Sabda Hidup
Rabu, 8 Desember 2022, Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa
Bacaan: Kej. 3:9-15,20; Mzm. 98:1,2-3ab,3bc-4; Ef. 1:3-6,11-12; Luk. 1:26-38.
“Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”
(Luk 1: 28)
Senandung Maria dalam Magnificat, “segala keturunan akan menyebut aku berbahagia,” (Luk 1: 48) terpenuhi ketika Gereja mengumumkan empat dogma tentang Maria: Dogma Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa, Dogma Santa Perawan Maria Selalu Perawan, Dogma Maria Bunda Allah, dan Dogma Maria Diangkat ke Surga. Dogma Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa didasarkan pada tradisi dan teologi. Dogma ini diumumkan 8 Desember 1854 oleh Paus Pius IX dalam Konstitusi Apostolik Ineffabilis Deus.
Katekismus Gereja Katolik No. 491 mengatakan: “Dalam perkembangan sejarah, Gereja menjadi sadar bahwa Maria, “dipenuhi dengan rahmat” oleh Allah (Luk 1:28), sudah ditebus sejak ia dikandung. Dan itu diakui oleh dogma “Maria Dikandung tanpa Noda Dosa”, yang diumumkan pada tahun 1854 oleh Paus Pius IX: “… bahwa perawan tersuci Maria sejak saat pertama perkandungannya oleh rahmat yang luar biasa dan oleh pilihan Allah yang mahakuasa karena pahala Yesus Kristus, Penebus umat manusia, telah dibebaskan dari segala noda dosa asal” (DS 2803). Itu berarti bahwa kesucian asali, keadaan tak berdosa dan keadilan dianugerahkan kepadanya, dan bahwa dia dibebaskan dari semua akibat jahat dari dosa asal, tidak termasuk kesedihan, rasa sakit, penyakit dan kematian yang merupakan hukuman sementara yang diberikan kepada Adam.
Dogma Maria Dikandung Tanpa Dosa berasal dari Tradisi Kristiani yang amat tua. Para rahib di biara-biara Palestina mulai merayakan Pesta Konsepsi Santa Perawan Maria sejak akhir abad ke-7. Pesta itu kemudian tersebar sebagai Pesta Maria Dikandung tanpa Dosa di Italia pada abad ke-9, di Inggris pada abad ke-11 dan di Perancis pada abad ke-12. Paus Leo VI menyebarkan perayaan ini dan Paus Sixtus IV menetapkannya sebagai Pesta. Akhirnya, pada tahun 1854, Paus Pius IX menetapkan bahwa Maria Dikandung Tanpa Dosa sebagai dogma iman. Maria sendiri menyatakan pada tahun 1858 dengan mengatakan kepada St. Bernadette di Lourdes, “Akulah yang dikandung dengan suci dan tak bernoda.”
Lalu apakah kata Kitab Suci? Allah menyucikan Nabi Yeremia sejak dalam kandungan ibunya, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau,” (Yer 1: 5). Allah juga mengurapi Yohanes Pembaptis dengan Roh Kudus sebelum ia lahir. Itu nampak dari kata-kata Elizabeth, “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? 1:44 Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan,” (Luk 1: 43 – 44). Dengan demikian wajarlah apabila Allah menjaga ibunda dari Putera-Nya sejak semula bebas dari dosa.
Dalam Injil hari ini kita dengar Malaikat Gabriel memberi salam kepada Maria dan menyapanya sebagai “yang dikaruniai”. Untuk menjadi ibu Sang Juruselamat, Maria diperlengkapi oleh Allah dengan karunia-karunia yang memampukannya untuk mengambil peran yang luar biasa ini. Ada tradisi di antara orang-orang Kristen, yang berasal dari gereja purba, untuk menghormati Maria sebagai perawan tak bercela yang mengandung Anak Allah di dalam rahimnya. Beberapa bapa gereja mula-mula mengaitkan ketaatan Maria dengan kasih karunia Allah yang luar biasa ini. “Menjadi taat dia menjadi sumber keselamatan bagi dirinya sendiri dan bagi seluruh umat manusia… Simpul ketidaktaatan Hawa dilepaskan oleh ketaatan Maria: apa yang diikat oleh Hawa dengan ketidakpercayaannya, dilepaskan oleh Maria karena imannya” (dari Adv. haeres 3.22.4, oleh Irenaeus, uskup Lyons, 130-200 M).
Apa kunci yang dapat membuka kuasa dan anugerah kerajaan Allah dalam kehidupan pribadi kita? Yang pasti adalah Iman dan ketaatan! Ketika Adam dan Hawa tidak taat kepada Allah, mereka segera mengalami akibat dari tindakan mereka – keterpisahan dari Allah yang mengasihi mereka. Allah dalam rahmat-Nya menjanjikan kepada mereka seorang Penebus yang akan menebus dosa mereka dan dosa dunia. Kita melihat penyingkapan yang luar biasa dari rencana penebusan Allah dalam peristiwa-peristiwa menjelang Inkarnasi, kelahiran Mesias. Jawaban “ya” dari Maria terhadap pesan ilahi adalah model iman bagi semua orang percaya. Maria percaya janji Tuhan bahkan ketika hal itu tampak mustahil. Dia penuh dengan kasih karunia karena dia percaya bahwa apa yang Tuhan katakan itu benar dan akan digenapi. Dia bersedia dan taat untuk melakukan kehendak Tuhan, meskipun itu tampak sulit dan mustahil.
Tuhan memberi kita rahmat untuk dapat mengatakan “ya” pada kehendak-Nya dan karya transformasi-Nya dalam hidup kita. Ia memberi kita rahmat dan mengharapkan kita untuk menanggapi dengan kehendak bebas, ketaatan, dan kepercayaan hati yang sama seperti yang dilakukan Maria. Ketika Tuhan memerintahkan, Ia juga memberikan rahmat, kekuatan, dan sarana untuk menanggapi. Kita bisa memilih untuk berserah pada kasih karunia-Nya atau menolak dan menempuh jalan kita sendiri. Percayakah anda pada janji-janji Allah? Apakah anda berserah pada kasih karunia-Nya?
Setiap ibu tentu menghendaki agar anak-anaknya mewarisi kebaikannya. Demikian juga Ibunda Surgawi kita menginginkan kita semua anak-anaknya kudus, murni dan taat. Mari kita hormati dia dengan menghidupi keutamaan-keutamaan iman dan ketaatannya. Allah juga telah memperlengkapi kita dengan kasih karunia untuk melaksanakan perintah-Nya: mengasihi Dia dan sesama.
Bapa Surgawi, Engkau mengaruniakan kepada kami rahmat, belas kasihan, dan pengampunan yang melimpah melalui Putra-Mu, Tuhan kami Yesus Kristus. Bantu kami untuk menjalani kehidupan yang penuh rahmat seperti yang dilakukan oleh Maria dengan percaya pada janji-janji-Mu dan dengan menjawab “ya” tanpa syarat terhadap kehendak dan rencana-Mu.
