Remah Harian

TERGOPOH-GOPOH

Pinterest LinkedIn Tumblr

Sabda Hidup

Jumat, 26 Agustus 2022, Jumat Pekan Biasa XXI
Bacaan: 1Kor. 1:17-25Mzm. 33:1-2,4-5,10ab,11Mat. 25:1-13.

“Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya.”

(Mat 25: 13)

Kita mungkin ingat masa-masa kita kuliah, kita kenal Satuan Kredit Semester, atau disingkat SKS, dimana mahasiswa dimungkinkan memilih sendiri mata kuliah yang akan diambil dalam satu semester. SKS digunakan sebagai ukuran besarnya beban studi mahasiswa, besarnya pengakuan atas keberhasilan usaha belajar mahasiswa, besarnya usaha belajar yang diperlukan mahasiswa untuk menyelesaikan suatu program, dan besarnya usaha penyelenggaraan pendidikan bagi tenaga pengajar. Dengan cara itu tentu diharapkan penyelenggaraan perkuliahan dapat memberi output yang maksimal. Tetapi tidak jarang, SKS, kemudian diplesetkan menjadi Sistem Kebut Semalam. Ketika waktu masih panjang, kecenderungan santai dan menunda lebih dominan. Ketika ujian sudah diambang pintu, atau bahkan keesokan harinya, siswa baru belajar, dikebut dalam semalam. Tentu sikap seperti itu tidaklah bijak. Dalam banyak hal, ketekunan dan persiapan yang baik, memberi potensi yang lebih besar bagi hasil yang baik.

Pesan Injil hari ini juga menyadarkan kita akan perlunya ketekunan dan persiapan yang baik untuk menyambut kedatangan Tuhan. Perumpamaan tentang 10 gadis, 5 bijaksana dan 5 bodoh, merupakan salah satu perumpamaan yang menggambarkan tegangan dalam menantikan kedatangan Yesus yang kedua (paroisua), atau akhir jaman.

Perumpamaan itu dikisahkan dalam tradisi perkawinan setempat pada waktu itu. Pada akhir masa pertunangan, mempelai pria, bersama dengan sahabat-sahabatnya akan melaksanakan prosesi ke rumah mempelai perempuan. Kemudian, mempelai wanita, bersama dengan sahabat-sahabatnya akan bergabung dalam prosesi kembali ke rumah mempelai pria untuk perjamuan nikah. Ketika petang hari tiba, lampu-lampu atau pelita amatlah penting. Masalah terjadi ketika lima dari sepuluh yang bertugas menyongsong mempelai laki-laki tidak membawa persediaan minyak yang cukup untuk pelita mereka. Maka, di waktu yang mendesak itu, mereka tergopoh-gopoh meninggalkan rombongan untuk membeli tambahan minyak. Malang bagi mereka, karena mereka terlambat untuk menjemput mempelai pria dan tertinggal. Pintu sudah dikunci, dan akibatnya, mereka tidak dapat masuk dalam perjamuan nikah itu.

Pesannya jelas. Kedatangan Yesus, Sang Mempelai Ilahi tak tak dapat diperkirakan. Diperlukan kesiapsediaan untuk menyambut-Nya.

Willian Barclay, seorang teolog dari Skotlandia, dalam penafsiran tentang perumpamaan ini mengingatkan dua hal penting:

  1. Banyak hal tidak dapat kita dapatkan secara instan, tetapi memerlukan waktu. Sesuatu yang dikerjakan buru-buru tentu tidak akan memberikan hasil yang maksimal. Demikian juga dalam menghidupi iman, diperlukan ketekunan dari hari ke hari. Diperlukan kesiap-sediaan dan kewaspadaan dari hari ke hari.
  2. Banyak hal tidak dapat kita pinjam. Kita tidak dapat meminjam hubungan dengan Tuhan. Kita tidak dapat meminjam kekudusan orang lain. Kita tidak dapat meminjam keutamaan hidp. Yang akan diperhitungkan adalah bagaimana kita secara pribadi menjalin hubungan dengan Tuhan dan sesama, bagaimana kita membangun kekudusan, bagaimana kita membangun keutamaan hidup

Semua itu membutuhkan proses. Tidak semudah memasak mie sedaap. Perlu ketekunan dan kesetiaan dari hari ke hari, dari waktu ke waktu. “Karena itu berjaga-jagalah!” kata Yesus. Berjaga-jaga bukan berarti menanti dan tidak berbuat apa-apa, atau bersikap waspada supaya tidak “terciduk” saat berbuat dosa. Berjaga-jaga adalah berbuat baik setiap waktu, entah diawasi atau tidak, entah mendapat ganjaran atau tidak. Kita berbuat baik karena “dari sono-nya” kita adalah baik. Bukankah kita dicipta seturut gambar Allah yang Mahabaik?

Yesus menghendaki komitmen terus menerus dalam mengikuti Dia. Bagaimana komitmen kita? Apakah kita setia dan selalu siap sedia?

Author

Write A Comment