Remah Harian

ALLAH MAHAMURAH

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Kamis, 23 Desember 2021, Kamis Hari Biasa Khusus Advent
Bacaan: Mal. 3:1-4; 4:5-6; Mzm. 25:4bc-5ab,8-9,10,14; Luk. 1:57-66.

“Namanya adalah Yohanes.”

(Luk 1: 63)

Bacaan pertama hari ini adalah nubuat nabi Maleakhi tentang datangnya seorang utusan untuk mempersiapkan jalan bagi YHWH. Ia akan menjadi kritik tajam bagi cara hidup umat Allah dan memanggil mereka pada pertobaan (metanoia). Ia akan datang seperti “api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu,” (Mal 3: 2). Kita dapat melihat bahwa nubuat ini terpenuhi dalam diri Yohanes Pembaptis. Perannya adalah mempersiapkan umat Israel untuk memberikan persembahan yang berkenan bagi YHWH seperti “pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah,” (Mal 3: 4).

Dari nubuat ini, jelaslah peran dan fungsi utusan itu. Perannya yaitu mengembalikan tatanan dan harmoni. Maleakhi juga membandingkan sang utusan itu dengan Elia, nabi agung itu. Belakangan, atas permintaan murid-murid-Nya, Yesus sendiri menghubungkan Yohanes Pembaptis dengan peran Elia, yang “membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati anak-anak kepada bapa-bapanya supaya jangan Aku datang memukul bumi sehingga musnah,” (Mal 4: 6).  Nampaklah dengan jelas hati Bapa yang berbelas-kasih. Ia mengusahakan apa saja untuk membawa anak-anaknya kembali kepada-Nya.

Injil hari ini mengisahkan reaksi tetangga-tetangga dan sanak saudara Zakharia dan Elisabeth tentang kelahiran Yohanes Pembaptis dan dampaknya kepada mereka. Pada kelahirannya, Elisabeth yang telah menyerah pada kondisi mandulnya, secara ajaib mendapatkan kembali “keibuannya” dan ayahnya mendapatkan kembali kemampuannya berbicara. Tetangga-tetangga dan saudara-saudara yang datang hendak menami bayi itu Zakharia, untuk melanjutkan atau melestarikan nama ayahnya, tetapi Elisabeth mempunyai rencana yang lain. Ia mengusulkan nama Yohanes, yang dalam bahasa Ibrani adalah Yohanan, yang berarti “Allah Mahapemurah”. Menjadi kecenderungan kita manusia, untuk melupakan kebaikan yang kita terima. Tetapi Elisabeth dan Zakharia bukanlah seperti itu. Ketimbang berusaha untuk melanggengkan nama leluhurnya, mereka lebih ingin mewartakan nama YHWH dan kemurahan hati-Nya.

Seharusnya kita masing-masing harus diberi nama Yohanes (Yohanan) sebab kita masing-masing adalah anugerah Allah yang Mahamurah. Siapa saja yang hidup dengan kesadaran itu tentu akan sangat berbeda dengan mereka yang menerima begitu saja kehidupan mereka. Sebab “tangan Tuhan menyertai kita.”

Author

Write A Comment