Remah Harian

BERIKAN PIPI KIRIMU

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Senin, 19 Juni 2023, Senin Pekan Biasa XI
Bacaan: 2Kor. 6: 1-10Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4Mat. 5:38-42.

Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.”

(Mat 5: 39)

Aduh! Sulit….sulit!

Apakah Yesus benar-benar bermaksud demikian? Seringkali, ketika berada dalam situasi di mana seseorang berbuat salah atau menyakiti kita, kita cenderung langsung merasionalisasi ayat-ayat Injil ini dan menganggapnya tidak berlaku untuk kita. Ya, ini adalah ajaran yang sulit untuk diterima dan bahkan lebih sulit lagi untuk dijalani.

Apa yang dimaksud dengan “memberikan pipi yang lain?” Pertama, kita harus melihat hal ini secara harafiah. Yesus bersungguh-sungguh dengan apa yang Dia katakan. Dia adalah contoh yang sempurna untuk hal ini. Dia tidak hanya ditampar di pipi, Dia juga dipukuli secara brutal dan digantung di kayu salib. Dan jawaban-Nya adalah, “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Yesus tidak mengajak kita untuk melakukan apa pun yang Dia sendiri tidak mau melakukannya.

Memberikan pipi yang lain bukan berarti kita menutup mata terhadap tindakan atau perkataan kekerasan orang lain. Kita tidak boleh berpura-pura bahwa mereka tidak melakukan kesalahan apa pun. Yesus sendiri, dalam mengampuni dan meminta pengampunan kepada Bapa, mengakui ketidakadilan besar yang Dia terima di tangan orang-orang berdosa. Tetapi kuncinya adalah Dia tidak membiarkan diri-Nya terseret ke dalam kejahatan mereka.

Sering kali, ketika orang lain melemparkan batu kepada kita, kita tergoda untuk melemparkannya kembali. Kita tergoda untuk melawan dan membalas. Tetapi kunci untuk mengatasi kedengkian dan kekerasan orang lain adalah dengan menolak untuk terseret ke dalam lingkaran kedengkian dan kekerasan itu. Memberikan pipi yang lain adalah cara untuk mengatakan bahwa kita menolak untuk merendahkan diri kita sendiri ke dalam pertengkaran atau perdebatan yang bodoh. Kita menolak untuk terlibat dalam irasionalitas.

Untuk menyelamatkan umat manusia dari belenggu kepahitan dan kemarahan, Yesus menyarankan satu-satunya obat yang pasti: PENGAMPUNAN. Kebencian tidak dapat mengakhiri kebencian, kekerasan tidak dapat mengakhiri kekerasan. Hanya pengampunan yang penuh kasih yang dapat mengakhiri rantai kebencian dan kekerasan.

Ini tidak berarti bahwa Yesus ingin kita terus-menerus hidup dalam hubungan yang penuh dengan kekerasan yang melebihi kemampuan kita. Kita semua akan berhadapan dengan ketidakadilan dari waktu ke waktu namun kita perlu segera menanganinya dengan belas kasih dan pengampunan serta tidak terjerumus untuk membalas kebencian dengan kebencian.

Kita punya contoh nyata dari para pemaaf yang heroik, yang memiliki nilai tambah bagi kehidupan Kristen kita, seperti Nelson Mandela, yang memaafkan mereka yang menahannya di penjara selama 27 tahun dan masih bekerja untuk pengampunan dan rekonsiliasi di antara suku-suku Afrika yang dilanda perang. Kita juga punya St. Yohanes Paulus II yang mengampuni Mehmet Ali Agca yang menembaknya. Setelah penembakan tersebut, Yohanes Paulus II meminta agar “…berdoa bagi saudara saya (Ağca), yang sudah saya maafkan setulus-tulusnya.” Pada 1983, tepatnya dua hari setelah Natal, pada 27 Desember 1983, Paus menjenguk pembunuhnya di penjara Italia di mana Ağca ditahan. Keduanya bercakap-cakap dan berbincang-bincang beberapa lama. Setelah pertemuan ini, Paus kemudian berkata: “Apa yang kita bicarakan harus merupakan rahasia antara dia dan saya. Ketika berbicara dengannya saya anggap ia adalah seorang saudara yang sudah saya ampuni dan saya percayai sepenuhnya.”

Pada tanggal 27 Desember 2014, 33 tahun setelah kejahatan yang dilakukannya, Mehmet Ali Ağca memperlihatkan diri kepada publik di Vatikan untuk meletakkan bunga-bunga mawar putih di makam Santo Yohanes Paulus II yang baru saja dikanonisasi. Sebenarnya ia ingin bertemu dengan Paus Fransiskus tetapi keinginannya tidak dikabulkan.

Teladan mereka telah membuktikan bahwa apa yang diajarkan Kristus dalam Injil dapat kita lakukan.

Adakah relasi yang sulit bagi Anda? Seberapa siap Anda untuk mengampuni?

Tuhan, tolonglah aku untuk meniru belas kasih dan pengampunan-Mu yang besar. Tolonglah aku  untuk mengampuni mereka yang telah menyakitiku dan tolonglah aku untuk bangkit dari ketidakadilan yang saya hadapi.

Author

Write A Comment