Sabda Hidup
Minggu, 15 Januari 2023, Minggu Biasa II Tahun A
Bacaan: Yes. 49:3,5-6; Mzm. 40:2,4ab,7-8a,8b-9,10; 1Kor. 1:1-3; Yoh. 1:29-34.
“Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.”
(Yoh 1: 29)
Di daerah tertentu, terutama yang banyak rawa-rawa, ada tempat-tempat yang disebut “lumpur hidup” atau “lumpur hisap”. Tempat itu biasanya terdiri dari air, pasir, dan tanah liat dengan komposisi yang tepat yang dapat menjadikan air mampu membuat pasir tidak stabil. Campuran tersebut menghasilkan gerakan turun naik yang sangat kuat sehingga membuatnya seolah-olah memiliki daya hisap bagi benda-benda yang berada di atasnya. Dinamakan lumpur hidup karena keadaannya seperti bernyawa dan bergerak. Lumpur ini biasanya terdapat di tempat dengan banyak air seperti hutan, rawa-rawa dan daerah yang dekat dengan sungai. Campuran air dan pasir itulah yang mampu membuat tubuh manusia atau benda-benda lain di atasnya terhisap.
Di bagian bawah lumpur itu tidak ada sesuatu yang padat sehingga sekali seseorang menginjaknya, ia mulai tenggelam. Semakin ia bergerak, semakin lumpur itu menghisapnya dan bisa-bisa semakin dalam ia terhisap hingga tewas kehabisan nafas.
Satu-satunya cara untuk keluar dari hisapan lumpur hidup itu adalah mengulurkan tangan dan menggapai sesuatu yang diulurkan kepadanya oleh seseorang yang berdiri di tanah atau dasar yang padat dan kuat. Diperlukan orang lain di luar lumpur hidup itu untuk keluar dari sana tetapi diperlukan juga usaha dari orang yang terhisap oleh lumpur itu untuk menggapai bantuan yang diulurkan kepadanya. Orang yang menolong tidak dapat menarik orang yang tenggelam itu jika ia tidak menggapai dan orang yang tenggelam dalam lumpur hidup itu tidak dapat keluar dengan sendirinya tanpa orang yang menariknya keluar.
Banyak orang yang terjebak dalam lumpur hisap maksiat. Mereka dihisap oleh lumpur miras, narkoba, kesenangan seksual, judi, cinta uang dan harta, ketidakjujuran, korupsi, dan adiksi-adiksi lainnya. Mereka terjebak oleh pola perilaku yang diulang dan diulang terus menerus. Acapkali mereka itu tidak berdaya, tak mampu berhenti, dan semakin lama semakin terhisap oleh lumpur hidup maksiat itu – dan bisa-bisa ia benar-benar “tewas” terhisap oleh lumpur hidup itu.
Mengapa begitu banyak orang yang terus terhisap dalam lumpur hidup moral, psikologis dan rohani itu? Salah satu sebabnya adalah tidak adanya kemauan untuk minta tolong, minta bantuan. Banyak yang merasa dapat menyelamatkan dirinya sendiri. “Ini masalah saya sendiri. Tidak usah ikut campur!” “Saya tahu apa yang saya lakukan. Urus saja diri sendiri! Saya tak perlu dikasih tahu apa yang harus saya buat!” “Ah, sebenarnya saya tidak mengalami masalah. Saya tak perlu bantuan orang lain. Lagipula, kalian tidak tahu apa yang saya hadapi. Kalian tidak tahu apa yang sedang saya alami dalam hidup saya.” Anggapan-anggapan itu yang sering membuat orang semakin tenggelam dan terus tenggelam.
Kita membutuhkan seseorang yang berdiri pada dasar padat dan kuat yang “mengulurkan tangan” menggapai dan menarik kita. Siapa yang berdiri kokoh kuat dan mengulurkan tangan dan menyelamatkan kita dari hisapan lumpur dosa? Dialah Yesus, yang hari ini disebut oleh Yohanes Pembaptis, “Anak Domba Allah.” Dia bukan hanya berdiri di atas batu karang, tetapi dialah Sang Gunung Batu – yang berdiri kokoh kuat. Mengapa Yohanes menyebut-Nya “Anak Domba Allah”? Apa artinya juga bagi kita ketika kita juga menyebut-Nya “Anak Domba Allah”?
Dalam konteks pemahaman Yohanes “Anak Domba Allah” mempunyai beberapa kemungkinan arti:
1). Anak Domba Pendamaian (Imamat 16:20-22). Seekor domba dibawa ke Bait Allah pada Hari Pendamaian (Yom Kippur). Dengan meletakkan tangannya di atas kepala anak domba [kambing jantan], imam besar menanggungkan semua dosa bangsanya kepada anak domba itu. Ia kemudian dilepaskan ke padang gurun untuk dibunuh oleh binatang-binatang buas.
