Sabda Hidup
Senin, 20 Maret 2023, Hari Raya St Yusuf Suami Maria
Bacaan: 2Sam. 7:4-5a,12-14a,16; Rm. 4:13,16-18,22; Mat. 1:16,18-21,24a atau Luk. 2:41-51a.
“Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya.”
(Mat 1: 24)
Seorang gadis sudah cukup lama menjadi anggota JoJoBa, Jomblo-Jomblo Bahagia. Nah kini ia berdoa setiap hari kepada St. Yusuf agar ditunjukkan kepadanya, seorang calon suami yang baik. Sudah bertahun-tahun ia berdoa, memohon bantuan St Yusuf, tapi tak ada tanda-tanda doanya dikabulkan. Ia mulai putus asa. Suatu hari, sepulangnya dari Misa ia berlutut di hadapan patung St. Yusuf di rumahnya dan berdoa seperti biasanya. Tetapi setelah sepuluh menit berdoa, karena jengkel dan putus asa, ia mengambil patung St. Yusuf itu dan melemparnya keluar melalui jendela kamarnya. Patung St Yusuf yang dilemparkan keluar itu mengenai kepala seorang pemuda yang sedang lewat. Kepalanya mengalami cedera yang cukup lumayan. Sambil meringis memegangi lukanya yang berdarah pemuda itu mengetuk pintu rumah gadis itu, meminta penjelasan, mengapa ia dilempar hingga terluka. Gadis itu minta maaf, merawat luka pemuda itu. Belakangan, mereka berteman baik dan setahun kemudian mereka menikah dan membangun keluarga yang bahagia…..
Yang masih jomblo, jangan ikuti gadis itu, melempar orang dengan patung St. Yusuf… 😀
Hari ini, Gereja merayakan Hari Raya Santo Yusuf, suami Maria. Hari Raya St. Yusuf sebenarnya adalah tanggal 19 Maret. Akan tetapi karena kemarin, tanggal 19 Maret, jatuh pada hari Minggu, maka Hari Raya St. Yusuf digeser pada hari ini. Perayaan kita ini terasa seperti selingan yang berbeda dalam suasana Prapaskah. Tetapi, sukacita pesta ini hendaknya tidak menjadi penghalang bagi kita untuk semakin maju di sepanjang jalan pertobatan kita di masa Prapaskah.
Bayangkan jika Santo Yusuf menolak untuk bekerjasama dengan rencana Allah. Misalnya, jika ia melaksanakan rencananya untuk menceraikan Maria dengan diam-diam. Jika ia tidak mendengarkan malaikat Tuhan yang berbicara kepadanya dalam mimpi.
Namun dalam kerendahan dan ketulusan hatinya, Yusuf mendengarkan Allah. Ia tidak jadi menceraikan Maria diam-diam. Malahan ia membawa Maria ke rumahnya, menjaganya dari segala macam skandal. Betapa St Yusuf amat menjunjung tinggi suara Allah.
St. Yusuf tidak berhenti memikul tanggung jawabnya, ia memastikan bahwa keluarganya akan terlindungi dari bahaya apapun. Ketika ia diberitahu oleh seorang malaikat untuk membawa keluarganya ke Mesir karena ancaman terhadap Yesus, ia membawa mereka ke Mesir (Matius 2:13). Ketika dia diberi tahu oleh malaikat lagi bahwa sekarang mereka dapat kembali ke Israel, ia melaksanaknnya tanpa mengajukan pertanyaan apapun (Matius 2:20).
Semoga kita terinspirasi oleh kehidupan Santo Yusuf: kerendahan hati-Nya, kesediaannya untuk mendengarkan suara Tuhan. Kasih dan perlindungan tanpa syarat untuk istri dan Puteranya. Karakternya menjadi suami dan orang tua yang bertanggung jawab.
Mari kita, seperti St. Yusuf, bekerja dalam keheningan dan ketulusan untuk Tuhan. Mari kita bekerja tanpa mengharapkan publisitas. Marilah kita menerima dan memenuhi tanggung jawab kita kepada Tuhan tanpa menginginkan penghargaan; tanpa memikirkan komisi dan pujian. Semoga kita tidak hanya berpikir untuk keuntungan diri sendiri tetapi untuk kepentingan orang lain. Mari kita menjadi seperti St. Yusuf, membuat keputusan dalam terang rencana Tuhan dan bukan untuk keuntungan pribadi. Semoga kita juga bersikap bijaksana dalam kata-kata sehingga kita tidak melemahkan karakter dan kredibilitas orang lain. Marilah kita menjadi seperti St. Yusuf dalam melindungi dan memajukan kebaikan dan kehidupan orang-orang yang kita cintai dan yang dipercayakan kepada kita.
Masa Prapaskah adalah waktu yang tepat untuk mengetahui apa yang Tuhan harapkan dari kita dan memperkuat kehendak kita untuk melaksanakannya. Marilah kita memohon kepada Tuhan «dengan perantaraan St Yusuf suami Maria», agar kita dapat maju dalam jalan pertobatan kita dengan meneladannya dalam penerimaannya atas kehendak Allah dan dengan amal kasih kita kepada sesama. Pada saat yang sama, mari kita ingat bahwa jika seluruh Gereja berhutang budi kepada Perawan Maria, karena kita menerima Kristus melalui dia. Demikian juga St Yusuf adalah seorang yang paling pantas menerima ucapan terima kasih dan hormat kita, karena perannya sebagai ayah bagi Yesus, Junjungan kita.
Tuhan Yesus, Engkau datang untuk membebaskan kami dari belenggu dosa, kekhawatiran dan maut, serta menyembuhkan dan memulihkan keutuhan hidup kami. Semoga seperti St. Yusuf, kami selalu percaya akan bantuan, tuntunan, kebijaksanaan dan rencana keselamatan-Mu bagi kami. Amin.
