Sabda Hidup
Sabtu, 8 April 2023, Vigili Paskah
Bacaan: Bac.1 Kej. 1:1-2:2; Mzm. 104:1-2a,5-6,10,12,13-14,24,35c atau Mzm. 33:4-5,6-7,12-13,20,22; Bac.2: Kej. 22:1-18 (atau lebih singkat Kej. 22:1-2,9a,10-13,15-18); Mzm. 16:5,8,9-10,11; Bac.3: Kel. 14:15 – 15:1; MT Kel. 15:1-2,3-4,5-6,17-18; Bac.4: Yes. 54:5-14; Mzm. 30:2,4,5-6,11,12a,13b; Bac.5: Yes. 55:1-11; MT Yes. 12:2-3,4bcd,5-6; Bac.6: Bar. 3:9-15,32 – 4:4; Mzm. 19:8,9,10,11; Bac.7: Yeh. 36:16-17a,18-28; Mzm. 42:3,5bcd; 43:3,4 atau kalau ada pembaptisan MT Yes. 12:2-3,4bcd,5-6 atau juga Mzm. 51:12-13,14-15,18-19; Epistola: Rm. 6:3-11; Mzm. 118:1-2,16ab-17,22-23; Bacaan Injil: Mat. 28:1-10
“Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu. Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya. Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju. Dan penjaga-penjaga itu gentar ketakutan dan menjadi seperti orang-orang mati. Akan tetapi malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu: “Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring. Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Sesungguhnya aku telah mengatakannya kepadamu.”
(Mat 28: 1 – 7)
Cukup menarik untuk diperhatikan bahwa yang menjadi saksi kebangkitan Yesus dari mati yang pertama kali adalah para perempuan, dimana “Setelah hari Sabat lewat, Maria Magdalena dan Maria yang lain menengok kubur Yesus” (Mat 28: 1). Ke mana para lelaki? Barangkali mereka masih berada dalam ketakutan: jangan-jangan mereka juga akan disalibkan seperti Yesus, maka mereka takut untuk keluar dari rumah atau tempat tinggal mereka.
Injil Matius menceriterakan bahwa batu penutup kubur digulingkan oleh Malaikat Tuhan yang turun dari langit dan datang ke kubur itu. Mungkin dalam perjalanan mereka juga khawatir, bagaimana mereka harus menggulingkan batu penutup kubur itu. Memang, untuk menjumpai Yesus yang bangkit, kita harus menggulingkan batu penghalang itu. Tidak jarang, kita tergoda untuk putus harapan menghadapi batu penghalang itu. Terkadang, tampaknya segala sesuatu terbentur pada penghalang yang kokoh: keindahan ciptaan melawan tragedi dosa; pembebasan melawan ketidaksetiaan; janji-janji para nabi melawan ketidakpedulian orang-orang yang lesu.
Apakah batu yang harus saya singkirkan, apakah namanya?
Seringkali yang menghalangi harapan adalah batu keputusasaan. Begitu kita mulai berpikir bahwa segala sesuatu berjalan buruk dan bahkan menjadi lebih buruk lagi, kita menjadi percaya bahwa kematian lebih kuat daripada kehidupan. Kita menjadi pesimis, negatif dan putus asa. Batu demi batu, kita mengubur harapan di dalam diri kita sendiri. Jika hidup kita dipenuhi dengan keluhan, kita menjadi sakit secara rohani. Semacam psikologi kuburan mengambil alih hidup kita: semuanya berakhir di sana, tanpa ada harapan untuk bangkit kembali. Tetapi pada saat itu, kita mendengar pertanyaan Paskah yang mendesak: Mengapa kamu mencari yang hidup di antara yang mati? Tuhan tidak dapat ditemukan dalam keputusasaan. Dia telah bangkit; Dia tidak berada di sana. Jangan mencari Dia di tempat yang tidak akan pernah Anda temukan. Dia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup (bdk. Mrk. 22:32). Jangan mengubur harapan!