2). Anak Domba Pendamaian Harian/Korban pagi dan petang (Korban bakaran turun-temurun [Tamid]) — (Kel 29:38-42; Bil 28:1-8). Dua anak domba dikorbankan di mezbah Bait Allah setiap pagi dan satu lagi dikorbankan setiap petang untuk melakukan pengorbanan turun-temurn untuk menebus dosa-dosa orang Yahudi.
3). Anak Domba Paskah (Kel. 12:11ss), yang darahnya menyelamatkan anak sulung keluarga Yahudi di Mesir dari Malaikat maut. Domba ini juga mengingatkan mereka akan Anak Domba Paskah yang mereka sembelih setiap tahun pada Hari Raya Paskah.
4). Anak Domba Para Nabi yang menggambarkan Seorang yang, dengan pengorbanan-Nya, akan menebus umat-Nya: “Anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih” (Yer 11:19), “seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian” (Yes 53:7 ). Keduanya mengacu pada penderitaan dan pengorbanan Kristus.
5). Anak Domba Penakluk. Ini adalah gambar anak domba bertanduk pada bendera Yahudi pada saat perang pembebasan Makabe, yang digunakan sebagai tanda keagungan dan kekuasaan yang menaklukkan. Para penakluk besar Yahudi seperti Samuel, Daud, dan Salomo digambarkan oleh sejarawan Yahudi kuno sebagai “domba bertanduk”.
Kristus sebagai Anak Domba Allah adalah gelar yang akrab bagi kita. Dalam Ekaristi, pada saat “pemecahan roti” kita mewartakan dalam kata atau lagu apa yang dikatakan Yohanes Pembaptis. Saat pemecahan roti kita nyanyikan atau daraskan Agnus Dei – “Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia, kasihanilah kami/berilah kami damai.” Dalam doa ini kita mengungkapkan pemahaman kita yang terdalam tentang identitas dan tujuan Yesus Kristus sebagai Anak Domba dan Tuhan kita. Melalui hidup, kasih, dan pengorbanan-Nya, kita percaya dan menegaskan bahwa Dialah yang akan datang, datang, dan terus datang, ke dalam dunia yang hancur untuk menanggung dosa-dosa kita ke atas diri-Nya.
Dengan pengorbanan-Nya Ia menarik kita dari hisapan lumpur dosa.
Di kota Werden, Jerman, ada sebuah gereja Katolik dengan sebuah patung anak domba yang dipahat dari sebuah batu dan ditempatkan di atap. Beberapa abad sebelumnya, suatu kali seorang tukang naik ke atap gereja itu untuk memperbaikinya. Malang baginya, tali pengaman yang dipakainya terlepas dan dia jatuh. Halaman di bawah dipenuhi dengan batu-batu berukuran besar. Untunglah, pada saat itu seekor anak domba sedang asyik makan rumput yang tumbuh di antara batu-batu itu. Tukang itu jatuh persis menimpa anak domba itu. Anak domba itu mati, tetapi tukang itu selamat dan hidup. Maka sebagai peringatan dan ungkapan syukur, tukang itu memahat seekor anak domba dari batu dan menempatkannya di atap.
Hari ini kita datang dalam Ekaristi, mengenangkan dan menghormati Sang Anak Domba. Setiap orang dari kita “berhutang” kehidupan pada-Nya. Sebab Ia mati, Ia dikorbankan agar kita hidup.
Jadi, siapakah Anak Domba Allah itu bagi anda? Seperti Yohanes Pembaptis, Gereja menunjukkan Anak Domba itu dalam setiap perayaan Ekaristi. Imam berseru: “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia!” Ketika imam mengatakan hal itu, apakah anda sungguh-sungguh memahami apa yang harus anda lakukan untuk menerima Kristus? Sebab Ia ada di sini bukan sekadar supaya kita “feel good”. Ia ada di sini agar dalam keseharian kita, kita dapat meraih tangan-Nya yang terulur, menarik kita dari lumpur hidup dosa. Ia menarik kita agar kita berdiri tidak di atas lumpur dosa tetapi di atas dasar yang sama di tempat Ia berdiri. Jika tidak, kita akan tetap tenggelam dalam lumpur dosa dan mati. Bersama Dia kita hidup. Sebab “Ia datang agar kita mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan,” (Yoh 10: 10).
Ada sebuah paradoks di sini. Sebab kita meraih-Nya dengan menemukan-Nya dalam diri kita. Kita menang dengan berserah. Kita keluar dengan pergi ke dalam. Sebab Yesus yang adalah Tuhan sangat dekat. Kehadiran-Nya, kuasa dan kasih-Nya tinggal dalam diri kita. Di sana, di kedalaman hati kitalah, kita dapat menemukan jalan keluar dari hisapan lumpur dosa yang menghisap kebebasan sejati kita.
Maka, terimalah, Anak Domba Allah yang menjadi bagian terdalam diri kita. Ulurkan tangan dan raihlah Dia. Berpeganglah pada-Nya. Maka kita akan hidup.
“Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan Anak Domba.”
