.” Namun, Rolheiser menjelaskan bahwa bukan ini yang dimaksud dalam Kitab Suci. “Dalam Injil, kata khusus yang digunakan untuk pertobatan adalah metanoia. Secara harfiah, ini berarti melakukan perubahan haluan, menghadap ke arah yang sama sekali baru.” Ini sejalan dengan kata “bertobat” dalam bahasa Ibrani. “Bertobat” dalam bahasa Hibrani adalah שׁוּב (shûb) yang berarti berbalik, berbalik 180 derajat, suatu perubahan radikal terhadap dosa yang menyiratkan suatu kesadaran moral untuk memisahkan diri dari dosa serta keputusan untuk meninggalkannya untuk kembali kepada Tuhan.
Inilah undangan untuk hari Minggu pertama masa Prapaskah ini – untuk membalikkan hidup kita – untuk menghadap ke arah yang sama sekali baru. Yesus mendorong para pendengarnya – dan kita – untuk mengubah hidup kita, untuk melihat yang baru.
Ketika kita memasuki masa khusus untuk berdoa, berpuasa dan memberi sedekah ini, penting bagi kita untuk merencanakan hidup kita untuk mengidentifikasi area-area di mana kita membutuhkan metanoia – untuk membuat perubahan dalam hidup kita. Bagaimana kita dapat menanggapi panggilan Prapaskah untuk lebih menyadari tanggung jawab kita satu terhadap yang lain dan persatuan kita, terutama dalam kerentanan dan penderitaan kita? Atau sekadar datang mengaku dosa, bilang bertobat tetapi setelah itu jatuh dalam dosa yang sama?
Ada seorang biarawan yang suka bersungut-sungut, mengeluh, penuh kritik dan sulit untuk bersama dengan yang lain. Suatu ketika ia mengikuti retret ke luar kota, dan rupanya dia merasa sangat berhasil.
Untuk menunjukkan bahwa ia sudah berubah, sesampainya di biara dia tulis di papan dan digantungkan di depan pintu kamarnya, bunyinya begini: “Di sini hidup seorang manusia, manusia lama telah mati dan dimakamkan!”
Semua orang senang dengan perubahan itu. Tetapi setelah beberapa minggu, kebiasaan lama timbul lagi.
Maka seorang anggota komunitas yang lain menulis di bawah tulisannya itu: “Tetapi pada hari ketiga ia bangkit lagi!”
Ketika kita menanggapi panggilan Prapaskah untuk bertobat dan percaya kepada Injil, marilah kita membuka diri kita terhadap kemungkinan untuk berubah, untuk berbalik atau dibalikkan, untuk mengarahkan hidup kita ke arah yang sama sekali baru.
Namun perlu diingat bahwa pembaharuan membutuhkan ketekunan dan usaha terus menerus. Dan bahkan jika nampaknya belum berhasil, kita tidak boleh berkecil hati dan menyerah. Pembaruan membutuhkan banyak kesabaran dan ketekunan.
Tuhan Allah kami, sentuhlah hati kami masing-masing agar kami berbalik sepenuhnya kepada-Mu dan menghidupi Kabar Baik Yesus Kristus, Tuhan kami. Amin.
