Sabda Hidup
Selasa, 29 November 2022, Selasa Pekan Advent I
Bacaan: Yes. 11:1-10; Mzm. 72:2,7-8,12-13,17; Luk. 10:21-24.
“Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.”
(Luk 10: 23 – 24)
Saat Perayaan Natal semakin mendekat, Injil mengingatkan kita akan karunia istimewa yang diberikan kepada kita melalui pengenalan kita akan Yesus Kristus.
Sabda Yesus ini dikatakan sesudah 72 murid-Nya baru saja kembali dari perutusan mereka mewartakan Kerajaan Allah dan melakukan apa yang juga dilakukan oleh Yesus. Sabda Yesus ini menggemakan yang telah dikatakan-Nya kepada mereka sebelumnya: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti,” (Luk 8: 10).
Sabda Yesus ini harus dimengerti bukan dalam arti bahwa para murid diberi wawasan dan pengetahuan saja, tetapi lebih dari itu jati diri para murid, adalah mereka yang membuka diri untuk mendengar dan melihat serta mengerti makna warta itu, yakni pribadi Yesus sendiri.
Untuk membuka diri itu diperlukan kerendahan hati. Kesombongan menutup pikiran terhadap kebenaran dan hikmat Tuhan bagi hidup kita. Yesus mengontraskan kesombongan dengan kesederhanaan dan kerendahan hati seperti anak kecil. “Semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.” Orang yang sederhana hatinya seperti “anak kecil” dalam arti bahwa mereka melihat murni tanpa kepura-puraan dan mengakui ketergantungan dan kepercayaan mereka kepada Tuhan yang merupakan sumber segala hikmat dan kekuatan. Mereka mencari satu hal – “summum bonum” atau “kebaikan tertinggi” yaitu Tuhan sendiri.
Kesederhanaan hati dikawinkan dengan kerendahan hati, sang ratu kebajikan, karena kerendahan hati mencondongkan hati kepada rahmat dan kebenaran. Sama seperti kesombongan adalah akar dari setiap dosa dan kejahatan yang dapat kita bayangkan, demikian pula kerendahan hati adalah satu-satunya tanah di mana kasih karunia Allah dapat berakar. Dengan itu seorang yang dengan rendah hati membuka diri mengambil sikap yang benar di hadapan Tuhan dan memungkinkan Tuhan untuk melakukan semuanya. “Tuhan menentang orang yang sombong, tetapi memberi kasih karunia kepada orang yang rendah hati” (Amsal 3:34, Yakobus 4:6). Anugerah kerendahan hati seperti Kristus mencondongkan kita kepada Allah dan membuat kita menerima hikmat, kasih karunia, dan pertolongan Allah. Tidak ada yang dapat memberi kita sukacita yang lebih besar daripada mengetahui bahwa kita adalah kekasih Allah dan bahwa nama kita tercatat di surga (Lukas 10:20).
Maka bagi kita saat ini adalah saat yang istimewa untuk bersyukur karena kita sungguh terberkati, sungguh berbahagia. Tetapi rahmat dan karunia istimewa itu datang dengan tanggungjawab. Menjadi tanggungjawab/tugas kita untuk melihat lebih jelas siapa Yesus, dan memahami secara lebih dalam visi serta cara hidup-Nya. Kita diharapkan untuk mendengar secara lebih dalam Sabda Tuhan agar menembusi pengertian kita dan semakin meresapi hidup kita, sehingga visi dan cara hidup-Nya menjadi visi dan cara hidup kita.
Ya Yesus, beri aku kesederhanaan dan kemurnian iman seperti anak kecil untuk menatap wajah-Mu dengan sukacita dan keyakinan akan cinta-Mu yang penuh belas kasih. Singkirkan setiap keraguan, ketakutan, dan pikiran sombong yang akan menghalangi saya untuk menerima Sabda-Mu dengan kepercayaan dan kepasrahan yang rendah hati.
