Sabda Hidup
Kamis 19 Oktober 2023, Kamis Pekan Biasa XXVIII
Bacaan: Rm. 3:21-30; Mzm. 130:1-2,3-4b,4c-6; Luk. 11:47-54.
Aku akan mengutus kepada mereka nabi-nabi dan rasul-rasul dan separuh dari antara nabi-nabi dan rasul-rasul itu akan mereka bunuh dan mereka aniaya, supaya dari angkatan ini dituntut darah semua nabi yang telah tertumpah sejak dunia dijadikan.”
(Luk 11: 49 – 50)
Alkisah, pemimpin sebuah biara memerintahkan agar kucing piarannya diikat di depan pintu ruang doa selama ibadat sore agar tidak mengganggu penghuni biara itu beribadat. Setelah pemimpin biara itu mati, kucing itu selalu diikat di depan pintu ruang doa selama ibadat sore supaya tidak mengganggu mereka beribadat. Ketika kucing itu mati, seekor kucing yang lain dibawa ke biara sehingga selama ibadat sore ada seekor kucing yang diikat di depan pintu ruang doa. Begitulah kebiasaan itu berlanjut dari tahun ke tahun, dan kemudian berjilid-jilid traktat ditulis oleh para ahli peribadatan tentang arti pentingnya mengikat kucing di depan pintu ruang doa selama ibadat.
Sahabat, hal itu dapat terjadi ketika kita begitu tenggelam dalam hal-hal luaran dan kehilangan yang essensial. Agama dan tradisi dapat memberikan zona nyaman palsu, keamanan dan rasa puas diri. Ingat, banyak dosa dan ketidakadilan telah dilakukan dalam nama Tuhan!
Hari ini kita diingatkan akan peran kita sebagai nabi. Seorang nabi adalah seorang juru bicara yang menyampaikan kata-kata di bawah kuasa Roh Allah. Dalam bahasa Yunani “prophetes” artinya “seseorang yang berbicara atas nama orang lain”. Para nabi berbicara bagi Allah kepada umat perjanjian, berlandaskan apa yang sudah mereka dengar, lihat, dan terima dari Dia. Nabi adalah juru bicara Allah, menyuarakan kebenaran.
Ada yang bilang bahwa kata-kata seorang nabi menghibur yang gundah dan mengusik yang mapan. Ketika kita merasa bahwa kata dan tindakan kita menghibur mereka yang mapan dan mengganggu mereka yang gundah, itu berarti bahwa kita telah berhenti menjadi nabi. Ketika kita tidak lagi menantang orang untuk melampaui zona nyaman mereka, ketika tak lagi memberi visi, tak lagi memberi harapan dan makna yang lebih dalam, maka kita telah gagal dalam peran kita membantu orang untuk melintasi ketakutan dan penderitaan mereka.
Jika kita tidak lagi menjadi nabi, lalu mau jadi apa kita? Mencari untung dengan menjadi pelaku kebohongan, rekan dan pelaku ketimpangan, pejuang status quo dan lebih parah lagi menjadi badut-badut ketidakadilan?
Menjadi nabi, berarti menghadapi resiko untuk ditolak, mengalami sengsara bahkan menumpahkan darah demi warta kebenaran dari Allah. Menjadi martir.
Beranikah menjadi nabi-nabi masa kini?
