Remah Harian

DINYATAKAN KEPADA ORANG KECIL

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Rabu, 19 Juli 2023, Rabu Pekan Biasa XV
Bacaan: Kel. 3:1-6.9-12Mzm. 103:1-2,3-4,6-7Mat. 11:25-27.

Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil.”

(Mat 11: 25)

Hidup itu rumit. Benarkah demikian? Kadang-kadang segala sesuatunya bisa tampak sangat rumit. Situasi hidup sehari-hari yang kita hadapi, hubungan dengan keluarga, dengan sahabat-sahabat, masa depan, masa lalu, dan sebagainya, semuanya dapat tampak membebani dan rumit. Tetapi, benarkah demikian? Kebenarannya, jawaban Tuhan untuk pertanyaan-pertanyaan yang paling “rumit” dalam hidup sering kali cukup sederhana untuk dimengerti oleh anak kecil [terjemahan bahasa Indonesia: orang kecil].

Dalam kutipan Injil hari ini, Yesus menegaskan bahwa Bapa menyatakan jawaban dan hikmat-Nya kepada orang kecil. Menariknya, Dia juga menyatakan bahwa Bapa telah “menyembunyikan hal-hal itu dari orang bijak dan pandai.” Hal ini menimbulkan pertanyaan… manakah yang lebih baik, menjadi “orang bijak dan pandai” atau “seperti anak kecil?” Jelas jawabannya adalah lebih baik menjadi seperti anak-anak.

Hal ini mungkin tampak membingungkan pada awalnya. Mungkin terasa aneh untuk mengatakan bahwa tidak baik untuk menjadi “bijaksana dan pandai”. Namun, yang dimaksud adalah tidak baik menjadi orang yang merasa sudah mengetahui semuanya. Tidak baik menjadi sombong dan sok tahu. Tidak baik membangun sikap yang dipenuhi dengan kesombongan sehingga kita berpikir bahwa kita memiliki jawaban untuk segala hal.

Yang ideal adalah memiliki karakter tertentu dari seorang anak. Khususnya, adalah baik untuk menjadi pribadi yang terbuka, ingin tahu, dan mau belajar. Adalah baik untuk melihat kehidupan dengan cara yang paling sederhana dan berpegang teguh pada hal-hal yang mendasar. Tentu saja, bertumbuh dalam hikmat dan pengetahuan akan hal-hal yang berasal dari Allah itu baik. Tetapi hikmat dan pengetahuan yang sejati selalu mempertahankan kepolosan dan kesederhanaan. Kesederhanaan mempertahankan kebaikan dasar dan penerimaan akan yang benar dan yang salah. Hidup tidak harus rumit, tetapi harus menjadi sangat sederhana.

Mereka yang bijak dan pandai dari dunia ini, adalah, mereka yang mengandalkan pemahamannya sendiri, tidak dapat menerima wahyu yang dibawa oleh Kristus kepada kita. Pandangan/pemahaman adikodrati selalu berhubungan dengan kerendahan hati. Orang yang rendah hati, yang tidak menganggap dirinya penting, dapat melihat/ memahaminya; sedangkan orang yang mengandalkan keyakinan diri sendiri gagal untuk memahami hal- hal yang adikodrati.

Jadi, inti yang ingin disampaikan di sini adalah bahwa wahyu Allah yang disampaikan Kristus hanya dapat dipahami dengan sikap kerendahan hati, seperti halnya sikap anak- anak atau orang- orang yang sederhana, yaitu dengan sikap miskin di hadapan Allah. Ini sejalan dengan pesan pertama dalam khotbah di bukit (Mat 5:3), “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Maka kita semua dipanggil untuk mempunyai sikap kerendahan hati dan kesederhanaan ini di hadapan Allah, mau mendengarkan dan mau menerima pengajaran iman seperti yang diajarkan oleh Kristus dan para rasul-Nya, tanpa berkeras memegang pandangan sendiri sesuai dengan pemahaman pribadi.

Renungkanlah hari ini, seberapa siap dan bersediakah Anda berpaling kepada Tuhan untuk mendapatkan jawaban yang sederhana dan jelas atas pertanyaan-pertanyaan yang paling sulit dalam hidup ini. Sejauh mana kita mempercayakan diri kepada Tuhan yang memiliki semua jawaban untuk hidup kita?

Tuhan, aku menghadap kepada-Mu dengan penuh kepercayaan. Tolonglah aku untuk menyadari bahwa semua hikmat berasal dari-Mu dan bukan dari diri saya sendiri. Tolonglah aku untuk mempercayakan diri kepada-Mu seperti seorang anak kecil. Bantulah aku untuk menjadi sederhana dan rendah hati seperti yang Engkau kehendaki.

Author

Write A Comment