Sabda Hidup
Jumat, 2 Juni 2023, Jumat Pekan Biasa VIII
Bacaan: Sir. 44:1,9-12; Mzm. 149:1-2,3-4,5-6a.9b; Mrk. 11:11-26.
Sesudah Yesus dan kedua belas murid-Nya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar. Dan dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia mendapat apa-apa pada pohon itu. Tetapi waktu Ia tiba di situ, Ia tidak mendapat apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara. Maka kata-Nya kepada pohon itu: “Jangan lagi seorangpun makan buahmu selama-lamanya!”
[Mrk 11: 12 – 14]
Dalam sebuah rekoleksi, seorang peserta dengan meyakinkan menceritakan “penemuan barunya” bahwa ternyata Yesus pernah melakukan dosa. Dia berdosa karena mengutuk pohon ara dan menyakiti orang lain dengan kemarahannya. Bukti yang jelas, tegasnya, adalah Injil hari ini (Markus 11:11-26). Tanpa refleksi yang mendalam, perikope Injil ini barangkali memang membingungkan.
Memang benar, jika anda membuka Kitab Suci, bagian pertama dari perikope Injil hari ini berjudul “Yesus Mengutuk Pohon Ara” diselipi dengan “Yesus menyucikan Bait Allah” dan diakhiri dengan Pohon Ara yang sudah kering. Namun perikope ini tidak berbicara tentang kutukan dan realisasi kutukan itu. Sabda Tuhan selalu merupakan berkat dan bukan kutukan. Lalu apa yang disampaikan oleh Injil? Inti dari Injil hari ini adalah doa dan hubungannya dengan bait suci serta perihal menghasilkan buah.
Doa adalah persekutuan antara Allah dan manusia. Dorongan untuk berdoa itu sendiri adalah keinginan untuk bersekutu. Yesus, yang baru saja memasuki Yerusalem, hendak mempersembahkan diri sepenuhnya kepada Bapa-Nya. Persembahan ini adalah doa yang sempurna, persekutuan yang sempurna. Namun, saat Ia masuk Bait Allah, yang seharusnya menjadi rumah doa dan persekutuan, Dia menjumpai bahwa Bait Allah telah menjadi sebuah pasar yang menjadi tempat yang memisah-misahkan manusia antara yang kaya dengan yang miskin, pembeli dan penjual, imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat, dan orang-orang biasa, pencuri dan pendusta. Sekat-sekat di Bait Allah, ekspresi dan praktik-praktik jahat membuat Yesus marah untuk menegaskan tujuan persembahan-Nya yaitu untuk membawa persekutuan. Bait Suci, sebagai rumah doa, seharusnya harus menjadi pola dasar persekutuan.
Pokok perikop Injil hari ini diletakkan sesudah komentar Petrus bahwa pohon ara yang dikutuk itu telah menjadi kering. Mengapa Yesus marah kepada Pohon Ara? Karena pohon itu tidak menghasilkan buah! Doa seharusnya bukanlah kata-kata kosong, kegiatan liturgi bukanlah ritual kosong. Semua itu harus menghasilkan buah.
Injil ditutup dengan buah dari doa: pengampunan. Pengampunan adalah buah sekaligus akar dari doa. Karena doa yang paling berkenan kepada Allah adalah doa dari seseorang yang telah memohon pengampunan dan siap untuk mengampuni orang lain. Hanya dengan cara inilah kita dapat menjadi berkat bagi orang lain dan menjadi sumber persekutuan.
Tuhan, jadikanlah hidup kami doa-doa yang hidup yang dipersembahkan kepada-Mu dan bagi satu sama lain. Semoga kami menjadi saudara dan saudari Yesus yang berkenan dengan membangun persatuan dan bukan menjadi penyebab kemarahan-Nya karena menyulut perpecahan dan kebencian. Amin!
