Sabda Hidup
Kamis, 6 April 2023, Kamis Putih
Bacaan: Kel. 12:1-8,11-14; Mzm. 116:12-13,15-16bc,17-18; 1Kor. 11:23-26; Yoh. 13:1-15.
“Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”
(Yoh 13: 15)
Bulan September 2010, saya pulang ke rumah untuk beberapa hari. Waktu itu ayah saya sudah kena stroke, sehingga ketika berjalan, kakinya diseret-seret. Walau demikian, ia tidak mau ditemani dan tinggal di rumah sendiri. Ibu saya sudah meninggal tahun 2003. Di suatu sore kami duduk berdua di teras rumah. Ayah saya berbicara cukup banyak, memberi nasihat supaya kami kakak beradik saling memperhatikan, supaya saya menghidupi imamat saya dengan setia. Ia bercerita tentang kebun dan beberapa petak tanah yang letaknya cukup jauh dari rumah….. Saya tidak pernah berpikir bahwa itu adalah pertemuan terakhir dengan ayah saya. Bulan berikutnya, saya hanya bisa bertemu ayah saya di detik terakhir sebelum ia meninggal. Saat itulah saya baru menyadari bahwa apa yang ia katakan adalah pesan-pesan terakhir yang ia sampaikan.
Sungguh, pesan-pesan dari seorang yang mendekati saat meninggal penuh makna, sebab mereka berbicara dari kedalaman pribadinya. Apa yang kita dengarkan malam ini, saat kita mengenangkan perjamuan terakhir Tuhan juga merupakan pesan terakhir sebelum Ia wafat. Ia memberikan wasiat-Nya bagi murid-murid-Nya. Bukan hanya dengan kata-kata, malahan ia memberi contoh. Ia ingin agar murid-murid-Nya (sampai saat ini) mengenang-Nya. Maka Ia mengadakan perjamuan, perjamuan terakhir. Melalu kata-kata dan teladan-Nya kita mengetahui apa yang Ia perintahkan kepada kita.
Yesus memecahkan roti
Yesus yang memecah-mecahkan roti bersama dengan para murid berbicara tentang pemberian diri secara total bagi mereka. Roti yang adalah tubuh-Nya dan anggur yang adalah darah-Nya, menjadi persembahan paling berharga bagi Bapa, untuk pengampunan dosa umat manusia. Ketika Yesus berkata, “Buatlah ini, untuk mengenangkan Daku,” Ia ingin agar kita tidak hanya “mengubah roti dan anggur menjadi tubuh dan darah-Nya” tetapi juga “memecah-mecahkan” diri kita dan mencurahkan hidup kita untuk orang lain, seperti yang Ia lakukan. Mengenangkan dia dan merayakan Ekaristi untuk mengenangkan Dia adalah mengenangkan seluruh hidup-Nya yang tercurah untuk melayani dan mengasihi. Ia menghendaki agar kita memberi minum mereka yang haus, dan memberi makan kepada mereka yang lapar. Ia senantiasa mengundang kita untuk menyembuhkan dan mengampuni, berapapun harganya. Ia ingin agar kita mengambil hidup-Nya sebagai model – hidup yang dicurahkan untuk melayani.
Yesus membasuh kaki
Tindakan ini mempunyai dampak yang luar biasa. Pada masa Yesus, hanya budak tingkat terendah yang melakukan pembasuhan kaki. Tindakan ini merangkum apa yang Ia lakukan sepanjang hidup dan pelayanan-Nya. Ia telah menunjukkan perhatian-Nya, kebaikan hati-Nya, pelayanan, dan kasih-Nya bagi setiap orang yang datang kepada-Nya. Sebenarnya, seluruh hidup-Nya merupakan “pembasuhan kaki”: perendahan diri untuk melayani. Wafat-Nya dalam ketaatan kepada Bapa dan karena kasih-Nya kepada kita, merupakan sentuhan terakhir dari perendahan dan pemberian diri-Nya. Jadi dengan pembasuhan kaki, Ia ingin merangkum semua yang diajarkan-Nya. Ia pun menghendaki agar kita menghidupi hidup kita bagi sesama dalam pelayanan kasih.
Injil hari ini menunjukkan kepada kita apa yang diharapkan oleh Yesus bagi kita yang merayakan dan menerima Ekaristi. Anugerah Ekaristi harus mendorong kita untuk saling mengasihi dan saling melayani. Setelah membasuh kaki Yesus berkata: “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (Yoh 13: 12 – 15).
Malam ini kita melakukan kembali tindakan-tindakan kasih Yesus dalam perjamuan terakhir-Nya bersama dengan para murid. Dalam perjamuan ini, Ia menunjukkan kasih yang sama dengan yang Ia tunjukkan kepada para murid. Kasih yang kita katakan kepada Allah dan sesama, hanya dapat dipercaya melalui tindakan kasih. Kata-kata cinta hanyalah “tong yang berbunyi nyaring” tanpa kita menyatakannya dalam tindakan.
Semoga Ekaristi yang kita rayakan malam ini, menguatkan dan mendorong kita untuk mengikuti teladan-Nya, sehingga kita sungguh-sungguh “melakukan ini sebagai kenangan akan Tuhan dan Juruselamat kita.”
Tuhan, tolonglah saya untuk memahami apa artinya menjadi seorang hamba. Tolonglah aku untuk menghidupi kerendahan hati dalam hidupku. Semoga karunia Tubuh dan Darah-Mu yang Maha Kudus mengubah aku menjadi pribadi yang Engkau kehendaki. Yesus, aku percaya kepada-Mu.
