Remah Harian

HANCURNYA BAIT SUCI

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Selasa, 22 November 2022, Selasa Pekan Biasa XXXIV, Peringatan St. Secilia
Bacaan: Why. 14:14-20Mzm. 96:10,11-12,13Luk. 21:5-11

“Ketika beberapa orang berbicara tentang Bait Allah dan mengagumi bangunan itu yang dihiasi dengan batu yang indah-indah dan dengan berbagai-bagai barang persembahan, berkatalah Yesus: “Apa yang kamu lihat di situ?akan datang harinya di mana tidak ada satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.”

(Luk 21: 5 – 6)

Dalam perikop Injil hari ini kita jumpai Yesus dan murid-muridnya berdiri di depan bait suci Yerusalem. Beberapa murid-Nya berkomentar tentang keindahan bait suci, bagaimana bait suci itu dihiasi dengan batu-batu yang indah dan dengan persembahan-persembahan untuk Tuhan. Melihat bait suci yang megah itu Yesus bernubuat: “Apa yang kamu lihat di situ?akan datang harinya di mana tidak ada satu batupun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.” Memang nubuat itu terpenuhi ketika orang Romawi akhirnya menyerang dan menghancurkan bait suci sepenuhnya. Bahkan sekarang setiap orang Yahudi yang saleh menangis dan meratap di depan batu fondasi yang tersisa di lokasi bait suci. Ini adalah pemandangan yang menyedihkan ketika kita mengunjungi Yerusalem saat ini.

Bait suci Yerusalem adalah ikon kebanggaan Yahudi dan pusat identitas agama Yahudi. Itu tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga merupakan pusat kekuasaan Yahudi pada zaman Yesus. Itu adalah tempat yang paling dihormati di mata setiap orang Yahudi. Di situlah Yahweh berdiam di antara umat-Nya. Setiap orang Yahudi di mana pun dia berada akan menghadap ke sana dalam doa. Setiap orang Yahudi harus berziarah ke Yerusalem karena itu adalah kota Tuhan dan berisi Bait-Nya – tahta Tuhan. Nama-nama besar dalam sejarah Yahudi, Daud, Salomo, dan banyak nabi besar dikaitkan dengannya. Hancurnya bait suci Yerusalem berarti hancurnya segala sesuatu yang dianggap hebat dan dibanggakan oleh orang Yahudi yang saleh.

Dalam konteks ini nubuat yang diucapkan Yesus sangat mengerikan. Itu bukanlah sesuatu yang dapat dicerna dengan mudah oleh seorang Yahudi yang saleh. Namun, tetap saja Yesus mengucapkan nubuat yang dapat dianggap menghujat bait Allah. Apa yang membuatnya berkata demikian? Hal ini mengingatkan kita pada perbedaan dalam cara Allah dan cara manusia memandang sesuatu. Murid-murid melihat bangunan yang megah dan mengesankan itu dan mereka takjub akan kemegahannya. Marmer terbaik, kayu terbaik, ukiran besar, dan dekorasi terindah yang dipersembahkan kepada Tuhan menjadikannya salah satu bangunan keagamaan terbaik yang pernah dibangun. Raja Salomo membawa hal-hal terbaik yang tersedia pada masanya dari seluruh dunia untuk pembangunannya.

Mata manusia mengembara pada keindahan material. Kita biasa terpikat oleh keindahan dan kemegahan luaran. Perhatian kita ada di luaran. Tapi mata Tuhan tertuju pada bagian dalam, apa yang ada di dalam. Dia melihat apa yang terjadi di dalam. Di dalam kemegahan bait suci yang paling indah secara lahiriah terkandung penipuan paling kotor oleh para imam. Keserakahan, manuver politik, perebutan kekuasaan dan kehidupan mewah yang dipimpin oleh kelas atas bait suci dengan mengorbankan orang miskin. Itu adalah hal yang keji di mata Tuhan. Yang kudus kehilangan kesuciannya. Ketika bangunan suci kehilangan kekudusannya, ia hanya menjadi sebuah monumen.

Kita pun diciptakan untuk maksud-maksud dan tujuan yang suci. Seperti kata Santo Paulus, kita adalah bait Allah. Tubuh kita adalah tempat tinggal Roh Kudus. Kita harus meluangkan waktu sejenak dan merenungkan, apa yang sebenarnya terjadi di dalam bait “suci” kita. Apakah melayani tujuan Allah menciptakan kita? Atau sudah menjadi sarang pengkhianatan dan kejahatan? Kita mungkin dapat menyembunyikan virus jahat yang tersembunyi di dalam hati kita dari mata orang-orang, tetapi mata Tuhan lebih tajam dan tak ada sesuatupun yang tersembunyi dari-Nya. Jika kita tidak memenuhi tujuan “pembangunan” bait suci kita ini, akhir tragis yang sama akan terjadi pada kita juga. Nubuat Yesus tentang bait suci juga berlaku bagi kita.

