Sabda Hidup
Kamis, 9 Februari 2023, Kamis Pekan Biasa V
Bacaan: Kej. 2:18-25; Mzm. 128:1-2,3,4-5; Mrk. 7:24-30.
“Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya. Lalu Yesus berkata kepadanya: “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Tetapi perempuan itu menjawab: “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Maka kata Yesus kepada perempuan itu: “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.” Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar.”
(Mrk 7: 26 – 30)
Dalam Injil hari ini kita menjumpai iman luar biasa dari seorang ibu yang tidak termasuk dalam kalangan umat pilihan Allah, namun percaya bahwa Yesus dapat menyembuhkan anaknya. Ibu itu adalah “seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan dari anaknya,” (Mrk 7: 26). Penderitaan dan cintanya mendorong ibu itu untuk terus memohon, tanpa menghiraukan teguran, cemoohan, penundaan dan bahkan penghinaan. Pada akhirnya, ia mendapatkan apa yang ia mohon, sebab ia “pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar,” (Mrk 7: 30).
Dari perikope ini kita dapat belajar tentang pengabulan doa. Santo Agustinus pernah mengatakan bahwa seringkali doa-doa kita tidak dikabulkan karena kita berdoa “aut mali, aut male, aut mala”. “Mali” (bahasa Latin, jamak) berarti “orang-orang jahat.” Kita “jahat” dan karenanya kita tidak berhak menerima karunia Tuhan. “Male” adalah kata keterangan Latin yang berarti “buruk.” Tuhan tidak mengabulkan permohonan kita karena kita berdoa dengan buruk, tanpa kepercayaan kepada Tuhan serta kurang kerendahan hati dan ketekunan. Akhirnya, “mala,” adalah bentuk jamak Latin untuk “hal-hal buruk.” Tuhan tidak mengabulkan permohonan kita karena kita meminta hal-hal buruk, hal-hal yang tidak baik dan membahayakan kita. Doa kita tidak dikabulkan karena doa kita bukanlah doa yang benar.
Ibu Siro-Fenesia dalam Injil kita hari ini doanya dikabulkan karena ia adalah seorang ibu yang baik; ia memohon sesuatu yang baik (“Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan dari anaknya”); dan ia memohon dengan baik (ia “datang dan tersungkur di depan kaki-Nya”).
Tuhan menginginkan kita berdoa dengan tidak jemu-jemu, memohon dengan penuh iman. Memang ada juga doa-doa lain, seperti doa pujian dan syukur. Namun dalam hal ini kita berbicara tentang doa permohonan.
Mengapa? Karena kita memang membutuhkan pertolongan Tuhan untuk mencapai tujuan utama kita yakni keselamatan; karena dengan doa kita mengungkapkan harapan dan cinta kita kepada Tuhan; karena dengan doa kita mempercayakan diri kepada-Nya. Dan yang utama, permohonan kita bersama dengan kuat kuasa Tuhan, dapat menjadi kontribusi untuk membuat dunia ini menjadi lebih baik seperti yang dikehendaki oleh Tuhan sendiri dan juga kita harapkan. Kuasa doa memang luar biasa!
Tuhan Yesus, cinta dan belas kasih-Mu tidak mengenal batas. Semoga aku selalu percaya pada-Mu dan tidak pernah meragukan perhatian dan belas kasih-Mu. Tambahkan keyakinanku pada bantuan penyelamatan-Mu dan bebaskan aku dari semua kejahatan dan bahaya.
