Sabda Hidup
Sabtu, 6 Januari 2023, Sabtu Hari Biasa Masa Natal
Bacaan: 1Yoh. 5:14-21; Mzm. 149:1-2,3-4,5,6a,9b; Yoh. 2:1-12
Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.” Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saat-Ku belum tiba.” Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”
(Yoh 2: 3 – 5)
Dalam peristiwa mukjizat Yesus yang pertama di Kana, dalam Kitab Suci bahasa Indonesia, ketika Maria berkata kepada Yesus, “Mereka kehabisan anggur,” Yesus menjawab, “Mau apakah engkau dari pada-Ku, Ibu?” Agak berbeda nuansanya, jika kita membaca ayat tersebut dalam bahasa Inggris: “Woman, what have I to do with thee?” Juga dalam bahasa latin, “Quid mihi et tibi est, mulier?” Yesus menyebut Maria, “perempuan”.
Ini yang pertama Yesus menyebut Maria “Perempuan”. Yang kedua adalah ketika ia tergantung di kayu salib. “Woman, here is your son.” Tentu dalam bahasa Indonesia diterjemahkan, “Ibu, inilah Anakmu.” Banyak komentar yang mengatakan bahwa itu mengingatkan bagaimana Allah menyebut “Hawa” sebagai “Perempuan”. Dalam paralelisme alkitabiah, Maria, Ibu Yesus, menjalankan peran sentral dalam sejarah keselamatan. Dialah Hawa baru.
Tentu saja Yesus menyebut Maria “Perempuan” bukan dalam maksud merendahkan. Sebutan itu tampaknya menyiratkan teguran, seolah-olah Maria ditegur kerena ikut campur dalam apa yang tidak bukan urusannya; tetapi terbukti bahwa tidak ada teguran atau sikap tidak hormat seperti itu yang dimaksudkan dengan penggunaan istilah “perempuan” dan bukan “ibu”. Ini adalah sebutan yang sama yang digunakannya untuk memanggil Maria Magdalena dengan lembut setelah kebangkitan-Nya (Yohanes 20:15), dan ibu-Nya ketika dia di kayu salib, (Yohanes 19:26). Bandingkan juga Matius 15:28; Yohanes 4:21; 1 Korintus 7:16.
Mari sekarang kita perhatikan peran Maria dalam pesta perkawinan tersebut. Sungguh luar biasa bahwa nampaknya Maria adalah satu-satunya yang memperhatikan bahwa anggur telah habis. Bahkan kepala pelayan atau Tuan pesta, yang urusannya adalah memastikan semuanya berjalan dengan baik, sepertinya tidak ada firasat apapun tentang situasi yang berpotensi memalukan ini. Mungkin Bunda Maria juga membantu di dapur. Mungkin, dia adalah salah satu tamu saja. Tetapi karena dia adalah seorang dengan jiwa pelayanan yang rendah hati, mungkin ia memutuskan untuk membantu. Jadi, dia bergabung dengan mereka yang melayani tamu.
Intinya, semangat pelayanan yang rendah hati inilah yang membuat Maria benar-benar memahami kebutuhan kita. Sebagai Ibu kita, dia tahu persis apa yang perlu dan terbaik untuk kita.
“Mereka kehabisan anggur,” katanya kepada Putranya. Itu bukan suatu tuntutan yang memaksa atau bahkan permohonan. Ia hanya memberi gambaran dari suatu kondisi. Dia tidak memaksa Yesus di tempat itu. Dia juga tidak mendesak-Nya untuk melakukan mukjizat. Dia memberi Yesus ruang untuk berpikir dan memutuskan. Dia sangat bijaksana namun penuh perhatian.
Tentu saja, dia mengenal Putranya jauh di dalam hatinya. Bertindak berdasarkan naluri keibuannya, peka terhadap tanda kesediaan Yesus untuk menghadapi situasi tersebut, dia segera menginstruksikan para pelayan. “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”
Perintah Maria menggambarkan perannya sebagai pengantara kita kepada Tuhan. Dia menghantar orang kepada Putranya. Itu juga menunjukkan imannya yang mendalam kepada-Nya – mengetahui dengan baik bahwa apa pun yang Diperintahkan-Nya kepada kita adalah bijak, baik, dan adil.
Menarik juga untuk dicatat bahwa Maria selalu hadir di setiap tahap penting dalam kehidupan Tuhan. Itulah perannya. Dan dia juga hadir kapanpun kita membutuhkannya.
Kita bersyukur karena kita mempunyai seorang Ibu yang jadi pengantara kita. Namun mari kita juga belajar peka seperti dia terhadap kebutuhan kesekitaran kita. Dan mari bertindak, berinisiatif seperti dia. Dan yang paling utama kita laksanakan apa yang dikatakannya, “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, buatlah itu.”
