Sabda Hidup
Sabtu, 19 November 2022, Sabtu Pekan Biasa XXXIII
Bacaan: Why. 11:4-12; Mzm. 144:1,2,9-10; Luk. 20:27-40.
“Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.”
(Luk 20: 38)
Sebagai bagian dari suatu skenario untuk menjebak Yesus, orang-orang Saduki menemui Yesus dengan sebuah pertanyaan kontroversial. Orang-orang Saduki tidak percaya akan kebangkitan orang mati karena menurut mereka Musa tidak menulis apapun tentang hal itu.
Selain itu, ada “sesuatu” di balik ketidakpercayaan orang Saduki terhadap kebangkitan. Pada masa Yesus, para Saduki adalah kelompok eksklusif yang terdiri dari orang-orang elit dan terkemuka dalam masyarakat Yahudi: orang-orang kaya, para bangsawan dan para imam. Maka mereka hidup seperti “sapi-sapi gemuk” yang hidup enak dan mewah. Mereka hidup serba kecukupan, tak ada kebutuhan-kebutuhan lain lagi. Jika mereka hidup seperti itu, untuk apa memikirkan kebangkitan? Orientasi hidup mereka adalah duniawi dan serba materi.
Berdasar pada Kitab Ulangan 25: 5 – 10, ada kebiasaan bagi saudara laki-laki untuk menikahi ipar mereka jika saudara laki-laki mereka meninggal tanpa anak. Berdasarkan kebiasaan itu orang-orang Saduki mengajukan pertanyaan, jika tujuh saudara berturut-turut menikahi seorang perempuan tetapi semua mati tidak meninggalkan keturunan, siapa yang akan menjadi suami dari perempuan itu sesudah kebangkitan orang mati. Jawaban Yesus adalah, pernikahan tidak akan lagi menjadi perhatian di kehidupan selanjutnya. Yesus mengingatkan mereka tentang pernyataan Musa ketika Tuhan menampakkan diri kepadanya di semak duri yang terbakar, di mana Tuhan disebut “Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub. Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab di hadapan Dia semua orang hidup.” Abraham, Ishak, dan Yakub telah mati tetapi mereka terus hidup untuk menyembah Allah yang hidup.
Kita yang mengimani kebangkitan, hiduplah sebagai manusia-manusia kebangkitan! Itu berarti bahwa kita tidak terlena dan tinggal berbaring dalam kubur dosa-dosa dan kebiasaan jahat kita. Sebaliknya, hiduplah dalam damai dan sukacita, secara terus menerus mengalami Kehadiran nyata Tuhan yang bangkit. Harapan kita akan kebangkitan akan memberi kita damai dan sukacita surgawi untuk melawan kebosanan, kejenuhan dan ketegangan hidup sehari-hari.
Kita perlu mengarahkan diri pada kehidupan kekal mulai dari sekarang. Sesungguhnya kalau kita tahu bahwa Tuhan telah menyatakan kepada kita jalan kehidupan dan jalan kematian, maka sudah seharusnya kita memilih jalan kehidupan yang akan membawa kita kepada kehidupan kekal. Kehidupan kekal ini tidak bisa kita peroleh dengan kekuatan kita sendiri, namun merupakan pemberian Allah, yang harus kita tanggapi secara bebas oleh iman, dengan terus bekerjasama dengan rahmat-Nya, senantiasa berharap kepada janji-Nya, dan terus bertumbuh dalam kasih. Marilah, sekali lagi kita mengarahkan pandangan kita kepada tujuan akhir kita, yaitu kehidupan kekal. Kapan harus kita mulai? Sekarang juga!
