Remah Harian

PEKA MEMBACA TANDA-TANDA

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Jumat, 25 November 2022, Jumat Pekan Biasa XXXIV
Bacaan: Why. 20:1-4,11 – 21:2Mzm. 84:3,4,5-6a,8aLuk. 21:29-33.

Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah, bahwa Kerajaan Allah sudah dekat.”

(Luk 21: 29 – 31)

Ketika orkestra suara tonggeret (garengpung, cenggeret, nyenyeng, rie-rie) mulai terdengar nyaring orang akan tahu bahwa musim kemarau akan segera tiba. Munculnya serangga dengan suara nyaring itu menjadi pertanda peralihan musim. Peralihan musim juga nampak pada pepohonan seperti yang ditunjukkan oleh Yesus dalam Injil hari ini.  “Perhatikan pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat,” (Luk 21: 29 – 30). Melalui perumpamaan pendek tentang pohon ara itu Yesus mengajak pendengar-Nya untuk peka melihat tanda-tanda, dan mempunyai sikap siap sedia. Tanda-tanda itu menunjukkan kedatangan, kehadiran, dan kuasa Kerajaan Allah.

Saat ini, kepekaan untuk membaca tanda-tanda itu sangat penting. Kita terus-menerus ditantang untuk peka terhadap tanda-tanda zaman karena saat ini banyak dari kita telah mengalami disorientasi tentang apa yang sebenarnya paling penting dalam hidup. Tuhan terus-menerus mengungkapkan rencana ilahi-Nya dalam kehidupan kita sehari-hari. Yang kita butuhkan hanyalah melihat segala sesuatu dengan mata iman. Sedih untuk mengatakan bahwa persepsi kita sebagian besar menjadi kabur dengan materi, uang dan keinginan kita. Kita telah disibukkan dengan, dan diliputi oleh apa yang ditawarkan dunia kepada kita. Hal itu menciptakan distorsi dalam kesadaran rohani kita.

Untuk memahami kehendak Bapa, Yesus mengajak murid-murid-Nya untuk peka terhadap kenyataan di sekitar mereka. Tuhan berbicara kepada kita setiap saat sepanjang hari: melalui sapaan hangat dan doa dari seseorang yang peduli pada kita, melalui orang asing yang kita temui, melalui orang malang yang membutuhkan uluran tangan kita, melalui bagitu banyak peristiwa hidup.

Sayangnya, kehadiran Tuhan di mana-mana tidak kita rasakan mungkin karena kita tidak meluangkan cukup waktu bagi-Nya. Banyak dari kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam di depan televisi [apalagi sedang “musim” Piala dunia] dan browsing internet di handphone tetapi tidak bisa meluangkan waktu satu menit untuk berdoa. Sangat ironis untuk menyadari bahwa Tuhan telah memberi kita 168 jam setiap minggu. Tetapi beberapa dari kita bahkan tidak mau memberi Yesus satu jam pun selama Ekaristi Kudus hari Minggu. Hidup hanya sekali; kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu kita, tetapi maksimalkan pada hal yang paling penting: sang SABDA yang kekal.

Author

Write A Comment