Remah Mingguan

AIR HIDUP

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Minggu, 12 Maret 2023, Minggu Prapaskah III
Bacaan: Kel. 17:3-7Mzm. 95:1-2,6-7,8-9Rm. 5:1-2,5-8Yoh. 4:5-42 (panjang) Yoh. 4:5-15,19b-26,39a,40-42 (singkat).

“Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.”

(Yoh 4: 14)

Manusia pada kodratnya merasa haus dan lapar. Tetapi dalam rasa haus atau laparnya itu, manusia seringkali hanya melihat hal-hal material untuk memuaskan rasa haus dan laparnya. Sayangnya, jika manusia hanya menggantungkan diri pada hal-hal material, ia tidak akan pernah dipuaskan. Pencariannya hanya berakhir hingga ia menemukan Allah yang dapat sungguh-sungguh memuaskan rasa haus dan laparnya.

Tema bacaa-bacaan Kitab Suci hari ini adalah “haus” dan memuaskan rasa haus itu dengan air. Bacaan pertama mengisahkan saat-saat bangsa Israel bersungut-sungut meminta air dalam perjalanan mereka keluar dari Mesir. Mereka mengeluh kepada Musa: “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?” (Kel 17: 3). Musa berada dalam dilema, tetapi atas perintah Allah, ia memukul gunung batu di Horeb dengan tongkatnya, dan bangsa Israel dapat minum dari air itu.

Dalam Injil, kita mendengar kisah perjumpaan dan pembicaraan Yesus dengan seorang wanita Samaria. Yesus tentu lelah dan haus setelah perjalanan panjang di bawah terik matahari. Maka ia minta air kepada seorang perempuan Samaria. Seharusnya tidak boleh Yesus berbicara dengan seorang perempuan Samaria. [Perempuan itu adalah seorang Samaria yang dianggap kafir oleh orang Israel, lalu siang-siang di sumur lagi, bukan waktu yang lazim untuk menimba air, pasti ada apa-apanya….] Tetapi dialog antara Yesus dengan perempuan Samaria ini menarik…. Perempuan itu berbicara tentang air dari sumur, sedangkan Yesus berbicara tentang air hidup. Dan dialog itu menghantar perempuan itu pada pengenalan akan Yesus, Sang Juruselamat yang juga dinanti-nantikan.

Pertama, Yesus berkata kepada perempuan itu, “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, (Yoh 4: 13). Sungguh, kita selalu berpikir tentang hal-hal material saja untuk memuaskan kehausan kita. Rasa puas yang diberikan hanyalah sementara, kita akan haus lagi.

Pada tahun 1950an, ada seorang bintang film “panas” Hollywood yang terkenal. Marilyn Monroe. Sebagai bintang film top ia mempunyai segala-galanya – kecantikan, popularitas, uang…. Tetapi di kedalaman hatinya ia tidak bahagia. Kosong! Suatu pagi, ia ditemukan sudah mati. Ia bunuh diri dengan minum obat tidur melebihi dosis.

Lalu, pada tahun 1970an ada seorang bintang Rock-n-roll terkenal – Mereka yang ABG – Angkatan Babe Gue – pasti tahu Elvis Presley. Kurang apa coba, terkenal, dipuja-puja, penghasilan lebih dari 1 milyar dollar – tapi ia mati muda, 16 Agustus 1977 karena narkoba.

Jika kita hanya menggantungkan diri pada hal-hal material, hal duniawi, kita tidak akan pernah terpuaskan!

Kedua, Yesus bersabda: “Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal,” (Yoh 4: 14)

Yang diberikan oleh Yesus adalah Kasih Allah yang menyelamatkan, air hidup yang dicurahkan ke dalam hati kita yang memberikan kita hidup dan damai. Ia memberikan air hidup dan keselamatan. Inilah yang memuaskan rasa haus kita. Air hidup itu tidak lain adalah Yesus sendiri.

Pada masa mudanya, Agustinus, mengejar ketenaran dengan belajar filsafat, mencari rasa puas akan kehausan intelektualnya. Bukan cuma itu, ia mengisi hidupnya dengan foya-foya dan bergelimang dosa. Tetapi apa yang ditemukannya? Kekosongan. Hingga ketika kasih Tuhan menyentuhnya ia berkata: “Engkau telah mencipta kami bagi diri-Mu, dan hati kami tidak tenteram sebelum beristirahat di dalam Engkau.” Allah telah menaruh ke dalam hati kita, keinginan untuk mencari dan menemukan-Nya. Kita selalu punya rasa rindu di dalam hati kita untuk mencapai ketenangan, kedamaian, dan kebahagiaan, dan Allahlah sumber dari segala yang kita cari dan rindukan. Agustinus memuaskan rasa haus dan laparnya pada hal-hal duniawi, tetapi hanya ketika ia menemukan Tuhan, maka ia dipuaskan.

Ketiga, di bagian akhir bacaan Injil dikisahkan para murid mencari makanan. Ketika mereka kembali, mereka menawarkan makanan kepada Yesus tetapi Yesus berkata: “PadaKu ada makanan yang tidak kamu kenal.” (Yoh 4: 32). Maka para murid berpikir bahwa ada orang yang sudah memberi Yesus makanan. Tetapi Ia berkata: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya,” (Yoh 4: 34).

Makanan, seperti air, merupakan kebutuhan dasar kita. Tanpa makanan, kita mati. Tetapi ketika Yesus berkata bahwa makanan-Nya adalah melaksanakan kehendak Bapa, ia maksudkan bahwa Ia tidak dapat hidup tanpa ketaatan kepada kehendak Bapa. Sama seperti Yesus, ketaatan dan melaksanakan kehendak Allah haruslah menjadi makanan kita juga.

Menutup renungan ini saya mau cerita:

“Pace, hari ini hari Minggu… mari pi gereja!” kata seorang bapak kepada temannya.
“Hmmmm….. Sa sibuk ini, sobat, biar mace dengan anak-anak saja pi gereja.”

Teman-teman akrabnya juga sudah mengingatkan sehari sebelumnya: “Sobat, besok pi gereja eh….” “Hmmmmm….. biar mace dan anak-anak saja pi gereja besok,” jawabnya.

Ternyata, sebelumnya ia juga sudah bertemu dengan pastor paroki. “Anak, besok pi gereja eh…” pastor mengingatkannya.

“Pastor, sa so janji deng teman-teman mo pi jaring ikan ni…. Gereja tra kosong juga mo… kalau sa tidak pigi gereja. Biar mace deng anak-anak saja besok pi gereja.”

Suatu kali keluarga itu bepergian bersama satu mobil dan mengalami kecelakaan. Semua penumpang dalam mobil tewas. Singkat cerita, ketika keluarga itu sampai di pintu surga, Santo Petrus melihat mereka bersama-sama masuk. Melihat bapak itu St Petrus berkata: “Eeee…. Ko mo pi mana?”

“Ke dalam,” jawab bapak itu. “Sama-sama to satu keluarga….,” lanjutnya.

Santo Petrus menjawab: “Hmmmmmm……. Mace deng anak-anak saja!”

Di masa Prapaskah ini, kita diingatkan, agar tidak hanya “cari makan” jasmani saja. Tetapi juga mengarahkan diri pada kehidupan kekal.

Author

Write A Comment