Sabda Hidup
Selasa, 20 Juni 2023, Selasa Pekan Biasa XI
Bacaan: 2Kor. 8: 1-9; Mzm. 146:2,5-6,7,8-9a; Mat. 5:43-48.
Haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.”
(Mat 5: 48)
Tidak ada hal lain yang lebih jelas menunjukkan kebaruan radikal dari etika Kristiani selain ungkapan sederhana Kristus: “Kasihilah musuhmu.” Ungkapan “sederhana” tetapi kita akui bhawa ini adalah perintah yang paling sulit.
Ada empat kata untuk “kasih” dalam bahasa Yunani, yaitu: Storge, yang menunjuk pada kasih antara orang tua dan anak. Eros adalah cinta ketertarikan antara pria dan wanita. Philia adalah cinta persahabatan. Terakhir, agape adalah cinta sebagai kehendak baik, cinta yang baik hati yang tidak dapat ditaklukkan, cinta yang hanya menghendaki kebaikan bagi orang yang dikasihi. Dalam bukunya, Love and Responsibility, Karol Wojtyla mengatakan bahwa mengasihi seseorang dengan kasih yang sungguh-sungguh baik berarti menghendaki kebaikan bagi orang tersebut, karena Allah adalah kebaikan tertinggi bagi setiap manusia. Kasih sebagai agape inilah yang diminta oleh Kristus dari setiap pengikut-Nya ketika Ia berkata: “Berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”
Mengapa Kristus meminta, bahkan menuntut kita untuk mengasihi dengan kasih yang begitu radikal? Justru karena itulah cara Allah Bapa mengasihi setiap anak-Nya, tanpa memandang apakah mereka baik atau jahat. “Sebab Ia menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” Betapa dunia di sekitar kita akan berubah jika mereka yang berhubungan dengan kita merasakan di dalam diri kita kasih seperti yang dimiliki oleh Bapa yang penuh belas kasih! Kasih-Nya sama sekali tidak mementingkan diri sendiri. Ia terus mengasihi dan mencurahkan karunia-Nya bahkan ketika Ia tidak dikasihi sebagai balasannya. Kristus memanggil kita kepada sebuah cita-cita yang tinggi dan menantang, tetapi yang mampu mentransformasi kehidupan. Sukacita apakah yang lebih besar daripada menjadi putra dan putri sejati dari Bapa surgawi kita?
Mengapa Kristus hampir tanpa henti menegaskan bahwa kita harus menjadi sempurna – dan bukan hanya pada taraf kesempurnaan manusiawi, tetapi menjadi sempurna sebagaimana Bapa surgawi kita sempurna? Dia tahu bahwa itulah rencana awal Bapa bagi umat manusia, sejak awal penciptaan. “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kejadian 1:27).
Kristus sangat menyadari bahwa dosa telah mengaburkan gambar ilahi di dalam diri kita, bahwa panggilan-Nya untuk menyempurnakan kasih tidak mungkin dilakukan oleh kodrat manusia yang telah jatuh ke dalam dosa. Tetapi Dia juga sadar bahwa dengan kuasa wafat dan kebangkitan-Nya sendiri, melalui kehidupan baru dari Roh Kudus yang akan diutus-Nya, rencana awal Allah bagi manusia akan dipulihkan. Tidak ada motif yang lebih kuat untuk berpengharapan, bahkan di tengah-tengah kegagalan kita dalam mengasihi dan kelemahan kita sebagai manusia.
Bertekadlah untuk mendoakan orang-orang yang dengannya anda mengalami kesulitan dan melakukan tindakan kasih untuk mereka.
Terima kasih, Tuhan, untuk pesan radikal-Mu, untuk tantangan yang terus menerus bagiku, yang tidak pernah membiarkan aku berpuas diri. Tolonglah aku untuk menjadi saksi yang lebih baik dari kasih Kristiani sehingga dunia percaya kepada-Mu.
