Sabda Hidup
Kamis, 29 Juni 2023, Hari Raya St. Petrus dan Paulus
Bacaan: Kis. 12:1-11; Mzm. 34:2-3,4-5,6-7,8-9; 2Tim. 4:6-8,17-18; Mat. 16:13-19.
Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”.
(Mat 16: 19)
Kita adalah komunitas yang menghargai kenangan-kenangan inspiratif. Kita ingat leluhur-leluhur kita dalam iman, sebagai ungkapan terima kasih kita kepada mereka dan juga untuk belajar dari mereka. Dua tokoh besar yang kita rayakan hari ini berkisah tentang kuasa Allah yang mengubah dan mengarahkan hidup seseorang. Kehidupan Petrus dan Paulus benar-benar diubah oleh Yesus yang mereka ikuti. Apa yang dikatakan oleh Paulus dalam suratnya kepada Timotius: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman,” (2 Tim 4: 7) mungkin juga menggambarkan hidup Petrus. Kepercayaan ini bukan berarti memelihara ortodoksi doktrinal formal saja, tetapi lebih berarti bahwa Paulus telah bertindak sesuai dengan iman, bersaksi tentang imannya akan Yesus baik kepada orang yang sudah percaya maupun orang-orang yang belum percaya kepada Yesus. Kata-katanya memberikan pemahaman mendalam akan sukacita tetapi juga harga yang harus dibayar untuk menjadi seorang murid. Ia pada akhirnya dipenjara dan dieksekusi di Roma pada masa penindasan Nero terhadap Gereja pada pertengahan tahun 60-an abad pertama.
Tentang Petrus, Yesus bermaksud agar ia memimpin para pengikut-Nya setelah Ia sendiri meninggalkan dunia ini. Ia juga bermaksud agar orang lain meneruskan kepemimpinan itu setelah Petrus. Tetapi itu tidak berarti bahwa Tuhan harus menyetujui terlebih dahulu setiap perkembangan dan protokol kepausan sejak saat itu, atau seakan-akan setiap tindakan kuria Romawi mempunyai stempel persetujuan ilahi. Sejarah telah menunjukkan beberapa Paus yang mempunyai karakter yang patut dipertanyakan [meski sejak tahun 1700 tidak ada yang sungguh-sungguh tidak bermoral]. Beberapa Paus terbukti sebagai administrator yang kurang cakap, beberapa tidak memiliki kapasitas untuk menginspirasi orang lain. Seremoni seputaran kepausan sering tampak terlalu mewah bagi para penerus Petrus Sang Nelayan. Walau demikian, itu tidak membatalkan inti dari kepemimpinan Petrus dan arti pentingnya untuk Gereja. Janji kepada Petrus tidak menjamin bahwa semua penerusnya akan menjadi orang kudus atau tanpa cacat dan salah. Kita harus menyadari mana yang mendasar bagi iman dan mana yang tidak. Kita ingat akan frasa “Ecclesia semper reformanda,” yang juga berlaku bagi kepausan. Kita percaya pada Tuhan dan cinta-Nya sebagaimana diungkapkan oleh Yesus dan Gereja. Kita tidak menyembah Paus, tetapi kita sangat menghormatinya sebagai penerus Petrus, fokus persatuan dan gembala utama Gereja.
Ada sebuah kisah tentang kematian Petrus di Roma selama penganiayaan kaisar Nero. Ketika dia mendengar rencana Nero untuk membakar kota dan itu akan dituduhkan kepada orang-orang Kristen, Petrus tahu bahwa jika dia ditemukan di kota, dia akan ditangkap dan dihukum mati. Didesak oleh teman-temannya ia melakukan hal yang nampak masuk akal dan bergegas meninggalkan kota pada malam hari melalui Jalan Appia. Ketika malam semakin larut dan api membubung tinggi di langit kota Roma, Petrus melihat seseorang datang ke arah yang berlawanan, menuju ke kota. Wajahnya nampak tidak asing baginya. Maka dalam keterkejutannya ia bertanya, “Quo vadis, Domine?” (Mau pergi ke mana, Tuhan?) “Ke Roma,” jawab orang itu, “Venio Romam iterum crucifigi. (Aku hendak ke Roma untuk disalibkan kembali).”… dan ketika mendengar ini, Petrus segera berbalik dan kembali ke Roma. Petrus memang akhirnya ditangkap dan disalibkan di arena yang dibangun oleh Nero. Karena merasa tidak pantas disalibkan seperti Gurunya, Petrus minta untuk disalibkan dengan kepala di bawah.
Merayakan dua rasul terkemuka ini dalam satu pesta adalah pengingat bagi kita bahwa gereja membutuhkan baik kepemimpinan paus, kanonik, dan kepemimpinan karakter yang lebih karismatik dan inspiratif seperti Paulus, yang selalu siap mempertanyakan cara lama dan mencari bentuk-bentuk baru untuk membawa orang-orang kepada Kristus. Kita berdoa untuk kedua jenis kepemimpinan ini di Gereja saat ini, saat kita menghormati “pilar-pilar kembar Gereja”. Kenangan akan mereka dengan indah diungkapkan oleh Santo Clement dari Roma sekitar tahun 95 ketika dia menulis tentang “para rasul terkenal: Petrus, yang menanggung banyak kerjakeras dan… Paulus yang… setelah mengajarkan kebajikan kepada seluruh dunia, dan sampai pada batas ekstrim dari barat, menderita sebagai martir … menunjukkan contoh kesabaran yang mencolok. ”(Epistle to the Corinthians, par. 5). Cara terbaik untuk menghormati dan mengenangkan mereka adalah dengan menghargai iman yang mereka ajarkan, dan menyebarkannya sebaik mungkin kepada orang lain.
Sama seperti Tuhan memanggil Santo Petrus dan Santo Paulus dengan cara yang berbeda, kita juga dipanggil dengan berbagai cara untuk mengikut Tuhan di sepanjang hidup kita. Janganlah kita mengabaikan panggilan Tuhan. Marilah kita mendengarkan panggilan-Nya dan menjawabnya dengan murah hati. Seperti Santo Paulus, marilah kita bertanding dalam pertarungan yang baik, berlomba menuju garis finis, sambil bertekun dalam iman kita.
Ya Allah, yang pada Hari Raya Rasul Petrus dan Paulus berikanlah kepada kami sukacita yang mulia dan kudus pada hari ini, karuniakanlah agar Gereja-Mu dalam segala hal mengikuti ajaran mereka yang melaluinya kami menerima permulaan agama yang benar. Dengan pengantaraan Tuhan kami Yesus Kristus, Putera-Mu, yang hidup dan memerintah bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
