Sabda Hidup
Minggu, 16 Juli 2023, Minggu Biasa XV Tahun A
Bacaan: Yes. 55:10-11; Mzm. 65:10abcd,10e-11,12-13,14; Rm. 8:18-23; Mat. 13:1-23 (panjang) atau Mat. 13:1-9 (singkat).
Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat,”
(Mat 13: 3 – 8)
Yesus benar-benar seorang pengkhotbah dan guru yang hebat karena Dia berbicara dalam bahasa orang banyak sehingga orang banyak dapat memahami Dia. Dia menggunakan cerita, membuat perbandingan, dan menggunakan contoh-contoh, semuanya dari kehidupan sehari-hari orang-orang yang Dia ajak bicara.
Benih dalam perumpamaan hari ini adalah firman Allah dan benih itu jatuh di tanah yang berbeda-beda. Penaburnya adalah Allah sendiri. Sebagian tanah itu baik. Tetapi ada yang bersemak-duri dan berbatu-batu, dan ada merupakan tanah pinggir jalan. Tanah-tanah ini, seperti yang dikatakan oleh seorang imam dalam homilinya dalam Injil ini, mewakili empat jenis anggota di dalam gereja atau mewakili empat jenis hati.
Yang pertama adalah pinggir jalan. Orang yang menjadi tanah pinggir jalan menganggap bahwa Sabda Allah, Gereja dan sakramen-sakramen sudah ketinggalan zaman, kuno, tidak relevan, tidak perlu, tidak penting dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan mereka. Itulah sebabnya, beberapa orang lebih memilih untuk tinggal di rumah mereka, menonton televisi atau cari biburan lain yang lebih menarik atau pergi ke arena sabung ayam mungkin. Mereka lebih suka memuja bintang film pujaan dari Korea daripada memuja Kristus dari Nazareth. Ini juga dapat merujuk pada orang-orang yang mungkin terjebak dalam tipu daya rasionalisme. Mereka tidak mau menerima pemikiran dan gagasan yang bertentangan dengan mereka. Mereka ini dapat disebut orang Katolik yang berpikiran tertutup.
Yang kedua tanah berbatu. Mereka adalah orang-orang yang mulai dengan begitu semangat menghadiri seminar-seminar hidup baru dalam roh, kegiatan ini dan itu, tetapi ketika penderitaan dan kesulitan datang dalam hidup mereka, mereka segera menyerah. Bahkan dengan gampang meninggalkan iman. Tidak ada komitmen yang nyata. Panas-panas tahi ayam….
Yang ketiga adalah tanah yang bersemak-duri. Ini adalah tipe orang yang begitu disibukkan dengan akumulasi materi dan hal-hal duniawi lainnya sampai-sampai doa dan pelayanan kasih dilupakan. Mengikuti misa di hari Minggu adalah rutinitas dan hanya sebuah kewajiban, bukan karena mereka ingin berjumpa dan bersyukur kepada Tuhan. Bukan berarti kita menentang harta benda, tetapi kita diingatkan bahwa perkembangan dan kemajuan manusia itu harus holistik, tidak hanya segi fisik. Mereka yang hanya sibuk dengan urusan duniawi itu seperti orang bungkuk, karena mereka selalu membungkuk untuk mencari kesejahteraan materi dan mereka jarang melihat ke atas untuk berterima kasih kepada Tuhan yang merupakan pemilik sebenarnya dari apa yang mereka miliki.
Yesus berkata bahwa sebagian benih itu jatuh di tanah berbatu… dan menjadi layu karena tidak memiliki akar. Akar tidak terlihat, tidak dikenali dan dilupakan. Seberapa sering kita berkata: “Betapa lezatnya buah mangga dari pohon ini.” Tapi berapa banyak dari kita yang mengatakan: “Pohon mangga ini atau tanaman ini atau bunga ini pasti memiliki akar yang baik”?
Akar itu sendiri cukup jelek. Mereka kotor, panjang, tipis, bengkok. Namun secara paradoks, mereka mereproduksi keindahan di atas tanah. Akar adalah kekuatan dan kehidupan pohon, tanaman dan bunga.
Pelajaran apa yang bisa kita pelajari dari akar? Ada tiga:
Yang pertama, kita selalu khawatir dengan penampilan kita, bagaimana orang lain melihat kita atau dengan realitas yang terlihat. Kita mencoba berbagai cara untuk membuat diri kita terlihat lebih baik. Tetapi seperti pohon, bunga dan tanaman, nilai dan martabat kita yang sesungguhnya berasal dari akar dan kita semua adalah anak-anak Allah.
Yang kedua adalah penyangkalan diri. Kita tidak melakukan apa yang menyenangkan diri kita saja, tetapi kita melakukan apa yang menyenangkan hati Allah. Seperti akar, penyangkalan diri itu jelek dan sulit. Tetapi seperti akar, penyangkalan diri menghasilkan pengendalian diri secara eksternal dan sikap tidak mementingkan diri sendiri yang dikagumi orang lain.
Akhirnya, yang ketiga, akar yang memberi kita kekuatan adalah pengenalan dan kasih akan Yesus Kristus. Pengenalan dan kasih akan Kristus ini terlihat dalam perkataan dan tindakan kita.
Jadi, sahabat-sahabat terkasih, marilah kita merenungkan kehidupan pribadi kita berdasarkan Injil ini. Termasuk dalam golongan manakah Anda? Apakah kita seperti tiga jenis tanah yang tidak memberikan kesempatan bagi benih firman Allah untuk bertumbuh dan mengubah diri kita? Sungguh berakarkah hidup kita?
Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman sebagaimana telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. (Kolose 2:7)
