Sabda Hidup
Minggu, 28 Mei 2023, Hari Raya Pentakosta Tahun A
Bacaan: Kis. 2:1-11; Mzm. 104:1ab,24ac,29c-30,31,34; 1Kor. 12: 3b-7.12-13; Yoh. 20:19-23
Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”
(Yoh 20: 21 – 23)
Dalam Ensiklik Divinum Illud Munus, Paus Leo XIII (1878 – 1903) menulis: Banyak orang Kristen memiliki pengetahuan yang sangat minim tentang Roh Kudus. Mereka menyebutnya dalam latihan-latihan rohani, tetapi iman mereka akan Roh Kudus tak lagi hidup. Karunia-karunia-Nya tak lagi dibicarakan; yang mereka tahu hanya dari beberapa kalimat yang dipelajari dari Katekismus.”
Hari ini adalah Hari Raya Pentekosta. Kita juga dapat menyebutnya sebagai Hari Raya Turunnya roh Kudus. Sebenarnya “Pentekosta” berarti: yang kelimapuluh. Kita rayakan hari kelimapuluh setelah Kristus Bangkit. Bagi orang Yahudi, Pentekosta adalah salah satu pesta penting. Tapi bagi umat Yahudi, Pentekosta adalah pesta syukur atas panenan: hasil gandum yang pertama dipersembahkan kepada Allah. Kemudian, turunnya hukum Tuhan melalui Musa di gunung Sinai juga diperingati pada pesta tersebut. Di Gunung Sinai suku-suku bangsa Israel yang berbeda “menandatangani” perjanjian dengan Allah dan dengan satu sama lain dan menjadi umat Allah. Tuhan memberi mereka Sepuluh Perintah sebagai panduan untuk menunjukkan kepada mereka bagaimana menjadi umat-Nya, karena menjadi umat Allah berarti berkaitan dengan Tuhan dan satu sama lain dengan cara yang Allah sendiri tetapkan, bukan dengan cara yang kita anggap benar.
Bagi kita, Hari Raya Pentekosta selalu dihubungkan dengan turunnya Roh Kudus atas para murid Yesus dan Maria. Namun, Hari Raya Pentekosta juga disebut sebagai Hari Ulang Tahun Gereja. Walaupun para rasul menerima Roh Kudus dalam peristiwa penampakan Yesus yang pertama kali kepada mereka sesudah Ia bangkit, (Yoh 20: 22), namun pada hari Pentekostalah turunnya Roh kudus menjadi pernyataan secara publik, di mana orang banyak menjadi heran, termasuk orang-orang Yahudi setempat maupun yang berkumpul di Yerusalem dalam peristiwa tersebut. Salah satu ciri ke-Katolikan (Katolisitas) secara implisit nampak di sini, sebab orang-orang dari pelbagai bahasa dapat mengerti kotbah para rasul walaupun mereka berbicara dalam bahasa mereka sendiri. Melalui peristiwa itu nampak bahwa melalui Pentakosta, orang disatukan kembali dan dibawa ke dalam Satu keluarga universal. Keluarga ini universal yang merangkul semua ras dan bangsa dan disebut Gereja. “Katolik” berarti “universal.”
Dengan demikian Pentakosta tidak hanya pesta yang mengingatkan kita tentang kedatangan Roh Kudus lima puluh hari setelah kebangkitan. Roh yang adalah kekuatan pendorong bagi Gereja dan setiap orang yang dibaptis. Roh yang diberikan Yesus sebagai hadiah kekal kepada rasul adalah Roh yang sama di tempat karya kita dalam waktu sekarang ini. Oleh karena itu, hari ini menjadi kesempatan bagi kita untuk mendedikasikan kembali diri kita, untuk menjadi anggota aktif dan setia dalam keluarga Allah, yang kita sebut Gereja.
Pentakosta tidak hanya peringatan turunnya Roh Kudus atas para rasul dan Santa Perawan Maria tetapi suatu perutusan. Setelah Ia menghembusi mereka, Ia berkata kepada mereka, “Terimalah Roh Kudus. Jika engkau mengampuni dosa, mereka diampuni; jika engkau menyatakan dosa mereka tetap ada, dosa mereka tetap ada. “Inilah misi mereka yang mencerminkan misi Kristus sendiri, yaitu pengampunan dosa. Kristus datang ke dunia ini untuk pengampunan dosa-dosa kita dan dengan cara yang sama, rasul-Nya yang bertugas untuk melakukan hal yang sama.
Pentakosta juga tentang pelayanan. St. Paulus mengatakan, “… .ada macam-macam pelayanan, tetapi hanya ada satu Tuhan; ada macam-macam perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu. ” Pentakosta adalah tentang melayani Tuhan. Ini bukan hanya tentang menjual apa yang Anda miliki dan memberikan hasil kepada orang miskin, tetapi juga untuk pergi memberitakan kabar baik bagi semua orang.
Pentakosta juga adalah keberanian. Roh memberi umat Kristen kekuatan dan keberanian untuk menjadi saksi Kristus di dunia dan untuk memberitakan kabar baik tentang keselamatan. Inilah yang terjadi pada orang-orang Kristen awal dimana setelah mereka menerima Roh Kudus, mereka pergi keluar dari ruangan dan mulai berkhotbah … berkata-kata dalam bahasa asing (dalam bacaan pertama). Mereka menyatakan dengan berani, “Yesus Kristus adalah Tuhan” karena mereka dipengaruhi oleh Roh Kudus (dalam bacaan kedua). Pentakosta di zaman kita ini, ia memiliki arti yang sama tetapi dengan ekspresi yang berbeda.
Paus Yohanes Paulus II pernah mengatakan: “Tidak ada tempat dalam hidup Anda untuk apatis atau ketidakpedulian terhadap dunia di sekitar Anda. Kristus mengandalkan Anda, sehingga efek dari Roh Kudus-Nya dapat menyebar dari Anda kepada orang lain dan dengan cara yang menembus setiap aspek dari sektor publik dan pribadi dari kehidupan. “
Tapi Uskup Fulton J. Sheen pernah mengatakan tentang Gereja bahwa meskipun kita adalah orang-orang pilihan Allah, kita sering berperilaku lebih seperti umat Allah yang beku: beku dalam kehidupan doa kita, dalam cara kita berhubungan dengan satu sama lain, beku dalam cara kita merayakan iman kita. Kita tampaknya tidak bahagia berada di dalam rumah Allah; kita selalu terburu-buru untuk mendapatkannya atas dan dilakukan dengan sesegera mungkin. Hari ini adalah hari besar untuk memohon Roh Kudus untuk menghidupkan kembali dalam diri kita semangat hidup baru dan antusiasme, api cinta Allah.
Kita diingatkan perutusan Kristiani kita seperti Pentakosta yang pertama, untuk menjadi berani seperti Kristus. Merayakan Hari Raya Pentakosta dengan benar dan sungguh-sungguh berarti bersedia dan bertekad untuk hidup, bersikap dan bertindak seperti para rasul. Mereka adalah orang-orang biasa, sederhana, bukan orang-orang terdidik dan terpelajar, bukan orang-orang berkedudukan tinggi. Tetapi berkat kekuatan Roh Kuduslah mereka berani meneruskan dan melaksanakan tugas pewartaan Yesus Kristus Penyelamat kepada semua orang sampai ke ujung bumi. Dengan kekuatan Roh Kudus, setiap orang yang sungguh percaya dan mengasihi Yesus Kristus, harus mau dan bersedia merasul. Masing-masing menurut “bahasa pribadi dan hidupnya sendiri”. “Kita semua mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan oleh Allah” (Kis 2:11).
