Sabda Hidup
Kamis, 20 Juli 2023, Kamis Pekan Biasa XV
Bacaan: Kel. 3:13-20; Mzm. 105:1,5,8-9,24-25,26-27; Mat. 11:28-30.
Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.”
(Mat 11: 28 – 30)
Terlalu indah untuk dilewatkan, undangan Yesus ini. Undangan yang indah, terutama bagi kita dalam kehidupan masa kini, di mana kita selalu terburu-buru ke sana ke mari, dan tidak menemukan ketenangan jiwa.
Kuk seperti apakah yang Yesus maksudkan untuk kita? Dan bagaimana hal itu baik bagi kita? Kuk merupakan gambaran yang digunakan oleh orang-orang Yahudi, yang mengungkapkan kepasrahan dan kepatuhan kepada Allah. Mereka berbicara tentang kuk hukum Taurat, kuk perintah-perintah, kuk kerajaan dan kuk Allah. Tetapi “Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.” (Mat. 23:4). Mereka berbicara tentang “kuk Allah,” atau “kuk hukum Taurat,” tetapi Yesus berbicara tentang “kuk-Ku”.
Ketika orang-orang Yahudi berbicara tentang kuk Allah, Yesus berkata: “kuk yang Kupasang”. Kuk yang diberikan-Nya itu enak dan beban-Nya pun ringan. Kuk-Nya tidak lain adalah jalan kasih-Nya, mengikuti Perintah Allah dan mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri. Kuk Yesus yang “enak”’ juga dapat berarti “pas.” Kuk dibuat secara khusus agar pas dengan sapi yang memakainya. Kita diperintahkan untuk memikul ‘kuk Yesus yang manis’ dan menjalani ‘cara hidup dan kebahagiaan surgawi’. Kuk-Nya ringan bukan karena Dia menuntut lebih sedikit, tetapi karena, tidak seperti ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, Dia yang “lemah lembut dan rendah hati” itu bersama-sama memikul kuk itu.
Yesus berkata, “pikullah kuk yang Kupasang,” juga berarti bahwa kita akan berdampingan belajar dari Yesus; kita akan berbagi beban dengan Yesus secara berdampingan; berdampingan dengan Yesus dalam melakukan pekerjaan yang diberikan-Nya. Dengan kata lain, Dia adalah mitra kita, rekan satu tim dan pasangan dalam memikul kuk kita. Betapa berbedanya pendekatan-Nya dengan pendekatan orang-orang Farisi. Dia menolong, sedangakan mereka hanya menunjukkan kesalahan yang mereka lihat. Mereka sombong; Dia lemah lembut dan rendah hati.
Kita memiliki kuk kita sendiri seperti: kekhawatiran, kepahitan, rasa bersalah, penyakit, kekecewaan, kehilangan pekerjaan, hubungan yang sulit, kecanduan dan sebagainya. Tetapi Yesus secara pribadi melihat semua kuk kita secara langsung. Dia sepenuhnya menyadari pergumulan dan frustrasi hidup kita. Dia sangat sadar akan beban berat yang kita pikul dalam hidup kita. Dia ingin meringankan beban kita. Bagaimana Yesus dapat meringankan beban kita? Hanya dengan kasih, Yesus dapat menolong kita dan membantu kita meringankan beban orang lain. Kita juga memiliki kuasa untuk meringankan sebagian beban kita sendiri karena sebagian beban kita berasal dari diri kita sendiri. Dan tidak ada beban yang terlalu berat jika diberikan dan dipikul dalam kasih.
“Hanya di dalam Tuhanlah manusia dapat hidup sepenuhnya. Tanpa Dia, manusia sakit secara permanen. Penyakitnya mempengaruhi kebahagiaan dan kapasitasnya untuk bahagia… Agar mampu menjalani kehidupan yang utuh, manusia harus berada dalam hubungan tertentu dengan Allah dan menaati aturan-aturan tertentu. Dan kapasitas untuk kebahagiaan sejati serta kehidupan yang penuh sukacita juga bergantung pada kondisi-kondisi tertentu dalam kehidupan manusia, pada sikap yang serius terhadap Tuhan. Kehidupan tanpa persekutuan dengan Tuhan akan menjadi abu-abu dan kotor, penuh perhitungan dan tanpa sukacita,” [Alfred Delp, The Prison Meditation, hal. 29).
Apa yang kita buat ketika kita merasa terbebani? Datang kepada Yesus atau lari ke hiburan yang tidak sehat?
Yesus, aku datang kepada-Mu sekarang dengan beban-beban beratku. Dengan rendah hati aku mohon agar Engkau memikulnya bersamaku. Biarkan aku beristirahat dalam kasih-Mu. Amin.