Santa Sesilia, Perawan dan Martir

St. Sesilia

Hari ini, 22 November, kita peringati St. Sesilia. Cerita-cerita mengenai Sesilia kurang pasti dan jelas. Dalam buku ‘Acta’ (Cerita Kuno) yang berbau legenda, diceritakan bahwa Sesilia adalah seorang gadis Roma yang telah menjadi Kristen. Ia, puteri bangsawan dari suku bangsa Coesilia, suku terkenal yang menghasilkan banyak pemimpin serta delapanbelas orang konsul untuk Republik Roma pada masa itu. Konon semenjak kecil ia telah berikrar kepada Allah untuk hidup suci-murni dan tidak menikah. Namun ketika sudah dewasa, orang-tuanya mempertunangkan dia dengan Valerianus, seorang pemuda yang berhati mulia dan jujur tetapi masih kafir.

Sebagai anak yang sudah menjelang dewasa, ia cukup bijaksana menghadapi ulah orang-tuanya. Ia tidak menoIak kehendak orang tuanya, kendatipun dalam hatinya ia terus berupaya mencari jalan bagaimana cara ia tetap mempertahankan ikrar kemurniannya. Ia yakin bahwa Tuhan yang Mahakuasa akan membantunya dalam niatnya yang baik itu. Dengan keyakinan itu, imannya tidak goyah sambil tetap menghormati kedua orang-tuanya. Ketika hari perkawinannya tiba, maka Sesilia mengikuti upacara sambil berdoa dan menyanyikan lagu-lagu rohani; sementara itu para tamu sudah datang dan bunyi musik pun sudah ramai terdengar. Seusai pesta perkawinan itu, ia bersama Valerianus memasuki kamar mereka sebagai suami-isteri.

Dengan berani Sesilia berkata kepada suaminya Valerianus: “Valerianus! Aku mau menceritakan kepadamu suatu rahasia pribadi. Aku mohon engkau mendengarkannya dengan sepenuh hati dan tetap menerima aku sebagai isterimu. Engkau harus tahu bahwa aku mempunyai seorang malaekat yang selalu menjaga aku. Jika engkau berani menyentuh aku sebagaimana biasanya dilakukan oleh suami-isteri yang sudah menikah secara resmi, maka malaekat itu akan marah dan engkau akan menanggung banyak penderitaan. Tetapi jika engkau menghormati keperawananku, maka malaekat pelindungku itu akan mencintai emgkau sebagaimana dia mencintai aku.”

Kata Valerianus: “Tunjukkanlah malaekat itu kepadaku. Jika ia berasal dari Tuhan maka aku akan mengikuti kemauanmu.” Jawab Sesilia: “Jika engkau percaya dan mau dibaptis menjadi Kristen, engkau akan melihat malaekat itu.” Valerianus menyetujui usul Sesilia, isterinya. Ia disuruh menghadap Paus Urbanus, yang tinggal di Jalan Apia. Di sana ia mengalami suatu penampakan ajaib dan mendapat pengetahuan iman lalu ia bertobat dan dipermandikan oleh Paus Urbanus. Ketika ia kembali ke rumah, didapatinya Sesilia sedang berdoa didampingi seorang malaekat yang membawa 2 mahkota bunga: untuk Sesilia dan Valerianus. Valerianus sangat terharu menyaksikan peristiwa itu. Dengan itu apa yang dikehendakinya terpenuhi: ia melihat sendiri malaekat pelindung Sesilia, isterinya.

Pada waktu itu Kaisar Roma Diokletianus sedang giat mengejar dan menganiaya umat Kristen. Dengan rajin Sesilia dan Valerianus setiap hari menguburkan jenazah orang-orang Kristen yang dibunuh. Valerianus kemudian tertangkap dan dihukum mati bersama adiknya dan seorang tentara Romawi yang bertobat. Tak lama kemudian Sesilia juga ditangkap dan diadili. Ia menolak dengan tegas bujukan para penguasa. Maka ia disiksa dengan bermacam-macam cara, tetapi semuanya itu sia-sia saja. Akhirnya dia dipenggal lehernya dan wafat sebagai martir Kristus pada tahun 230.

Keberaniannya menghadapi kemartirannya membuat Sesilia tampil sebagai contoh gadis Kristen sejati, yang menjadikan hidupnya suatu madah pujian bagi Tuhan; ia dengan tegas dan gembira memilih keperawanan dan lebih senang mati daripada menyangkal cinta setianya kepada Kristus. Kemartirannya membuat banyak orang Roma bertobat dan mengimani Kristus. Dalam abad kelima di Roma didirikan sebuah gereja basilik untuk menghormatinya, dan devosi-devosi rakyat segera mengangkatnya sebagai pelindung paduan suara dan musik gerejawi.

Author

Write A Comment