Remah Harian

AKU MAU, JADILAH ENGKAU TAHIR

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Minggu, 11 Februari 2024, Minggu Biasa VI Tahun B, Hari Orang Sakit Sedunia
Bacaan: Im. 13:1-2,45-46Mzm. 32:1-2,5,111Kor. 10:31-11:1Mrk. 1:40-45.

(Mrk 1: 41)

Menyembuhkan seorang penderita kusta dianggap mustahil seperti membangkitkan orang yang sudah mati. Kusta tidak membunuh, tetapi membuat seseorang kehilangan kepekaan fisik. Hal yang sama juga terjadi pada mereka yang kehilangan kepekaan moral, tidak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang memanusiakan dan mana yang merendahkan.

Gambaran orang kusta yang rusak inilah yang mewakili gambaran kemanusiaan yang sakit dilanda kekerasan, ketidakadilan, dan penghancuran ciptaan karena egoisme dan sikap acuh tak acuh masing-masing individu.

Orang kusta dianggap sebagai orang yang dikutuk oleh Tuhan dan tidak boleh masuk ke dalam Bait Allah – karena dianggap najis. Yesus tergerak oleh belas kasihan karena gambaran yang salah tentang Allah ini telah ditanamkan dalam hati orang yang malang ini. Ada banyak orang yang telah berpaling dari Gereja dan Tuhan karena khotbah, pengajaran, dan sikap hidup kita gagal menampilkan wajah Tuhan yang sebenarnya kepada mereka.

Yesus mengulurkan tangan-Nya untuk menjamah orang kusta itu. Mengapa Markus menyebutkan bahwa Yesus mengulurkan tangan-Nya ketika sebuah kata saja sudah cukup untuk menyembuhkan orang kusta itu? Ini adalah ungkapan yang kita temukan dalam Perjanjian Lama: ketika Allah mengulurkan tangan-Nya, Ia akan memukul musuh-musuh umat-Nya. Dalam hal ini, bukan orang kusta yang disentuh oleh tangan Allah, tetapi penyakit kusta itu yang menghancurkan gambar Allah dalam diri manusia.

Sentuhanlah yang membuat kita merasa lebih dekat satu sama lain. Yesus menyentuh orang kusta itu, menjamah-nya; inilah Allah kita, Allah yang sekarang kita lihat dalam diri Yesus dari Nazaret. Allah yang memilih untuk masuk ke dalam air sungai Yordan pada saat pembaptisan bersama dengan orang-orang berdosa, kini bahkan menjamah orang kusta dan berkata kepadanya, “Aku mau engkau tahir.”

Pesan Paus Fransiskus pada hari Orang Sakit Sedunia mengutip pesan Allah, “Tidak baiklah kalau manusia itu sendirian,” (Kej 2: 18). Sejak semula, Allah, yang adalah kasih, menciptakan kita untuk persekutuan. Oleh karena itu, kita sejak lahir dikaruniai kemampuan untuk membangun relasi dengan sesama. Kehidupan kita, yang merupakan gambaran Trinitas, akan mencapai kepenuhannya melalui jalinan relasi, persahabatan dan cintakasih, baik dengan memberi maupun menerima. Kita diciptakan untuk hidup bersama, tidak seorang diri. Karena rancangan persekutuan ini berakar kuat di dalam hati manusia, maka pengalaman ditinggalkan dan sendirian sungguh akan dirasakan sebagai suatu pengalaman yang menakutkan, menyakitkan, dan bahkan tidak manusiawi. Hal ini terutama terjadi ketika kita berada dalam kerentanan, ketidakpastian, dan ketidakamanan yang seringkali disebabkan oleh penyakit yang serius.

Pengalaman kesendirian itu disebabkan oleh banyak hal: penyakit seperti orang Kusta dalam Injil hari ini, perang, individualisme, egoisme, sikap acuh tak acuh, budaya membuang [throwaway culture], dan sikap-sikap lain yang mengasingkan, mengucilkan dan meminggirkan sesama.

Seperti Yesus yang menjamah orang kusta itu, kita dipanggil untuk pertama-tama membangun kedekatan yang berbela-rasa dan penuh kasih sayang. Merawat orang sakit adalah merawat relasi.

Yesus mengajar kita untuk menjangkau dan merangkul mereka yang dianggap tidak manusiawi dan yang terbuang di antara kita. Solidaritas dengan yang mereka yang tersingkir dan terpinggirkan, tidak merendahkan kita, melainkan memanusiakan mereka yang sering dianggap sampah masyarakat.

Adakah orang-orang yang saya singkirkan? Adakah orang-orang yang saya anggap kusta? Siapa penderita kusta dalam hidup kita? Yang kita anggap najis?

Kasih bukan menyingkirkan. Kasih tidak membuang. Kasih merangkul dan memulihkan. Kasih mencari dan menyelamatkan yang hilang. Kasih mengampuni. Itulah kasih Allah yang tak pernah berubah. Siapapun saya dan anda, seperti apapun saya dan anda, tak pernah Ia buang. Tak pernah Ia kucilkan. Hanya diperlukan hati yang terbuka untuk kasih-Nya. Akankah saya turut dalam gerakan kasih-Nya?

Tuhan, bangunlah kami menjadi komunitas di mana kami saling mendukung dan menguatkan satu sama lain dengan kasih, kelembutan, dan rasa hormat seperti yang telah Engkau tunjukkan kepada kami. Amin.

Author

Write A Comment