Sabda Hidup
Kamis, 22 Juni 2023, Kamis Pekan Biasa XI
Bacaan: 2Kor. 11: 1-11; Mzm. 111:1-2,3-4,7-8; Mat 6:7-15.
Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; an janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat.”
(Mat 6: 7 – 13)
Tanpa kita sadari, doa-doa kita lebih sering mengarah pada diri sendiri. Apakah bisa disebut doa egois? Bisa jadi. Beberapa baris tulisan Charles Thompson ini menggelitik:
“Anda tidak dapat berdoa Bapa Kami dan anda sekali saja berkata “Saya”.
Anda tidak dapat berdoa Bapa kami dan tidak berdoa untuk orang lain.
Sebab saat anda memohon rejeki sehari-hari, anda harus menyertakan sesama anda.
Sebab sesama disertakan dalam setiap permohonan:
dari awal sampai akhir doa itu, tak pernah sekalipun anda berkata “saya.”
Ketika murid-murid-Nya meminta Yesus untuk mengajar mereka berdoa, Dia menjawab mereka dengan mengajarkan doa, ‘Bapa Kami’. Ia menciptakan sebuah model yang konkret. Orang-orang Yahudi terkenal dengan ketaatan mereka dalam berdoa. Doa formal ditetapkan tiga kali sehari. Para rabi memiliki doa tertentu untuk setiap kesempatan. Tetapi Yesus memperingatkan murid-murid-Nya agar tidak melakukan doa formalistik, sekadar merapalkan kata-kata dan tanpa makna. Dia mengajarkan, tidak hanya kata-kata, tetapi Dia mengajarkan bahwa dalam percakapan dengan Tuhan harus ada ketulusan dan keterbukaan penuh; untuk menghampiri Tuhan dalam doa dengan penuh keyakinan, sederhana dan dengan niat yang tulus; berdoa dengan penuh keyakinan dan iman kepada Tuhan dan Bapa yang hidup, yang ada di surga dan kita berdoa dengan tak jemu-jemu.
Dari Doa Bapa Kami, kita belajar setidaknya dua hal: Pertama, doa adalah tentang kualitas dan bukan kuantitas. Kristus mengajarkan kita bagaimana cara berdoa dan memberi kita sikap yang benar dalam berdoa, yaitu dengan memanggil Allah sebagai “Abba atau Bapa”. Dia mengingatkan kita bahwa Bapa mengenal kita dan semua yang kita butuhkan lebih baik daripada kita sendiri. Maka marilah kita percaya dan berserah kepada-Nya. Kata-kata Nabi Yeremia menegaskan hal itu: “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau,” (Yer. 1:5). Itulah sebabnya St Theresia dari Lisieux berkata “Bagi saya, doa adalah gelombang hati; itu adalah pandangan sederhana yang mengarah ke surga, itu adalah seruan pengakuan dan cinta, mencakup cobaan dan sukacita.”
Kedua, Kristus mengajarkan kita untuk berdoa bersama. Doa Bapa Kami adalah doa yang menyatukan semua orang Kristen. Siprianus dalam karyanya, De dominica oratione, (no. 8) berkata: “Tuhan, Penguasa perdamaian dan persatuan, tidak ingin kita berdoa secara individu dan sendirian. Memang, kita tidak berkata ‘Bapaku yang ada di surga’ atau ‘Berikanlah aku pada hari ini makanan yang secukupnya’. Doa kita adalah untuk semua orang; sedemikian rupa sehingga ketika kita berdoa, kita tidak hanya berdoa untuk satu orang, tetapi untuk semua orang, karena dengan semua orang, kita adalah satu.” Kita tidak pernah berdoa hanya untuk diri kita sendiri, tetapi untuk semua orang yang membutuhkannya. Kita juga berdoa bersama-sama dengan seluruh Gereja. Kita menggabungkan doa kita dengan doa Santa Perawan Maria dan semua orang kudus. Namun, yang lebih penting lagi, kita menyatukan doa kita dengan doa Kristus yang membuat doa kita didengar dan berkenan di hadapan Allah. Siprianus juga berkata: “Doa kita bersifat umum dan bersama; dan ketika kita berdoa, kita tidak berdoa untuk satu orang, tetapi untuk seluruh umat, karena kita semua adalah satu ….”
Dag Hammarskjold (Sekretaris Jenderal PBB dari tahun 1953-1961), dalam jurnal pribadinya menulis doa: “Dimuliakankanlah nama-Mu, bukan namaku; datanglah kerajaan-Mu, bukan kerajaanku; jadilah kehendak-Mu, bukan kehendakku.” Doa yang sama menjadi doa kita juga.
Tuhan, terima kasih telah mengajar kami berdoa. Semoga kami tidak pernah lupa bahwa Engkau memiliki yang terbaik – sempurna dan melimpah! Amin.
