Remah Harian

BAHAGIA = TERBERKATI

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Senin, 12 Juni 2023, Senin Pekan Biasa X
Bacaan: 2Kor. 1: 1-7Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9Mat. 5:1-12.

Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya: “Berbahagialah……..”

[Mat 5: 1 – 12]

Yesus dalam Injil Matius ditampilkan sebagai Musa baru yang naik ke gunung untuk memberi Hukum/Perintah-perintah Allah kepada umatnya. Seperti Musa naik ke gunung dan menerima Sepuluh Perintah Allah, Yesus juga naik ke “gunung” dan memberi Sabda Bahagia dan bagaimana cara untuk mencapai kebahagiaan tersebut. Itu adalah rangkaian sikap hati yang harus dipraktekkan oleh setiap murid Yesus.

Setiap orang ingin bahagia. Kita bahagia kalau kita terberkati. Delapan Sabda Bahagia (beatitudes = terberkati) yang Yesus berikan dapat membimbing kita ke dalam kehidupan yang lebih penuh kasih. Empat yang pertama menunjuk hubungan kita dengan Tuhan dan empat yang terakhir berhubungan dengan hubungan kita dengan orang lain.

Pertama, kita berbahagia bila kita “miskin di hadapan Allah”, karena kita bergantung pada Tuhan dan bukan keamanan material. Kita diperkaya oleh kesetiaan, rahmat dan cinta-Nya.

Kedua, kita berbahagia bila kita “berdukacita”, yaitu ketika kita menyadari bahwa kita akan kehilangan kemuliaan Allah apabila mengandalkan cara-cara dunia dan bukan jalan Tuhan. Dia menghibur kita dan mendukung kita dalam usaha kita untuk melepaskan diri dari dunia dan semakin menyerupai Dia.

Ketiga, kita “lemah lembut”, yaitu ketika kita tunduk kepada kehendak Tuhan dan dipenuhi dengan hasrat menegakkan kebenaran dan usaha menawarkan pembaharuan kepada orang-orang berdosa.

Keempat, “lapar dan haus akan kebenaran”, yaitu, ketika kita ingin hidup dengan moral yang baik yakni berusaha mengakhiri ketidakadilan yang kita saksikan. Saat keadilan berkembang, kebenaran Allah memerintah.

Bagian kedua dari Sabda Bahagia adalah buah-buah yang dihasilkan oleh pertumbuhan rohani yang kita dapatkan dari bagian yang pertama.

Kelima, adalah ketika kita miskin dalam roh dan menempatkan kepercayaan kita kepada belas kasih Allah maka kita mendapatkan kedewasaan rohani untuk berbelas-kasih kepada orang lain dan menghasilkan berkat untuk menerima lebih banyak lagi belas kasih Allah.

Keenam, adalah saat kita ingin “bersih” di dalam hati kita karena kita menyesali kerusakan yang telah dihasilkan akibat dosa kita yang menyakiti orang lain. Kesadaran ini membawa kita ke kekudusan yang lebih besar, dan kita pun akan melihat Tuhan bekerja melalui kita untuk menolong sesama.

Ketujuh, kita menjadi “pembawa damai”, karena kita menyerahkan diri kita kepada kehendak Tuhan dan kita menangani konflik seperti yang Yesus lakukan. Perdamaian didasarkan pada cinta, keadilan dan kebenaran. Bila salah satu nilai kemanusiaan ini dilanggar, perdamaian tidak tercapai.

Kedelapan, adalah saat kita seperti Kristus karena kita hidup sebagaimana Dia hidup dan untuk alasan ini kita dianiaya. Ini adalah berkat yang luar biasa, dengan ini kita tahu bahwa kita benar-benar menjalani Sabda Bahagia.

Dari nilai-nilai Sabda Bahagia itu, mana yang paling lemah saya hidup? Mana yang paling berhasil saya hidupi? Mari kita mohon rahmat agar kita semakin serupa dengan Kristus.

Tuhan Yesus, tingkatkanlah rasa lapar kami akan Dikau dan tunjukkanlah jalan yang membawa kami kepada kedamaian dan kebahagiaan yang kekal. Semoga kami menginginkan Engkau di atas segalanya dan menemukan sukacita yang sempurna dalam melakukan kehendak-Mu.

Author

Write A Comment