Remah Harian

JADILAH PROTAGONIS PERUBAHAN

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Sabtu, 10 Februari 2024, Peringatan St. Skolastika
Bacaan: 1Raj. 12:26-32; 13:33-34Mzm. 106:6-7a,19-20,21-22Mrk. 8:1-10

MRK 8: 2

Bagi pembaca Injil masa kini, mungkin perilaku empat ribu orang itu tampak tidak masuk akal. Mereka meninggalkan rumah mereka untuk mengikuti seorang pengkhotbah, bahkan mengabaikan kebutuhan dasar mereka. Mereka memilih untuk tetap dekat dengan Kristus, dan Dia “tergerak oleh belas kasihan”, karena mereka lapar. Sudah tiga hari mereka mengikuti Yesus dan mereka tidak mempunyai makanan.

Dua peristiwa Yesus memberi makan orang banyak disebutkan dalam Injil Markus, yang pertama dalam bab enam. Disebutkan di sana, Yesus memberi makan lima ribu orang. Pada peristiwa pemberian makanan yang pertama, kerumunan orang banyak itu sebagian besar adalah orang Yahudi. Di sana, Yesus tenggelam dalam khotbah dan pengajaran, dan para murid mengingatkan-Nya akan kebutuhan fisik orang banyak itu. Peristiwa pemberian makan yang kedua, terjadi di “sisi lain” Danau Galilea, yang sebagian besar dihuni oleh orang-orang kafir. Di sini, Yesus yang tergerak hati-Nya melihat orang-orang yang kelaparan dan mengingatkan para murid yang tampaknya tidak terlalu tertarik dan mencari-cari alasan.

Dalam hal menjadi Gereja, jika kita membatasi diri kita untuk melayani hanya “kalangan kita” saja, Yesus terus mengguncang kita untuk sadar akan kebutuhan sehari-hari mereka yang berada di “sisi lain” tembok Gereja – karena semua orang penting berharga.

Yesus memiliki kuasa untuk mengatasi segala persoalan, juga soal kelaparan. Namun, Dia tidak mengatasinya sendiri, melainkan mengundang para murid untuk menjadi “misionaris” untuk memberi makan mereka yang lapar. “Berapa roti ada padamu?” adalah pertanyaannya. Hari ini, Yesus juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada kita. Tidak peduli seberapa kecil atau tidak pentingnya, apa yang kita miliki sudah cukup bagi Tuhan, asalkan kita mau berbagi.

Dalam Ekshortasi Apostolik Christus Vivit  no. 174, Paus Fransiskus menghimbau kaum muda dunia: “Tolong, jangan serahkan kepada orang lain untuk menjadi protagonis perubahan. Kalianlah yang memegang masa depan! Yesus bukanlah seorang pengamat. Dia terlibat. Jangan berdiri menyendiri, tetapi benamkanlah diri Anda dalam realitas kehidupan, seperti yang Yesus lakukan. … Berjuanglah demi kebaikan bersama, layanilah orang miskin, jadilah protagonis revolusi cinta kasih dan pelayanan, yang mampu melawan penyakit konsumerisme dan individualisme yang dangkal.”

Tuhan, bantulah kami untuk tidak meninggalkan siapa pun yang berkebutuhan dan semoga kami dengan tangan terbuka melayani satu sama lain. Amin.

Catatan: Protagonis = tokoh utama
Author

Write A Comment