Di tengah perayaan-perayaan Tri Hari Suci, berita sedih menjalar dari camp yang yang satu ke camp yang lain di perkebunan yang satu ke perkebunan sawit yang lain di wilayah Paroki St. Fransiskus Xaverius Asiki. Wilayah Paroki St Fransikus Xaverius Asiki tempat saya melayani Pekan Suci sebagian besar mencakup area perkebunan kelapa sawit Korindo. Pada hari Kamis, 6 April 2023 malam, sebelas warga Camp Perkebunan Sawit PT Berkat Cipta Abadi (BCA) mengadakan perjalanan dari Merauke kembali ke Camp mengenderai sebuah mobil Avanza. Hujan deras turun hampir sepanjang malam itu. Kemalangan menimpa serombongan warga tersebut. Saat melintasi banjir di kawasan Perkebunan Sawit PT Bio Inti Agrindo mobil terseret banjir dan 5 dari sebelas penumpang meninggal. Kesedihan menjalar ke segala penjuru camp. Pertanyaan-pertanyaan menyeruak. Mengapa Tuhan? Mengapa harus terjadi musibah di hari-hari ini? Mungkin ada yang mulai marah dan mengatakan, mengapa di hari-hari suci ini mengadakan perjalanan, ketika yang lain beribadah? Mengapa sopir mengambil keputusan untuk menerjang banjir? Dan masih banyak lagi pertanyaan. Akan tetapi akankah kita menyerah pada kesedihan? Penderitaan itu nyata, tetapi haruskah kita menyerah pada penderitaan?
Ada batu lain yang sering kali mengunci hati kita: batu dosa. Dosa menggoda; dosa menjanjikan segala sesuatu yang mudah dan cepat, kemakmuran dan kesuksesan, tetapi kemudian hanya menyisakan kesendirian dan kematian. Dosa mencari kehidupan di antara yang mati, mencari makna hidup dalam hal-hal yang fana dan berlalu. Mengapa kamu mencari yang hidup di antara yang mati? Mengapa tidak mengambil keputusan untuk meninggalkan dosa yang, seperti batu yang menghalangi jalan masuk ke dalam hatimu, menghalangi cahaya Allah untuk masuk? Mengapa tidak memilih Yesus, terang yang sejati (bdk. Yoh. 1:9), daripada gemerlapnya kekayaan, karier, kebanggaan dan kesenangan? Mengapa tidak mengatakan kepada hal-hal yang kosong di dunia ini bahwa Anda tidak lagi hidup untuk mereka, tetapi untuk Tuhan yang memiliki kehidupan? Mari cari Yesus. “Kamu telah mati bagi dosa. Tetapi kamu hidup bagi Allah dan bagi Kristus,” kata St. Paulus.
Allah meminta kita untuk melihat kehidupan sebagaimana Ia memandangnya, karena di dalam diri kita masing-masing, Ia tidak pernah berhenti melihat inti keindahan yang tak tertahankan. Di dalam dosa, Ia melihat anak-anak yang harus dipulihkan; di dalam kematian, saudara-saudari yang harus dilahirkan kembali; di dalam kehancuran, hati yang harus dihidupkan kembali. Maka, janganlah takut: Tuhan mengasihi hidupmu, bahkan ketika engkau takut untuk melihatnya dan memegangnya. Dalam Paskah, Dia menunjukkan kepadamu betapa Dia mencintai kehidupan itu: bahkan sampai pada titik menghidupinya sepenuhnya, mengalami kesedihan, pengabaian, kematian dan neraka, untuk tampil dengan penuh kemenangan untuk memberi tahu Anda: “Kamu tidak sendirian; percayalah kepada-Ku!”.
Mengapa kamu mencari orang yang hidup di antara orang mati? Perempuan-perempuan itu mendengar apa yang dikatakan para malaikat: “Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring. Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Sesungguhnya aku telah mengatakannya kepadamu,” (Mat 28: 5 – 7).
Ia mendahului ke Galilea. Ada apa di Galilea? Mereka telah kehilangan harapan, karena mereka tidak dapat mengingat kata-kata Yesus yang diucapkan di Galilea. Setelah kehilangan ingatan yang hidup tentang Yesus, mereka terus memandang ke arah kubur. Iman selalu perlu kembali ke Galilea, untuk membangkitkan kembali cinta pertamanya kepada Yesus dan panggilan-Nya: untuk mengingat-Nya, untuk kembali kepada-Nya dengan segenap hati. Untuk kembali kepada cinta yang hidup dan pribadi kepada Tuhan sangatlah penting. Jika tidak, maka iman kita akan menjadi iman “museum”, bukan iman Paskah. Yesus lebih dari sekadar tokoh sejarah dari masa lalu; Dia adalah pribadi yang hidup saat ini. Kita bertemu dengan-Nya bukan di dalam buku-buku sejarah, melainkan di dalam kehidupan ini.
Galilea juga merupakan tempat keseharian Tuhan bersama murid-murid-Nya, di mana Ia memanggil para murid, hidup bersama para murid, mengajar, berkarya. Dalam arti itu Galilea adalah keseharian kita. Kita jumpai Yesus yang bangkit dalam keseharian kita. Semangat kebangkitan itu harus ditemukan dalam kehidupan keseharian kita. Iman akan Kristus yang hidup akan dijumpai dalam keseharian kita.
Selamat Paskah!
