Sabda Hidup
Selasa, 22 Agustus 2023, Peringatan Wajib St. Perawan Maria Ratu
Bacaan: Hak. 6:11-24a; Mzm. 85:9,11-12,13-14; Mat. 19:23-30
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
(Matius 19: 23 – 24)
Apakah Yesus sungguh-sungguh menentang kekayaan (Mt 19: 23)? Mengapa ia menyampaikan peringatan keras kepada orang kaya (juga kepada kita yang ingin menjadi kaya)? Kita tahu bahwa Yesus tidak menentang kekayaan, Ia juga tidak menentang orang-orang kaya. Banyak di antara pengikut-Nya yang kaya, termasuk para pemungut cukai. Bahkan salah seorang pemungut cukai menjadi rasul-Nya! Apa yang diampaikan Yesus menggemakan kebijaksanaan Perjanjian Lama: “Lebih baik orang miskin yang bersih kelakuannya dari pada orang yang berliku-liku jalannya, sekalipun ia kaya,” (Amsal 28: 6); “Lebih baik yang sedikit pada orang benar dari pada yang berlimpah-limpah pada orang fasik,” (Mzm 37: 16); “Jangan bersusah payah untuk menjadi kaya, tinggalkan niatmu ini,” (Amsal 23: 4).
Akan tetapi, mengapa Ia mengatakan “lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah”? Unta dipandang sebagai binatang yang terbesar di Palestina. Sedangkan “lubang jarum” dapat dipahami baik secara harafiah maupun secara figuratif menggambarkan gerbang yang rendah dan sempit pada dinding kota, yang digunakan ketika gerbang utama sudah ditutup dan dikunci pada waktu malam. Orang harus menunduk ketika melewati gerbang kecil dan sempit itu. Unta harus merangkak untuk memasukinya.
Demikianlah, di hadapan Allah, kita harus “berlutut” dan “merangkak” merendahkan diri serta mengakui kebutuhan dan ketergantungan total kepada-Nya. Tanpa merendahkan diri di hadapan-Nya kita tidak akan mendapatkan damai, rasa aman dan kebahagiaan yang sejati. Hanya Allah saja yang dapat memuaskan kebutuhan dan kerinduan kita yang terdalam.
Hari ini kita peringati Santa Perawan Maria Ratu. Peringatan St Perawan Maria Ratu dirayakan tujuh hari setelah Hari Raya St Perawan Maria Diangkat ke Surga, yaitu tanggal 22 Agustus. Keratuan Maria tidak dapat dipisahkan dengan Yesus sebagai Raja Kekal. Yesus adalah Raja dari segala raja. Kerajaan Yesus adalah kekal selama-lamanya. Karena melahirkan Yesus yang adalah Raja atas surga dan bumi, Maria adalah Ratu Surga. Walau demikian, kita ingat, St Perawan Maria menjadi ratu justru karena ia merendahkan diri sebagai hamba yang melaksanakan kehendak Allah.
Ia merendahkan diri dalam ketaatan. Ia adalah yang dikandung tanpa noda… sempurna dalam segala hal. Ia membawa setiap keutamaan dalam dirinya. Dialah Hawa baru, Ibu dari segala yang hidup. Ia diberi gelar ratu justru karena kesederhanaan dan kerendahan hatinya. Sungguh ada banyak alasan bagi Maria untuk diangkat ke tempat paling tinggi, untuk dihormati sepanjang hidupnya. Tetapi dalam kerendahan hatinya, ia tidak menuntut semuanya itu. Ia justru tetap tinggal tersembunyi dan dengan setia melaksanakan kehendak Allah. Ia konsekuen dengan apa yang dikatakan: “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-Mu.”
Mari, kita juga merendahkan diri di hadapan Allah. Kita mengakui ketergantungan total kita kepada Allah, sambil taat melaksanakan kehendak-Nya. St. Agustinus pernah berkata: “Meskipun engkau berkelimpahan, engkau tetap miskin. Engkau berkelimpahan akan barang milik yang sementara, sedangkan engkau membutuhkan yang abadi. Engkau memperhatikan kebutuhan pengemis, sendangkan engkau sendiri adalah seorang pengemis di hadapan Allah. Apa yang kau perbuat terhadap mereka yang mengemis kepadamu, itulah yang akan dilakukan Allah kepadamu…. Penuhi kekosongan sesamamu dari kepenuhanmu, agar kekosonganmu diiisi oleh kepenuhan Allah,” (Kotbah 56, 9).
Tuhan Yesus, Engkau telah membuka hati-ku bagi kekayaan surgawi. Semoga Engkau selalu menjadi kekayaan dan kegembiraanku dan semoga tiada hal-hal lain yang menghalangiku mempersembahkan segalanya bagi-Mu. Bunda Maria, Ratu Surga dan Bumi, ajar aku merendahkan diri di hadapan Allah. Amin.
