Sabda Hidup
Minggu, 2 Juli 2023, Minggu Biasa XIII Tahun A
Bacaan: 2Raj. 4:8-11,14-16a; Mzm. 89:2-3,16-17,18-19; Rm. 6:3-4,8-11; Mat. 10:37-42.
Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku, dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.”
(Mat 10: 40)
Bacaan Injil hari ini menurut pengamatan saya terdiri dari dua bagian. Bagian pertama, Mat 10: 37 – 39 berbicara tentang syarat-syarat mengikuti Yesus. Syarat-syarat itu adalah: 1) menjadikan Yesus nomor satu, 2) memikul salib, dan 3) berani mengorbankan nyawa karena Yesus. Bagian kedua, Mat 10: 40 – 42, berbicara tentang hospitalitas, keramahtamahan. Poin tentang keramahtamahan ini dapat dihubungkan dengan bacaan pertama (2Raj. 4:8-11,14-16a) yang mernceriterakan hospitalitas sebuah keluarga di Sunem terhadap Nabi Elisa. Dikatakan dalam perikope itu “seorang perempuan kaya” tetapi ia meminta pendapat kepada suaminya jadi bisa dikatakan yang memberi tumpangan kepada Nabi Elisa adalah sebuah keluarga.
Saya ingin mengajak anda semua merenungkan poin tentang hospitalitas ini. Hospitalitas, keramahtamahan, sesuatu yang tidak asing dengan kehidupan kita. Sudah biasa kalau kita saling bertamu, apalagi sudah akrab, bertanya: So makan? Itu sudah biasa bagi kita orang Timur. Waktu saya di Philippines sudah biasa selain orang bertanya, “Komusta” (Apa kabar?) orang juga bertanya, “Kumain ka na?” (Sudah makan?). Yang belajar bahasa Mandarin, katanya, ketika orang kumpul-kumpul juga menyapa ‘Ni chi guo le ma?’
Nah, apa kata Injil hari ini? “Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku…” (Mat 10 : 40). Keramahtamahan bukanlah hal yang gampang. Keramahtamahan menuntut seseorang memberikan waktu dan sumber daya yang lain. Misalnya, ketika saudara, atau bahkan orang asing bertamu untuk waktu yang lama, kita menyediakan tempat/kamar untuk istirahat. Sudah menjadi hal wajar kita menjamu tamu yang datang, menyediakan makanan. Sahabat-sahabat di Manado saat menjamu kami sering kali bilang, “Adoh…kasiang Pastor… nyanda ada apa-apa ini… nyada ada ikang……” tetapi di meja tersaji “ikan ayam, ikan babi, ikan rw…. dst….” Di Manado semua lauk disebut “ikan”. Akan tetapi lebih dari itu, hospitalitas merupakan pernyataan cinta kasih Kristiani. Keramahtamahan menjadi tanda dan sarana kemurahan Allah.
Dalam bukunya, Reaching Out, Henri Nouwen mengatakan bahwa hospitalitas adalah: “menciptakan ruang yang ramah di mana orang asing dapat datang dan pergi dalam kebebasan dan juga memberi ruang kosong yang nyaman bagi mereka.” Marcel Lefebvre dalam Une Parole Liberatrice berkata bahwa hospitalitas adalah: “Kemampuan untuk melepaskan kenyamanan dan kesejahteraan (untuk diberikan kepada orang lain tentunya) dan menempatkan diri (saya) di tempat orang lain.”
Tetapi apa tandanya kita mengikuti ajaran Yesus tentang keramahtamahan? Ada tiga tanda kita menghidupi keramahtamahan:
Pertama, saat kita rela berbagi waktu, bakat dan kemampuan, serta harta benda. Tentu itu tidak sama dengan berbagi waktu dan uang untuk bersama-sama beli sopi dan mabuk berjamaah.
Kedua, saat kita rela bersimpati atau membantu orang lain tanpa diminta; rela berbagi kebersamaan dengan orang lain karena alasan-alasan tertentu, saat kita menghormati pendapat orang lain apalagi dalam hal-hal penting, dan rela membantu tanpa mengharapkan imbalan.
Ketiga, setia dengan ajaran Kristus sendiri: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku,” (Mat 25: 40). Kiranya ini senada dengan sabda-Nya hari ini: “Barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya.”
Sebagai penutup saya kutip kata-kata Paus Fransiskus: “Loves always gives life, fosters growth.” Kasih selalu memberi hidup dan menumbuhkan. Dan St. Paulus berkata: “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang,” (Gal 6: 9 – 10).
