Obet

SEMUA KARENA KASIH

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Minggu, 14 Mei 2023, Minggu Paskah VI Tahun A
Bacaan: Kis. 8:5-8,14-17Mzm. 66:1-3a,4-5,6-7a,16,201Ptr. 3:15-18Yoh. 14:15-21.

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”

(Yoh 14: 15)

Suatu hari, Obet bertanya kepada Mamanya, “Mama, apa itu 10 Perintah Allah itu?”
Ibunya menjawab, “Oh Itu Tuhan Allah pu perintah-perintah untuk kitorang semua.”
“Kalau begitu Mama, ko lebih tinggi dari Tuhan Allah,” kata Obet.
Mamanya menyahut, “Baru, kenapa bisa begitu?”
Obet menjawab, “Tuhan Allah pu perintah saja cuma sepuluh…. Tapi mama pu perintah…. Mama yo…. Satu hari saja so berapa itu….Tidak cuma sepuluh!”

Dalam pesan Injil untuk hari Minggu Paskah yang ke-6 ini, Yesus berbicara tentang perintah-perintah-Nya. Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”

Ini seperti seorang ibu yang berkata kepada anaknya, “Jika kamu mengasihi aku, lakukanlah apa yang aku perintahkan kepadamu.”

Ada orang yang beranggapan bahwa mereka harus ke Gereja pada hari Minggu, agar tidak melanggar perintah Allah, sebab kalau melanggar, nanti akan masuk neraka. Orang-orang yang beranggapan seperti ini menaati perintah Allah karena takut hukuman. Maka motive mereka menaati perintah tidak seperti yang Yesus katakan dalam Injil hari ini, yakni melaksanakan perintah-Nya karena kasih.

Ada pelbagai cara yang berbeda untuk memandang perintah-perintah Allah. Kita dapat memandangnya sebagai beban atau batasan bagi kebebasan kita. Sebagai contoh, perintah Allah untuk setia kepada pasangan, “Jangan berzinah.” Barangkali ada pria-pria yang memandangnya sebagai batasan untuk menikmati kebersamaan dengan wanita lain.

Tetapi jika tidak ada hukum yang melarang perselingkuhan [baca: perzinahan], maka kita akan memiliki banyak keluarga yang hancur dan anak-anak yang tidak memiliki orang tua.

Demikian pula halnya dengan kejujuran. Jika tidak ada perintah yang melarang ketidakjujuran (“Jangan mencuri”), maka akan terjadi kekacauan dan ketidakteraturan dalam masyarakat.

Dan ini membawa kita pada cara kedua untuk melihat perintah-perintah Allah. Kita dapat melihatnya sebagai petunjuk untuk membantu kita mencapai tujuan. Hal ini dapat dibandingkan dengan rambu-rambu lalu lintas – “Bahaya di Depan”, “Pelan-pelan”, “Dilarang Menyalip… Belokan di Depan”, dan seterusnya.

Seperti rambu-rambu lalu-lintas tersebut, Tuhan memberi kita perintah untuk menolong kita tidak hanya untuk mencapai tujuan duniawi kita tetapi juga tujuan akhir kita, yaitu kebahagiaan kekal bersama-Nya.

Akhirnya, kita dapat melihat perintah Yesus dengan cara yang ketiga: Sebagai sebuah undangan untuk mengasihi. “Jikalau kamu mengasihi Aku,” kata Yesus dalam Injil hari ini, “kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”

Saya ingat bagaimana teman saya dulu membenci dan memberontak ketika diperintah oleh orang yang lebih tua. Tetapi bertahun-tahun kemudian, ketika dia memiliki pacar, ketika pacarnya itu menyuruhnya melakukan hal-hal yang tidak sebenarnya tidak menyenangkan, dia menurutinya tanpa ragu. Hal ini menunjukkan bahwa ketika Anda mencintai seseorang, tidak ada yang terlalu sulit.

Hari ini mari kita periksa motif kita. Mengapa kita menaati perintah-perintah Yesus? Apakah kita melakukannya lebih karena takut akan hukuman atau kewajiban? Atau apakah kita melakukannya karena kasih akan kehendak Allah?

Agar kita semakin mengashihi Allah, maka kita harus ingat bahwa perjumpaan paling penting setiap hari adalah perjumpaan dengan Allah dan agenda kita yang paling penting adalah untuk mengasihi. Hidup didasarkan pada kasih selalu mencari kesempatan untuk berkata: “Apa lagi yang dapat saya lakukan untuk membantu? Jika ada sesuatu yang Anda butuhkan, jangan ragu untuk menghubungi saya kapan saja.” Kasih berusaha untuk melayani.

Tuhan semoga aku semakin mengasihi-Mu dan melaksanakan perintah-perintah-Mu karena aku mengasihi-Mu.

Author

Write A Comment