Remah Harian

BAPA TAK PERNAH LUPA

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Rabu, 22 Maret 2023, Rabu Pekan Prapaskah IV
Bacaan: Yes. 49:8-15Mzm. 145:8-9,13c-14,17-18Yoh. 5:17-30.

“Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak.”

(Yoh 5: 22)

Om Peto pu rambutan di samping rumah su masak. Suatu malam anak-anak nakal dong pancuri. Ketika pagi-pagi Om Peto bangun lihat pohon rambutan, dia terkejut. De pu buah su hampir habis. Om Peto langsung bertindak ambil papan dan paku di pohon rambutan itu, lalu tulis di papan itu: “Biar sa tidak lihat ko tapi Tuhan lihat!”

Malam harinya anak-anak nakal dong datang pencuri lagi. Keesokan harinya Om Peto bangun dan terkejut lihat de pu rambutan su habis, dan disamping papan yang dia tulis, ada papan baru dengan tulisan: “Biar Tuhan lihat kitorang, tapi Tuhan tra mau bilang sama ko.”

Setiap orang mempunyai gambaran tersendiri tentang Allah. Ada yang menggambarkan Allah seperti satpam atau polisi yang mengawasi, atau sebagai hakim yang menghukum, atau sebagai bapa yang akan memberi apa saja yang diminta.

Bacaan pertama hari ini, dari Nubuat Nabi Yesaya memberikan gambaran Allah yang Mahakasih. Jika seorang perempuan masih dapat melupakan bayinya, Allah tak akan pernah melupakan umat-Nya. “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau,” (Yes 49: 15).

Gambaran kita memandang Allah sangat berpengaruh terhadap hidup rohani kita. Albert Haase OFM dalam bukunya Swimming in the Sun berkata: “Gambaran kita tentang Allah adalah salah satu aspek yang penting, atau yang paling penting, dari kehidupan rohani kita. Gambaran kita tentang Allah membentuk dan mewarnai segalanya tentang hidup rohani pribadi kita, dari mengapa kita berdoa hingga bagaimana kita memahami penderitaan dan kejahatan di dunia,” (hal 7).

Injil hari ini menampilkan Allah sebagai Bapa. Delapan kali dalam 14 ayat dari perikope ini Yesus memanggil Allah dengan sebutan “Bapa”. Dan dalam salah satu ayat ia membuat suatu pernyataan yang sangat mencengangkan, yang seharusnya mengubah sama sekali pandangan kita akan Allah: “Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak.” Dan bagaimanakah Sang Putera mengadili? “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” Dia “menghakimi” kita dengan memberikan hidup-Nya untuk kita.

Betapa kita tidak bersyukur……. Jika kita diciptakan menurut gambar Bapa seperti itu, bagaimana kita dapat menampilkan wajah-Nya dalam hidup kita?

Author

Write A Comment