Remah Harian

NAMA-NYA ADALAH BELAS KASIH

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Jumat, 3 November 2023, Jumat Pekan Biasa XXX
Bacaan: Rm. 9:1-5Mzm. 147:12-13,14-15,19-20Luk. 14:1-6.

Yesus berkata kepada ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu, kata-Nya: “Diperbolehkankah menyembuhkan orang pada hari Sabat atau tidak?”

(Luk 14: 3)

Sebenarnya ada beberapa pengecualian sehubungan dengan larangan bekerja pada hari Sabat, terutama jika hal itu berkaitan dengan bahaya kematian yang serius, seperti menyelamatkan hewan yang jatuh ke dalam sumur atau merawat orang yang sakit yang mengancam jiwa. Penyakit busung air atau yang sekarang kita sebut asistes, suatu kondisi tidak normal di mana rongga perut (abdomen) terisi oleh cairan yang berlebihan, mungkin tidak selalu dalam kategori dalam bahaya yang mengancam jiwa.     

Ah, tapi kita mungkin melihat subjek yang salah. Mungkin bahaya kematian yang mengancam lebih menunjuk pada orang-orang Farisi terutama yang berkaitan dengan iman mereka.     

Injil mengatakan bahwa orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus. Jadi, bahkan tanpa mereka mengucapkan sepatah kata pun, Yesus dapat membaca bahasa tubuh mereka, seluruh konteks, dan yang terpenting, hati mereka. Mereka dipenuhi dengan pandangan legalistik dan dari cara padang yang kaku,  mengamat-amati Yesus. Ada tujuh peristiwa yang dicatat oleh Injil di mana Yesus menyembuhkan pada hari Sabat. Namun sayangnya, setiap peristiwa itu tampaknya semakin memicu permusuhan dari para pemimpin agama dan bukannya mengundang kekaguman dan rasa syukur dari mereka. Dalam perikop ini, para ahli Taurat dan orang Farisi sedang mengawasi Yesus tentang apa yang akan Dia lakukan pada hari Sabat. Mereka ingin menangkap basah Yesus melanggar ritual Sabat sehingga mereka dapat menuduh-Nya melanggar hukum Allah. Dalam hal ini mereka yakin bahwa Yesus adalah orang yang berbahaya dan tidak menghormati agama, seorang pelanggar hari Sabat, yang harus dihentikan dengan cara apa pun.

Ketegangan antara huruf-huruf hukum Taurat dan roh dari hukum itu telah menjadi masalah yang terus berulang dalam pelayanan Yesus. Kekerasan hati orang Yahudi lahir dari keyakinan bahwa hukum Taurat berasal dari Allah sebab diberikan langsung kepada Musa. Sayangnya, para pengganti Musa telah menambahkan begitu banyak hukum yang menyempurnakan dan merinci apa yang diberikan kepada Musa itu. Seiring berjalannya waktu, ketaatan pada bunyi hukum Taurat menjadi lebih penting, sementara semangat hukum Taurat dilupakan atau dianggap nomor dua. Bagian dari misi Yesus adalah untuk memulihkan semangat dari hukum tersebut dan memperjelas makna, arti penting, serta tujuan hukum Taurat.

Bagaimana kita menerapkan hukum? Bagaimana kita melihat dan memahami hukum-hukum Allah? Apakah kita hanya puas dengan mengikutinya sesuai dengan bunyi hukumnya? Apakah itu cukup? Pengalaman menunjukkan bahwa hal itu tidaklah cukup. Mengikuti hukum tanpa meresapinya adalah kepatuhan yang kering dan tidak memperkaya. Hukum bukanlah tujuan akhir. Hukum harus menjadi sarana untuk mencapai tujuan. Bagi murid-murid Kristus, tujuannya adalah untuk bersatu dengan Allah. Hal ini terdiri dari ketaatan kepada Allah. Dengan menjadi taat, kita bertumbuh dalam iman kita. Ketika kita mengembangkan dan memperkaya iman kita, kita menjadi kudus. Kekudusan menuntun kita kepada persatuan dengan Allah. Sekadar mengikuti hukum/aturan saja akan membuat hubungan kita dengan Allah mandek. Ketika hukum atau aturan dihidupi secara ekstrem, hal itu menjadi berhala. Hukum yang disembah dan bukan Sang Pembuat Hukum.

Janganlah kita melakukan kesalahan itu. Orang-orang Farisi dan ahli Taurat terbelenggu oleh sikap seperti itu. Dengarkanlah Yesus dan Anda akan tahu bagaimana mengikuti hukum dalam secara benar. Dan sesungguhnya, nama Tuhan adalah Belas Kasih. Dan meskipun kita memiliki hukum dan aturan yang harus diikuti, yang mungkin tidak selalu dapat menangkap pergumulan hati manusia yang berdenyut dengan penuh kepedihan di tengah-tengah dunia yang kacau, undangan utama kita adalah untuk melihat setiap orang sebagai pribadi yang diciptakan segambar dengan Dia dan dikasihi-Nya.

Tuhan, semoga hidup kami menjadi pancaran belas kasih-Mu. Semoga mereka yang berjumpa denganku, melihat dan mengalami belas kasih-Mu.

Author

Write A Comment