Remah Harian

BERJAGA, BERDOA, BERBUAT BAIK

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Sabtu, 28 November 2020, Sabtu Pekan Biasa XXXIV

“Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat…. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.”

(Luk 21: 34, 36).

Di penghujung tahun liturgi, Tuhan mengingatkan kita agar berjaga-jaga. Kita tahu bahwa Ia akan datang, tetapi kita tidak tahu saatnya. Berjaga-jaga bukan berarti hanya menunggu dan tidak berbuat apa-apa. Bagaimana kita berjaga-jaga?

Para pengikut Kristus harus waspada terhadap dosa dan berdoa agar kasih mereka bagi Kristus tidak akan luntur. Dengan demikian mereka boleh menerima kekuatan untuk bertekun dalam iman dan kebenaran dalam Yesus Kristus. Hanya dengan ketekunan semacam itulah mereka akan mampu untuk “luput” dari semua hal yang mengerikan yang menimpa dunia pada hari-hari terakhir.

Berjaga-jaga diisi bukan dengan pesta pora dan kemabukan, melainkan dengan tetap sadar dan hidup yang benar dan mulia. Berjaga-jaga bukanlah suatu aktivitas yang diisi dengan usaha-usaha spekulasi yang menghitung-hitung kapan tepatnya kedatangan Yesus yang kedua kali. Berjaga-jaga berarti percaya dan taat penuh kepada Sabda-Nya.

Berjaga-jaga haruslah diisi dengan berdoa. Dalam hal ini berdoa memiliki multi arti, yaitu berdoa berarti menyadari diri tidak sanggup berjaga-jaga dengan kekuatan sendiri, melainkan dengan bersandar pada kekuatan dari Allah. Berdoa, berarti mempercayakan hidup di saat-saat penantian ini dengan tetap percaya bahwa Allah akan menjaga dan mencukupkan kebutuhan hidup mereka. Berdoa menyebabkan mereka tidak tergoda untuk menyangkal imannya ketika harus menghadapi persoalan di masa penantian ini. Berdoa, berarti berjaga-jaga dengan penuh kewaspadaan, mendapatkan kekuatan Allah untuk bertahan bahkan luput dari semua yang harus terjadi di saat-saat penantian itu.

Berjaga-jaga dan berdoa berjalan bersama-sama. Murid-murid Tuhan dapat bertahan sampai Tuhan datang bila hidup mereka berjaga-jaga dan berdoa. Demikian juga dengan kita, murid-murid Tuhan masa kini. Kita harus menata hidup kita dan doa kita sehingga saat sebelum Tuhan datang, di mana penderitaan akan semakin menjadi-jadi, kita tetap setia. Ketika Tuhan datang, kita boleh berdiri menyambut-Nya

Selain itu St Paulus juga mengingatkan: “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik,  karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah,” nasehat St. Paulus (Gal 6: 9).

Setelah kembali dari peperangan Mahabharata seorang miskin datang kepada Yudhistira, memohon sedekah. Raja Yudhistira berkata bahwa ia sedang sibuk dan berkata kepada orang itu agar ia datang kembali esok hari, dan ia akan mendapat apa yang dibutuhkan. Bhima yang melihat kejadian itu berseru dengan suara nyaring: “Perhatian seluruh warga kerajaan! Maharaja Yudhistira merasa pasti bahwa ia masih hidup esok hari!” Mendengar itu Yudhistira menyadari kebodohannya dan memanggil kembali orang yang memohon sedekah tadi serta memberikan apa yang ia butuhkan.

Selamat pagi. Selamat berakhir pekan. Hendaklah kita berjaga, berdoa, dan tidak menunda untuk berbuat baik.

Bacaan hari ini: Why. 22:1-7Mzm. 95:1-2,3-5,6-7Luk. 21:34-36.

Author

Write A Comment