Sabda Hidup
Minggu, 13 November 2022, Minggu Biasa XXXIII Tahun C
Bacaan: Mal. 4:1-2a; Mzm. 98:5-6,7-8,9a; 2Tes. 3:7-12; Luk. 21:5-19.
“Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.”
(Luk 21: 19)
Pace satu de tukang mabuk. Sopi adalah hal yang sangat berharga baginya. Kebiasaannya mabuk menyebabkan banyak masalah dalam keluarga, hingga akhirnya, istrinya jatuh sakit parah dan tidak tertolong lagi. Istrinya meninggal. Akan tetapi, dasar pemabuk, sembari meratapi istrinya yang meninggal minum jalan terus. Ditaruhnya botol sopi di bawah tempat tidur di mana jenazah istrinya dibaringkan. Ibu mertuanya yang jengkel dengan kelakuan menantunya, dengan diam-diam mengambil botol sopi itu dan membuangnya. Si suami terus menangis di samping jenazah. Ia raba-raba jenazah istrinya sambil menangis. Ketika ia meraba ke bawah tempat tidur, ternyata botol sopi sudah tidak ada lagi, makin keras ia menangis: “Adooooooheee…. hilang yang di atas… hilang juga yang di bawah…..”
* * * *
Bagi sebagian orang, kehilangan sesuatu atau seseorang yang sangat disayangi, yang sangat berharga rasanya seperti akhir dunia. Akhir jaman. Sama seperti orang-orang Yahudi. Bait Allah merupakan “sesuatu” yang sangat berharga. Keruntuhan Bait Allah sama dengan akhir jaman. Maka ketika Yesus meramalkan keruntuhan Bait Allah, para murid bertanya: “Guru, bilamanakah itu akan terjadi? Dan apakah tandanya, kalau itu akan terjadi?” Bagi mereka dan orang Yahudi, Bait Allah melambangkan kehadiran Allah, pusat hidup mereka dan jika Bait Allah itu runtuh, maka mereka berpikir bahwa itu berarti akhir jaman. Memang, apa yang diramalkan oleh Yesus sungguh-sungguh terjadi, 40 tahun kemudian, Bait Allah diruntuhkan oleh tentara Roma ketika mereka menyerbu Yerusalem pada tahun 70 Masehi.
* * * *
Kita telah tiba pada akhir dari kalender Gereja. Kita semua diajak untuk merenungkan akhir dunia atau akhir jaman.
Tidak sedikit orang yang bertanya, “Apakah dunia akan berakhir?” “Apakah saatnya sudah dekat?” Kitab Suci mengatakan, “Dan apabila kamu mendengar tentang peperangan dan pemberontakan, janganlah kamu terkejut. Sebab semuanya itu harus terjadi dahulu, tetapi itu tidak berarti kesudahannya akan datang segera….. Bangsa akan bangkit melawan bangsa dan kerajaan melawan kerajaan,…. dan akan terjadi gempa bumi yang dahsyat dan di berbagai tempat akan ada penyakit sampar dan kelaparan, dan akan terjadi juga hal-hal yang mengejutkan dan tanda-tanda yang dahsyat dari langit……” (Luk 21: 8 – 11).
Bukankah semuanya itu sedang terjadi sekarang ini?
Demikian pula, sejumlah orang Kristen mula-mula sangat cemas tentang akhir jaman dan kedatangan Kristus yang kedua kali, sehingga mereka menyimpulkan bahwa tidak ada gunanya bekerja. Itulah sebabnya St. Paulus dalam bacaan kedua Minggu ke 33 ini dengan kuat mengatakan, “Siapa pun yang tidak bekerja, jangan dia makan!” (2 Tes 3:10).
Paulus mengatakan bahwa sampai Yesus datang untuk menyempurnakan dunia, kita tidak boleh duduk diam dalam kemalasan seperti orang-orang Tesalonika yang bermalas-malasan.
Selain itu, janganlah kita membuang waktu yang berharga untuk berspekulasi kapan dunia akan berakhir. “Adapun hari atau jamnya, tidak ada yang tahu, baik malaikat surga, maupun Putra; tidak ada yang tahu selain Bapa ”(Markus 13:32).
* * * *
“Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.” (Luk 21: 19).
Injil kita hari ini mengundang kita untuk merenungkan akhir jaman, tetapi bukan dalam kepanikan atau ketakutan yang tak berguna, atau dalam kemalasan, melainkan dalam komitmen hidup Kristiani yang sungguh-sungguh.
Yang paling penting adalah SAAT INI. Pertanyaan yang harus kita tanyakan pada diri kita sendiri adalah: Apakah kita berpegang teguh pada iman kita, hidup sungguh-sungguh sebagai orang Kristen? Apakah kita setia dalam panggilan kita sebagai orang tua, sebagai religius, sebagai pekerja yang adil dan jujur?
Alih-alih melakukan kejahatan menindas orang, mencuri, membunuh, bukankah jauh lebih baik melakukan pekerjaan baik untuk meningkatkan kehidupan sesama?
