Sabda Hidup
Rabu, 13 Desember 2023, Peringatan Wajib St. Lusia
Bacaan: Yes. 40:25-31; Mzm. 103:1-2,3-4,8,10; Mat. 11:28-30
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
(Mat 11: 28)
Apakah Anda seorang ibu yang tugas keseharian yang berat di rumah? Atau seorang ayah yang bekerja keras untuk menafkahi keluarga? Atau seorang sukarelawan untuk gereja atau komunitas? Pasti ada beban yang anda harus pikul. Namun saya yakin hal itu akan terasa ringan – karena Anda melakukannya karena kasih.
Kita pasti pernah merasa lelah dengan semua tanggung jawab kita dan hal-hal yang tidak pernah selesai yang meminta perhatian kita. Akan tetapi, apapun yang kita alami dalam hidup kita, Tuhan kita tidak pernah jauh, juga ketika kita sedang mengalami persoalan. Yesus mengundang kita: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan,” (Mat 11: 28 -29). Melalui Nabi Yesaya kita juga diingatkan: “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya,” (Yes 40: 29).
Yesus tidak mengatakan bahwa jika kita datang kepada-Nya, kita tidak punya masalah lagi, tidak ada lagi penderitaan, tidak ada lagi kekecewaan. Tetap akan ada “kuk” untuk kita pikul. Akan tetapi, kuk yang dipasang oleh Yesus bukanlah kuk agar kita menarik beban sendiri, tetapi untuk menarik beban bersama-sama dengan Yesus. Yesus tidak berjanji bahwa tidak akan ada lagi beban. Tetapi Ia akan memikulnya bersama dengan kita. Hidup tanpa penderitaan, tanpa kesalahan, tanpa kekecewaan, hidup tanpa kesulitan dan tantangan, bukan hidup lagi namanya. Tantangan hidup sangat penting bagi kita untuk tumbuh dan matang. Tetapi semua itu lebih mudah untuk dipikul ketika Dia memikulnya bersama dengan kita. Kita tahu bahwa kita tidak pernah sendirian dalam kesulitan dan kesengsaraan kita.
Advent mengingatkan kita bahwa Allah Putera datang dan menjadi manusia dan menjadi sama dengan kita. Meski ia tidak berdosa, ia mengalami segala efek dosa dan beban yang menyertainya. Ia menghidupi kemanusiaan secara utuh, mengalami segala kesulitan dan beban kita.
Bersama dengan Yesus, kita mempunyai keyakinan bahwa “orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya, mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah,” (Yes 40: 31). Selama kita memiliki harapan kepada Tuhan, kita akan selalu dapat menghadapi semua tantangan dalam hidup. Seperti yang dikatakan Santo Paulus, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku,” (Flp 4:13).
Ya Tuhan, pada Natal yang akan datang ini, semoga aku menerima pengharapan, damai sejahtera dan kelegaan yang Engkau janjikan, saat aku memikul kuk-Mu dengan kasih – dan bersama-Mu. Amin.
